Selasa, 27 April 2010

Mu'ayYad..

Sekiranya anda tidak meneruskan membaca, hanya sekedar membaca judulnya saja. Hmmm.. ada sekian kemungkinan anda akan mencoba meraba maksud dari kata tersebut. Kata berbahasa Arab tentunya, jika 'Kata Bahasa Arab' yang anda tangkap pertama kali lantas anda akan meraba-raba apa maknanya. Jika anda merasa ingat, akan terus mencecarnya sampai ingat. Jikalaupun anda tidak menemukan dari ingatan apa arti dari kata Mu'ayyad, setidaknya anda akan berujar 'Au Ah gelap'!!

Hmmm... kemungkinan lainnya yang ada di benak anda. Nama seseorang Muslim, laki-laki, berakal (kayak syarat syah puasa aj..), tentunya ini nama yang jarang dipakai para orang tua untuk anak mereka. Karena asumsinya, nama Mu'ayyad 'gak Nendang'. Kalaupun nama ini disematkan pada nama orang, paling tidak akan menjadi nama samaran/alias teroris. Segar diingatan, ketika penyergapan oleh Densus 88 kepada teroris. Disiarkan di TV nasional, 'Pemirsa rumah yang ditempati oleh teroris yang telah menjadi buronan polisi bernama Sutikno alias Suja'ien alias Abu Jahal alias MU'AYYAD telah dilumpuhkan'.

Mu'ayyad, bagi sebagian mahasiswa IAIN Sunan Ampel dan masyarakat yang berdomisili di sekitar Wonocolo tentu tidak asing. Karena ini adalah nama mesjid, mesjid yang bercokol dekat kost saya. Mesjid yang sedang mempercantik dirinya, yang beberapa tahun belakang 'mengemis' kepada pengguna jalan yang melewati mesjid ini.

Bagi masyarakat yang homogen, sebuah mesjid tentu dapat dengan mudah dikenali. Apakah ini mesjidnya NU, atau apakah itu mesjidnya Muhammadiyah. Karena letak Mu'ayyad di tengah masyarakat yang heterogen (ini Surabaya, Bung!), identitas sebuah mesjid bukanlah hal yang esensial. Tapi jikalau anda punya niatan iseng untuk sekedar pengin mengetahui identitas mesjid siapa yang 'punya'. Cobalah sholat berjamaah Shubuh di mesjid yang 'dicurigai'. Atau anda bisa menandai ini mesjid siapa, seperti yang saya perhatikan ketika pasca kematian Gus Dur lalu. Saya sengaja berjalan menyisir daerah sekitar saya yang berdiri beberapa mushalla dan mesjid. Dengan mudahnya saya temukan, mana yang punya 'N' dan mana yang punya 'M'. Mesjid/musholla yang tidak menyelanggarakan Tahlilan, maka itulah mesjid/musholla nya 'M'. Sangat gampang bukan, masalah kliseee!!

Kembali ke cerita Mu'ayyad, entah kenapa dan atas dorongan apa. Alhamdulillah, beberapa akhir ini saya sholat berjamaah di mesjid ini. Hari pertama, niat jama'ah tulus ikhlas (soalnya, beberapa hari sebelumnya ketika di toko buku. curi baca dari buku yang berjudul 'Rahasia Sholat Shubuh' hehe). Setiba pada rakaat terakhir setelah bangkit dari rukuk, saya baru sadar kalau ada dua gaya. Sebenarnya bukan hal yang baru bagi saya menemukan fenomena ini.

Hari kedua, oh ya sebelum kita lanjut saya ingin bercerita atau berkabar tentang bapak kost saya yang warga 'M'. Sering menjadi 'bahan' lelucon antara saya dan teman yang lain di kost (karena kita 'aktifis' PMII/oh ya tolong diperhatikan tanda kutip pada kata aktifis hehehe... tau dong PMII secara genetis merujuk pada 'N'). Nah, pada hari kedua ini saya mulai sedikit tidak khusuk. Saya sudah berniat akan mencari siapa saja jama'ah yang 'N' dan mana yang 'M'. Caranya bagaimana, (halaaah)sekali lagi ini permasalahan klise bin klasik 'Qunut'. hehe...

Kebetulan yang mengasikkan pada hari kedua ini adalah di samping saya berjejer anak pak kost dan di depan shof saya si bapak kost (bayangkan betapa sholehnya keluarga bapak kost saya, tapi pelitnya gak ketuluongan). Titik dramatisnya adalah tentu pada moment qunut. Awalnya saya tidak akan memperhatikan dan gak mau tau, karena yang saya tahu bapak kost adalah 'M' tentu dia tidak akan mengangkat tangan ketika qunut (oh ya, sekedar info Imam Sholat shubuh di mesjid Muayyad ini adalah berpaham Qunut). Secara tidak sengaja ketika melirik ke samping (anak bapak kost)dia malah mengangkat tangan sebagai tanda dia berqunut. Bagi anda mungkin bukanlah drama, bagi saya yang senang mendramatisir persoalan dan keadaan. Inilah drama, si bapak 'M' sedangkan si anak 'N'. Meski cerita ini bukanlah hal yang baru saya dengar, dalam satu keluarga ada yang berbeda.

Sebelum kita lanjut pada cerita moment yang penuh drama (versi saya), perbedaan yang lain antara 'M' dan 'N' yang saya tahu. Bagi 'N' wirid(an) dan doa bersama adalah 'budaya'. Sedangkan bagi 'M', tidak ada wirid(an) dan doa bersama, hanya urusan pribadi. Doa adalah sangat personal, karena keinginan dan harapan dalam doa tidak sama. Bahasa ekstremnya, bid'ah.

Kembali ke cerita keluarga bapak kost saya yang veteran perwira ini. Yang terjadi dan saya perhatikan, si bokap khusuk wirid(an)dan berdoa bersama sampai selesai. Sedangkan si bontot ngeluyur selesai salam. Hmmm.. sampai di sini, saya tidak perlu lagi bagaimana menyimpulkan dari cerita 'semraut' di mesjid Mu'ayyad ini.

Hari ketiga, karena saya membaca dan percaya kalau shalat sunnah ba'diyyah shubuh sangat di senangi Rasulullah. Maka berangkatlah saya secepat mungkin ke mesjid untuk berjamaah dan menyempatkan shalat sunnah ba'diyah. Entah kenapa, di tengah sholat anak bapak kost sholat sunnah di depan saya. Karena saya start duluan, tentunya finish duluan dong dari anaknya pak kost. Tanpa sengaja, saya memperhatikan bagaimana do'i sholat. Ada yang mengganggu di pikiran, ada yang salah dari cara ini orang shalat. Seminim-minimnya pengetahuan saya tentang agama, paling tidak pengetahuan cara shalat yang baik dan benar (ceileeee)punya sertifikasinyalah.

Dari moment itu, yang ada hanya dilema pada diri. Dan pada akhirnya, saya kalah dengan diri dan perasaan.

Mu'ayyad, memberi pelajaran berharga. Ternyata pengetahuan yang tidak menjadi mental juga percuma!! Semoga di lain waktu, menjadi mental sebagai kecerdasaan emosional.

2 komentar:

  1. kok masih berkutat pada "itu" dan "itu" aja seh zan...tapi okelah, yang penting berkarya.....walau agak dikit narsis dengan gaya dasar mu yang penuh intrik.hehehehehe...kapan2 ajari ya

    BalasHapus
  2. hehe.. ni kan alternatif lain saja. Yang mau lebih berat, lebih canggih, lebih posmo kan sudah banyak.

    BalasHapus