Sebenarnya apa yang menarik dari Aqidah Filsafat untuk dibicarakan? Jujur saja, seandainya tidak setengah terpaksa dan dipaksa oleh kru Forma hanya karena tidak enak untuk menolak buat penerbitan majalah Forma (kenapa kedekatan emosional kultural selalu menjadi alasan kita untuk berbuat). Mungkin anda tidak akan menikmati atau terpaksa membaca tulisan ini (anda harus membaca!karena anda telah membayar untuk ini). Sebelumnya perlu saya jelaskan, bahwa saya tidak akan menjadi penyambung lidah pihak jurusan, atau berupaya bermanis durja, atau memprovokasi tentang ‘keadaan’ yang terjadi apa adanya dan berharap ada respon positif atau negatif dari pembaca.
Disini, saya akan mencoba untuk mengajak pembaca untuk memahami Aqidah Filsafat sebagai salah satu jurusan di Fakultas Ushuluddin. Dimana, dinamika akedemis akan berlangsung. Ada beberapa elemen penting yang seolah-olah menjadi tonggak berjalannya dinamika tersebut. Mahasiswa, dosen, kurikulum (metode pembelajaran), HMJ, bagian akedemik dan Organ Ekstra (PMII, HMI, IMM, KAMMI dan LMND).
Saya mencoba mengurai beberapa yang saya anggap menarik. Pertama, Mahasiswa adalah yang menurut Wilhem Dilthey merupakan inti dari naumena yang disebut dengan Geist atau spirit (makasih! Pak Loekisno atas transformasi istilah ini). Mahasiswa menjadi hal yang penting di jurusan ini khususnya di Ushuluddin. Tidak salah, demi pemenuhan kouta banyak mahasiswa menjadi ‘korban’ yang terdampar di pulau Biru Ushuluddin. Hanya 1,00 % (jangan salah, ini Cuma satu persen koma nol nol) yang bertekad tulus untuk berada di Aqidah Filsafat. 99,00% mahasiswa lainnya adalah hasil dari sebuah ‘skenario Takdir’ via birokrat kampus. Bagi mereka, kuliah akhirnya seperti membeli kucing dalam karung. Maksudnya, awalnya mereka niat kuliah di IAIN dengan jurusan pilihannya masing-masing sesuai dengan keinginan dan cita-cita awal mereka (meskipun yang favorit masih Fak. Dakwah dan Tarbiyah). Toh nyatanya, mereka bagaikan masuk ke gerbang negeri asing. Oh ya, berkenaan dengan pernyataan di atas mahasiswa adalah spirit. Mahasiswa hanya menjadi spirit ekonomi (komiditi) bagi birokrat kampus. Bagi sebagian (terutama dosen yang menunggu masa pensiun), mahasiswa menjadi objek untuk membuang waktu sebelum ajal menjemput mereka. Tidak ada hal yang menarik yang disampaikan sewaktu kuliah.
Dosen, merupakan elemen yang penting juga di jurusan ini. Mungkin disini, saya tidak akan berteori bagaimana dosen seharusnya, sebaiknya, semestinya, atau selayaknya. Tapi saya akan memberikan beberapa laporan (macak resmi rek!) tentang beberapa dosen menurut beberapa tim dari HMJ AF yang kami bentuk. Ada seorang dosen yang sangat normatif tapi tidak rasional bagi kebanyakan teman-teman mahasiswa, dosen ini seharusnya menjadi penjaga mesjid saja. Ada lagi dosen tuwir yang cocok menjadi guru SD (Sekolah Dasar) kelas 4, ‘mari anak-anak, tulis apa yang bapak guru baca!’. Ada dosen yang sok aneh, tapi jayus. Ada dosen yang malasnya minta ampun, tapi macak berwibawa. Ya, cuma ada beberapa orang yang menurut ‘kami’ masuk kategori. Wah, kayak laporan aja!
Elemen yang lain adalah kurikulum yang perlu didiskusikan ulang. Terutama berkaitan dengan orientasi jurusan Aqidah Filsafat. Seolah-olah, ada upaya tarik menarik antara pemenuhan materi untuk Aqidah dan Filsafat. Dalam hal, titik tekan dari kurikulum Aqidah Filsafat menjadi rancu. Wah... pusing kalau diterusin dipikirkan masalah ini.
Hal terselubung yang menakutkan di jurusan ini adalah tarik menarik antar organ ekstra. Ini terkadang mempengaruhi bagaimana bersikap dengan teman. Au ahhh gelapp!!!!!
Kamis, 08 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar