Selasa, 27 April 2010
Mu'ayYad..
Hmmm... kemungkinan lainnya yang ada di benak anda. Nama seseorang Muslim, laki-laki, berakal (kayak syarat syah puasa aj..), tentunya ini nama yang jarang dipakai para orang tua untuk anak mereka. Karena asumsinya, nama Mu'ayyad 'gak Nendang'. Kalaupun nama ini disematkan pada nama orang, paling tidak akan menjadi nama samaran/alias teroris. Segar diingatan, ketika penyergapan oleh Densus 88 kepada teroris. Disiarkan di TV nasional, 'Pemirsa rumah yang ditempati oleh teroris yang telah menjadi buronan polisi bernama Sutikno alias Suja'ien alias Abu Jahal alias MU'AYYAD telah dilumpuhkan'.
Mu'ayyad, bagi sebagian mahasiswa IAIN Sunan Ampel dan masyarakat yang berdomisili di sekitar Wonocolo tentu tidak asing. Karena ini adalah nama mesjid, mesjid yang bercokol dekat kost saya. Mesjid yang sedang mempercantik dirinya, yang beberapa tahun belakang 'mengemis' kepada pengguna jalan yang melewati mesjid ini.
Bagi masyarakat yang homogen, sebuah mesjid tentu dapat dengan mudah dikenali. Apakah ini mesjidnya NU, atau apakah itu mesjidnya Muhammadiyah. Karena letak Mu'ayyad di tengah masyarakat yang heterogen (ini Surabaya, Bung!), identitas sebuah mesjid bukanlah hal yang esensial. Tapi jikalau anda punya niatan iseng untuk sekedar pengin mengetahui identitas mesjid siapa yang 'punya'. Cobalah sholat berjamaah Shubuh di mesjid yang 'dicurigai'. Atau anda bisa menandai ini mesjid siapa, seperti yang saya perhatikan ketika pasca kematian Gus Dur lalu. Saya sengaja berjalan menyisir daerah sekitar saya yang berdiri beberapa mushalla dan mesjid. Dengan mudahnya saya temukan, mana yang punya 'N' dan mana yang punya 'M'. Mesjid/musholla yang tidak menyelanggarakan Tahlilan, maka itulah mesjid/musholla nya 'M'. Sangat gampang bukan, masalah kliseee!!
Kembali ke cerita Mu'ayyad, entah kenapa dan atas dorongan apa. Alhamdulillah, beberapa akhir ini saya sholat berjamaah di mesjid ini. Hari pertama, niat jama'ah tulus ikhlas (soalnya, beberapa hari sebelumnya ketika di toko buku. curi baca dari buku yang berjudul 'Rahasia Sholat Shubuh' hehe). Setiba pada rakaat terakhir setelah bangkit dari rukuk, saya baru sadar kalau ada dua gaya. Sebenarnya bukan hal yang baru bagi saya menemukan fenomena ini.
Hari kedua, oh ya sebelum kita lanjut saya ingin bercerita atau berkabar tentang bapak kost saya yang warga 'M'. Sering menjadi 'bahan' lelucon antara saya dan teman yang lain di kost (karena kita 'aktifis' PMII/oh ya tolong diperhatikan tanda kutip pada kata aktifis hehehe... tau dong PMII secara genetis merujuk pada 'N'). Nah, pada hari kedua ini saya mulai sedikit tidak khusuk. Saya sudah berniat akan mencari siapa saja jama'ah yang 'N' dan mana yang 'M'. Caranya bagaimana, (halaaah)sekali lagi ini permasalahan klise bin klasik 'Qunut'. hehe...
Kebetulan yang mengasikkan pada hari kedua ini adalah di samping saya berjejer anak pak kost dan di depan shof saya si bapak kost (bayangkan betapa sholehnya keluarga bapak kost saya, tapi pelitnya gak ketuluongan). Titik dramatisnya adalah tentu pada moment qunut. Awalnya saya tidak akan memperhatikan dan gak mau tau, karena yang saya tahu bapak kost adalah 'M' tentu dia tidak akan mengangkat tangan ketika qunut (oh ya, sekedar info Imam Sholat shubuh di mesjid Muayyad ini adalah berpaham Qunut). Secara tidak sengaja ketika melirik ke samping (anak bapak kost)dia malah mengangkat tangan sebagai tanda dia berqunut. Bagi anda mungkin bukanlah drama, bagi saya yang senang mendramatisir persoalan dan keadaan. Inilah drama, si bapak 'M' sedangkan si anak 'N'. Meski cerita ini bukanlah hal yang baru saya dengar, dalam satu keluarga ada yang berbeda.
Sebelum kita lanjut pada cerita moment yang penuh drama (versi saya), perbedaan yang lain antara 'M' dan 'N' yang saya tahu. Bagi 'N' wirid(an) dan doa bersama adalah 'budaya'. Sedangkan bagi 'M', tidak ada wirid(an) dan doa bersama, hanya urusan pribadi. Doa adalah sangat personal, karena keinginan dan harapan dalam doa tidak sama. Bahasa ekstremnya, bid'ah.
Kembali ke cerita keluarga bapak kost saya yang veteran perwira ini. Yang terjadi dan saya perhatikan, si bokap khusuk wirid(an)dan berdoa bersama sampai selesai. Sedangkan si bontot ngeluyur selesai salam. Hmmm.. sampai di sini, saya tidak perlu lagi bagaimana menyimpulkan dari cerita 'semraut' di mesjid Mu'ayyad ini.
Hari ketiga, karena saya membaca dan percaya kalau shalat sunnah ba'diyyah shubuh sangat di senangi Rasulullah. Maka berangkatlah saya secepat mungkin ke mesjid untuk berjamaah dan menyempatkan shalat sunnah ba'diyah. Entah kenapa, di tengah sholat anak bapak kost sholat sunnah di depan saya. Karena saya start duluan, tentunya finish duluan dong dari anaknya pak kost. Tanpa sengaja, saya memperhatikan bagaimana do'i sholat. Ada yang mengganggu di pikiran, ada yang salah dari cara ini orang shalat. Seminim-minimnya pengetahuan saya tentang agama, paling tidak pengetahuan cara shalat yang baik dan benar (ceileeee)punya sertifikasinyalah.
Dari moment itu, yang ada hanya dilema pada diri. Dan pada akhirnya, saya kalah dengan diri dan perasaan.
Mu'ayyad, memberi pelajaran berharga. Ternyata pengetahuan yang tidak menjadi mental juga percuma!! Semoga di lain waktu, menjadi mental sebagai kecerdasaan emosional.
Senin, 26 April 2010
Suatu waktu aku...
Tentang masa depan adalah langit
“Percayalah padaku! dari sepanjang hari ini.. peluhku tlah melepuh dengan debu. Tapi sisa malam nanti, sisa peluh yang ku punya dan aku yakin adalah istimewa, karena ada seliut purnama dan segaris angin malam menderu padanya. akan aku sisakan untukmu.. dan juga hanya untukMu..”
Dan sekarang adalah bumi
“Sekarang,di potongan garis kecil aku brdiri. Grand Canyon. aku mengadah,menantang Purnama lantas brteriak 'Kembalikan Keabadiaanku yg kau curi' dan aku cicipi mata syahdu yg ku dapat dr brburu di belantara Niagara. kini.., aku orgasme, ..”
bagiku masa lalu adalah
Angin yang berlalu dan membawa sisa tanda tentang diriku
“datanglah kenangan, jemput aku dalam idealisme imaji..”
Aku pernah berujar pada bayang Jibril
"Lihat aku, aku ringkuh dalam ketakutan
dan ringkih dalam ketidakpastian
dan retak dalam distraksi realita"
Aku juga pernah marah terhadap Mikail
".. ku tak mampu brSumpah layakny Jibril yg utuh, krn tinta iblis masih mengalir syahdu di Nadiku. tapi ku akan selalu mencoba untukNya.."
Aku juga pernah berbisik di telinga Malik dan membujuknya untuk mengembalikan secarik janji pada Lucifer
“Saat ni,Lucifer mencuri jubah jibriel ntuk dtukar dengan bintang Xibalba. katanya, buat bara neraka. Jadi jangan kau ganggu dia!!”
Aku juga pernah mencuri sayap dan terompet Isrofiel untuk meyakinkan perempuanku, ketika di suatu senja sebelumnya mata sayunya berujar keras
'aku ragu,busur arjunamu mampu menyelamatkan cinta kita kelak'.
dengan tenang ku jawab
'sabar saja, ku masih punya cincin Sulaiman yang aku temukan dari reruntuhan istana Siti Balqis!'
Ku hanya bertutur, sebelum waktu menarik jiwaku...
Ibu ku .....
Kelinglungan Mata Hatiku
Kejumudan Mata Mindaku
Kaulah wanita mulia yang ku tahu
Air matamu durhakaku
Air mataku kasih sayangmu
Wajahmu cantik rupawan
tapi...
Kesabaran dan ketabahanmu
Adalah bidadari jiwaku
Kekerasan realitas kau hadapi dengan kehalusan hatimu
i love you Mom!!
Cerita Tentag Warung Kopi
Warung kopi dan budaya lisan, sepertinya sangat erat dengan keseharian kita sebagai bangsa Indonesia. Anda akan menemukan warung kopi di manapun di negeri ini. Meski menu yang dijual tidak tertumpu hanya pada minuman kopi. Ada banyak jenis minuman rakyat dapat anda temukan di warung kopi. Berbicara mengenai harga, anda jangan khawatir dengannya, pasti akan menjangkaunya. Karena warung kopi yang kita bicarakan, bukanlah warung kopi kelas elit semacam 'Coffee Bean', Espresso atau 'Starbucks'. Tentunya, anda tidak perlu dipusingkan dengan jenis-jenis kopi yang aneh-aneh dan terasa mengada-ada. Sebagaimana yang kita dengar atau lihat di iklan untuk toko-toko 'franchise' tersebut. Hadirnya mereka di tengah-tengah 'peradaban kita' sekedar memenuhi gengsi orang berduit.
Warung kopi sebagaimana yang saya singgung di awal tulisan, adalah media 'silaturrahim'. Arus informasi dengan level sepele berinteraksi dengan tidak kalah cepat dengan portal berita di internet. Tentunya disesuaikan dengan penghuni tetap (pelanggan)di warung tersebut. Dinamika yang menarik dibandingkan dengan 'warung kopi' kelas kantong celana penuh, di warung kopi kelas teri ini tidak ada jarak antara satu dengan lainnya. Anda dapat merespon dengan cepat (nyeletuk)obrolan orang lain tanpa merasa mengabaikan sopan santun. Karena keakraban tanpa diprogram telah terbangun sendiri.
Saya hanya membayangkan (karena tidak pernah mengalaminya langsung) apa yang terjadi di warung kopi kelas kakap. Ada jarak, antar meja pelanggan yang satu dengan yang lainnya. Mungkin karena pelanggan yang datang dari kelompok dan 'kepentingan' berbeda. Objek pembicaraan juga pastinya beda, meski anda menguping pembicaraan meja di sebelah anda. Dan anda 'gatal' untuk merespon pembicaraan, alam bawah sadar anda akan melarang anda. Karena anda akan dihakimi: 'siapa elooo???'!! berhati-hatilah hehe...
Hemmm, mungkin perbedaan suasana (di) warung kopi sebaimana saya tuturkan di atas hanya akan anda temukan di kota besar seperti di surabaya. Antara warung kopi di Mall dan warung kopi di pinggiran Surabaya.
Agar anda tahu, warung kopi langganan saya di Surabaya sini adalah warung Bonek (Ahong). Nama warung yang disematkan atas kepemilikan terhadap warung. Bagi saya, warung kopi awalnya adalah 'jeda'. Ruang yang sengaja saya sisihkan dari rutinitas kuliah dan aktifitas organisasi intra dan ekstra. Bercanda, 'ngintrik', membicarakan isu nasional (prekitiww), wacana, program organisasi, tugas kuliah dll.
Awalnya jeda lambat laun menjadi rutinitas semu yang tanpa sengaja saya bangun sendiri di bawah alam sadar. Kalo tidak ngantor (ke warung kopi), terasa ada yang kurang dari hidup. hehe...
Jarak tempuh ke warung bonek dari kost, saya harus menyisihkan waktu 5-10 menit dengan jalan kaki (+_ 300 meter). Bayangkan kalau satu hari 2 kali ke kantor, anda hitung sendiri berapa jarak yang harus saya lalui satu minggu, bulan dan tahun. Bagi teman, saya aneh orangnya. Ngekost jauh dari 'peradaban', bagi saya itu adalah tantangan.. hehe
Jarak tempuh yang sekian meter tersebut,kalau ada teman yang membarengi ke kantor. Selalu kita isi dengan pembicaraan yang tidak tentu. Komentar sesuatu dan sesiapun kita temui di jalan. Suatu waktu, saya dan teman (yang akhirnya ada dua teman yang mengikuti jejak saya (Samin dan Raidong), satu kost)ketika perjalanan ke pusat peradaban 'kantor'. Namanya Samin anak Indramayu, teman satu kosma dan sekarang satu kost. 'Min, kurang lebih empat tahun kita bolak balik ngopi. seandainya waktu yang kita habiskan 4 jam sehari dikalikan saja berapa waktu yang terbuang' aku berceloteh. Samin menyahut, "emang kenapa?". "Bayangkan min, 4 jam minimal kita di warung kopi ngomong ngalur ngidul dikalikan empat tahun, jika dihabiskan waktu tersebut dengan membaca buku mungkin udah bisa jadi professor di kampus".. Samin temanku hanya tertawa mendengar obrolan sampah saya ke kantor tersebut.
Percayalah, tidak semuanya yang sering ngopi di warung kopi mendapat efek negatif. Ada teman yang dengan sangat serius (aku ragu dengan ni teman, apa dianya lugu atau emang goblok hehe) melakukan pengakuan (sebagaimana orang yang melakukannya di bilik pengakuan dosa). Dia melakukannya sepertinya dengan sangat tulus, faktanya dia mendapatkan hal yang sangat positif ketika menjadi aktifis warung kopi. Maklumlah, dia membandingkan dengan teman-temannya yang di asrama mahasiswa (Mahasiswa Study internasional yang mendapatkan bea siswa).
Terlepas dari kontroversi (ceillee maksa kesannya) antara positif dan negatif menjadi aktifis warung kopi. Warung kopi adalah ruang bagi bermacam alasan, tempat budaya lisan sangat kental akan anda temui.... Mari bersulag, meski gelasnya isi kopi!!! hehehe...
Ohh......Yunani.....!!!!!!
‘Arche’ sebagai materi pertama, adalah adikarya penemuan orang Yunani bagi peradaban seluruh bangsa yang tetap lestari dan perubahannya hingga jaman sekarang. Disini, orang Yunanilah yang mampu memikirkan dan memadukan apa itu sebuah benda (materi). Pada benda ini kemudian dimasukkan unsur-unsur metafisika, psikologisnya, dicarikan epistemologinya, dimantapkan ontologisnya dan diwariskan menjadi tradisi intelektual yang elegan.
Pra Sokrates; segala benda ditemukan karakteristiknya baik jenis dan sifatnya. Tradisi ini terus berkembang pada masa Sokrates dengan peletakan metode yang tepat dan membincangkan sesuatu dengan kebenaran setiap orang. Pada masa Plato sedikit demi sedikit dimatangkan dengan pembahasan pada menggabungkan karakteristik benda yang telah lebih dulu digagas pada Pra Sokrates dengan kemampuan instrumen matematika sebagai sebuah metode dengan cara berdialektika yang tepat.
Hadirnya Plato dengan segala buah pemikiran dan karya yang dia wariskan, dalam perjalanannya menyisakan dinamika sejarah tanpa henti. Ini tentunya ketika pemikiran bukanlah sebuah sistematika yang baku, tidak menjadi kata benda ‘objek’. Karena pemikiran (karya) adalah sebagai produk yang secara terus menerus berproses. Ketika proses terjadi dengan dinamika yang bersifat futuristik (organik) dia akan mengalami reorganisasi terus menerus. Dinamika tentunya akan mengemas produk pemikiran menjadi lebih otonom, siapa saja boleh memberikan interpretasi yang bertanggung jawab. Akhirnya, filsafat dan pemikiran adalah perjuangan tanpa henti.
Dus, pemikiran adalah sebuah produk yang selalu berproses, tentunya dia akan terus berkembang. Perkembangan ini tidak pada hal yang positif tetapi lebih pada hal negatif yang kita sebut sebagai kritik (tidak pada penyangkalan). Pada posisi yang tentatif inilah dinamika pemikiran tidak akan pernah selesai, selalu akan menimbulkan bias. Hal ini tentunya positif karena ada proses dinamika.
Nah, sekarang kita kembali ke Plato. Plato abadi (adanya dinamika tadi) karena Aristoteles berupaya membangun dialektika. Murid Plato ini berupaya mengisi celah (mengkritik) yang ditinggalkan gurunya tersebut dengan memadukan antara idealisme dan realisme. Karena dia memandang Plato terlalu lemah dengan ide-ide bayangannya (konsep), Aristoteles lebih cenderung menggunakan ide-ide konkret (vision of cosmos). Disini logikanya Aristoteles tampak lebih baru; dia memakai dualisme Plato yang dibalikkan. Materii dan rohani, yang penting materi baru substansi yang dicoba untuk diverifikasi (bukan berarti dia ilmuwan).
Sedikit kesimpulan, dari Thales hingga Aristoteles mewariskan semangat pencerahan (rasionalisasi yang tinggi) pada tahap awal yaitu akal (hitung-menghitung dan logika) dan budi (budidaya). Kedua, sudah mulai dikenal pemisahan (epistemologi) ilmu dan terakhir material, yang ditawarkan menjadi isu-isu abadi (misalnya: keindahan, kebaikan, kebenaran, kebajikan dll.). Sekian!!!!!!!!!
Salam Berpikir
Cuplis Iwei
Pengurus HMJ AF
Selasa, 20 April 2010
The White Tiger-Aravind Adiga, jempol!!!
Bercerita tentang buku terlebih buku cerita, novel tepatnya. Kita tidak saja dimanjakan dengan imajinasi lewat kata-kata tapi 'dipaksa' menghadirkannya secara visual dengan cara yang kocak...
sebagaiamana judul di atas, sebenarnya telah menjadi status baruku di jejaring facebook. Bukan tanpa alasan, menulisnya menjadi status. Membaca buku ini, terasa 'renyah'karena memahami jalan cerita tidak perlu mengerutkan dahi. Kalau anda pernah membaca karya Andre Hirata atau karya DEE (Dewi Lestari)pada PETIR, anda akan paham bagaimana cara bertutur Novel ini. anda tidak akan menemukan cara bertutur dalam novel yang kental semacam 'Cala Ibi nya Nukila Amal' atau Novel yang syarat dengan metafora atau karya yang terlalu dangkal.
saya tidak akan meneruskan rentetan catatan tentang penulis kelas 'berat' lainnya. Yang jelas kesimpulan saya tentang Novel ini hanya karena cara penyampaian yang syarat humor, bikin ketawa sendiri. Lupakan penilaian dari perspektif sastra, yang biasanya penuh dengan simbol-simbol dan memaksa kita untuk memahami dengan interpretasi. Dan ini bukan karya chicklit (roman picisan)hehehe...
The White Tiger (A Novel)karya Aravand Adiga adalah mantan seorang koresponden India untuk majalah TIME (begtulah ditulis disampul tentang penulis)dan diterjemahkan oleh Rosemary Kesauly. Adalah Novel yang mengangkat setting masyarakat India, yang disampaikan dari perspektif komikal ketika terjadi ironi antara pertumbuhan ekonomi India yang melesat dan kehidupan masyarakat miskin.
cerita model penyampaian narasi (bercerita) via korespondensi terhadap perdana menteri China... representatif dari dua kekuatan baru ekonomi ....
'A White Tiger' sebenarnya adalah nama kecil dari tokoh utama dalam novel ini Balram Halwai. Nama yang diberikan oleh 'inspektur' (semacam elit diknas, yang lagi inspeksi mendadak ke sekolah Balram) yang merasa takjub melihat Balram kecil tampak 'jenius', bagi inspektur adalah hal langka yang dapat ditemukan didaerahnya yang miskin penuh kegelapan tersebut. Maka didaulatlah si Balram menjadi Harimau Putih, gelar yang merujuk pada hewan paling langka yang hanya muncul sekali dalam satu generasi.
yang menarik dari cerita yang disampaikan adalah ada beberapa fakta sosial yang hampir sama dengan bangsa ini. lingkaran setan kemiskinan dan keterbelakangan yang tiada putus. Secara bangsa 'timur' yang perangkat sosial dan keteguhan dalam menganut nilai sangat tinggi. Upaya memutus rantai itulah yang menjadi alur dari cerita ini. Bagaimana seorang Balram berusaha mentransformasi dirinya dari kegelapan menuju terang.
Ada beberpa line cerita yang mengganggu dan terkesan sarkastis (agama). Mungkin, ini adalah kritik sosial dan dampak konflik horizontal antara Islam dan Hindu di India yang telah mengakar. Tapi sekiranya kita membaca dengan cerdas, kita akan sadar bahwa betapa 'sejarah' mampu mempengaruhi cara berpikir seseorang. Dan kita tidak perlu terburu-buru mengambil langkah menghakimi.
Well, cobalah membacanya...
Kamis, 08 April 2010
Waktu itu….
Sepatah kata saja, kau enggan
meskipun satu huruf , kau bergeming
Bagaimana aku yakin, Aku laki-laki
Seangguk senyummu, Aku lupa
Meskipun segaris darinya, Aku tunggu
Lalu …..
Apa kau sadar
Di jantung bumi, jantungku bernyanyi
Apa aku sadar
Di jantung langit, jantungmu bersila syahdu
Dimana kau simpan
Ukiran wahyu langit
Yang sering kau nyanyikan
Bersama ksatria nirwana
Dan…..
Ke mana aku lempar
Terompet sangkakala Qitmier
Yang ku tiup menyambut
Langkah kecil bidadari
Lalu….
Aku berlari
Kenapa kau diam
Aku lelap
Kau terbang kencang
Waktu itu 400 sebelum masehi ….
kau mendesah pelan
‘Aku Juliet’
Ku yakinkan kau
‘aku Yusuf’
Waktu itu bintang bertaburan….
Kau berbisik
‘Aku Zulaikha’
Aku membalas penat
‘Aku Julius Caesar’
Aku dan kau tahu, Waktu itu Mekkah diserang pasukan gajah …
Kau berdehem
‘aku Cleopatra’
Aku tersipu malu
‘Aku Romeo’
Waktu itu pelangi hadir…
Kau tenang
‘Aku malam’
Aku riak
‘aku siang’
Waktu…
Aku dan kau
‘kita satu’
By: Armini Hermes (080109)
yang tersisa dari Euro 2008
Begitu halnya ketika aku terpana mendengar penggalan cerita cinta seorang Gebby. Dia tidak sekedar member kenangan pada sejarah, bahwa tragis adalah bagian dari cerita cintanya. Mungkin, bunyi besar dari ceritanya berjalan dari gubahan lagu buat sang pacar yang mati kecelakaan. Karena tragis romantika tidak cukup berhenti sekedar. Menurutnya ada hal lain yang tidak dapat dia isi dalam kekosongan. Bunuh diri adalah kekosongan yang pantas dia lalui. Bahkan mungkin, cinta bukan sekedar mencari belahan jiwa. Tetapi ketika ditemukan secepatnyalah kau simpan ia, kau iringi di setiap pergantian waktu. Juga pergantian alam. Cinta bukan pertukaran zat kimiawi dalam tubuh pada lakon biologis yang erotis. Lebih dari itu, cinta adalah jiwa yang berdialektika.
1 malam berturut (sekarang 1 Juli 2008 5:40), setelah final Piala Eropa antara kesebelasan Jerman Vs Spanyol yang kemudian dimenangkan oleh Spanyol (30 Juni 2008 di Wienn/Vina ibukota Austria). Bagi saya dan sekelompok pecinta bola dadakan terasa sepi. Sepi, karena atmosfer yang kami nikmati dalam rasa harus menunggu hingga empat tahun kemudian. Kebersamaan yang tentunya belum bisa terulang, memang kebersamaan kami adalah kebersamaan dalam menentukan nasib. Menentukan, karena gambling adalah ritual spekulatif meski taruhannya sekedar rokok.
Menang dengan kepala tegak kalah bukan berarti menggadaikan harga diri. Inilah sedikit semboyan dalam menjunjung sportivitas. Sportif, karena kami harus dengan senang hati membayar dengan rokok ketika tim yang kami dukung kalah. Atau menerima bayaran rokok ketika tim yang kami dukung menang pertandingan. Ya… seolah kami ingin menghadirkan kepastian dalam keseharian. Ketika dimana dalam dunia realitas kami harus berkutat dengan ketidakpastian nasib. Disinilah kami menemukan cara lain. Bermain secara spekulatif akan nasib dengan menggantungkan harapan terhadap kesebelasan yang kami bela.
Tentu dukungan harus berdasar pada perhitungan analisis yang tepat. Banyak cara yang teman-teman tempuh untuk hal ini. Ada yang mengandalkan analisis dari data yang dihimpun oleh Koran (Jawa Pos/Kompas). Ada yang mengandalkan bisikan dukun. Yang lain, mengandalkan prediksi dari sang pacar (tentunya naluri perempuan yang menjadi jaminan). Untuk yang terakhir inilah biasanya saya tempuh.
Adalah Kuro alias Hidayat, yang pacarnya mempunyai prediksi yang sangat jitu. Disinilah nasib taruhan saya pribadi menggantung harapan. Beberpa kali saya ikut akan prediksinya, meskipun harus sedikit was-was akan kebenarannya. Tapi hasilnya tidak pernah mengecewakan. Terakhir, saya bertaruh akan Spanyol ketika berhadapan dengan Rusia di semifinal. Saya bertaruh banyak, dan saya menang banyak (17 bungkus (3 marlboro dan sisanya dji sjam soe)). Begitu juga ketika di Finall saya menang banyak, dengan bertaruh sedikit tapi nilai taruhan dipertinggi (masalahnya susah nyari musuh, banyak yang percaya Spanyol menang. Entah terpengaruh laga terakhir melawan Rusia. Ketika Rusia sang pembunuh raksasa harus menelan kekalahan 3-0). Hasilnya 1 Gros sjam soe dan 5 bungkus tambahan. 1 gros dengan ainur (yang sering kali kalah, terlebih ketika mencoba bertaruh pake uang Rp. 50.000 saya menang. Ketika nilai taruhan 2 bungkus saya selalu menang dan ketika nilai taruhan 1 bungkus saya yang kalah. Tentu tetap ainur yang kalah banyak).
Inilah jejak yang saya ingin tinggalkan, ketika harus melewati demam piala euro 2008 di Austria dan Swiss (berlangsung dari tanggal 7-Juni). Saya yang penggemar bola dadakan bin musiman tetap menikmati dari indahnya permainan sepakbola. Dalam kurun waktu penyelenggaran, tidak jarang juga saya menjadi pengamat/analisis bola dadakan. Begitulah…….. hehe
surabaya
Arsip euy
Oleh: Cup@’nK
Kehendak umum Rousseau, tanpa kehendak tidak akan ada kebebasan, tidak ada determinasi diri, tidak ada ‘kausalitas moral’, tidak ada kewajiban; tanpa generalitas kehendak bisa berubah-ubah tanpa diduga, egoistik, obsesif dan sesuka hati.
Sekilas, pada perjuangan kemerdekaan yang dijuangkan para pejuang pada masa itu adalah sedikit contoh yang sangat sederhana untuk dipahami. Ini adalah upaya bersama (kehendak umum) yang dilakukan oleh rakyat Indonesia untuk mendapatkan hak yang sangat esensial, hak kebebasan suatu bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri. Sebagaimana juga, ibu pertiwi Sparta memiliki sebuah ‘volonte generale untuk menyelamatkan kota tersebut, sebagaimana Tuhan memiliki kehendak khusus untuk menyelamatkan manusia?.
Konon, ada upaya kehendak umum mahasiswa (angkatan ‘98) untuk mengimplementasikan sistem kenegaraan di dalam kampus. Ini adanya perubahan sistem pemerintahan ala ‘mahasiswa’ dari bentuk Senat Mahasiswa menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa (Wah, mulia juga mereka). Sepertinya, ini dilakukan untuk memberikan pendidikan politik dan kesadaran politik kepada mahasiswa. Sederhananya, mahasiswa dapat mengontrol jalannya pemerintahan (tidakkah sistem yang ada di negara kita masih rumit!). Dalam perjalanannya, seringkali ini tidak berjalan sesuai dengan yang dicita-citakan (sepakat gak ini terjadi di IAIN, khususnya Ushuluddin). Peran yang diberikan oleh pihak BEM (F dan I), MPM dan DPM sebagai miniatur republik ini, lebih amburadul dari ‘negara tetangga’.
Apa kaitannya dengan pendapat Rousseau yang disini sangat filosofis dalam memahami politik sebagai upaya bersama ‘kehendak’ yang secara ‘general’ dalam melakukan perubahan dalam bahasa Rousseau menyelamatkan ibu pertiwi (disini kita analogikan dengan Ushuluddin). Adalah sejauh mana BEMF dapat memberikan sesuatu kepada mahasiswa. Bagaimana memberikan sesuatu, ‘istana’ yang agung (kantor BEMF) saja tidak terurus (selama kantor dianggap kuburan, siapa sih yang mau mengurus kuburan). Agenda kegiatan yang kita harapkan sebagai sebuah suplai kesejahteraan inelektual dan mental hampir sama sekali tidak ada. Belum permasalahan ‘lahan basah’ (uang/anggaran kegiatan) yang tak pernah terdengar ‘bunyinya’ (kayak panther aja! wiss hilang!). Dan banyak hal yang telah menjadi ‘rahasia umum’.
Yang menjadi pertanyaan adalah adakah di tingkatan mahasiswa yang berkehendak bersama-sama untuk melakukan kontrol dan pengawasan terhadap jalannya kepengurusan BEMF Ushuluddin dan DPM. Indikasi ini diperparah oleh tidak adanya kehendak (komitmen) dari pengurus BEMF dan DPM untuk melakukan pemberdayaan sumber daya mahasiswa. Hasilnya, ketika tidak adanya kehendak seperti kutipan dari Rousseau, berarti tidak adanya kebebasan bagi mahasiswa untuk mendapatkan haknya sebagai individu yang berdinamisasi di Ushuluddin. Di tingkatan pengurus BEMF yang tidak adanya genealitas kehendak berkomitmen dalam perubahan, yang tampak adalah egoistik, obsesif dan sesuka hati.
13 Desember ini, akan menjadi moment yang tidak seberapa penting bagi sebagian orang dan menjadi sangat penting bagi beberapa orang. Meskipun kehendak adalah gagasan sentral, politis dan teologis (Rousseau). Disini, sejauh mana kehendak kita untuk menentukan arah yang baik bagi Ushuludin. Kiranya kita dapat menjadikan pemilu raya di ushuluddin sebagai pembelajaran demokrasi. Tentunya demokrasi bukanlah perkara mencapai konsensus semu belaka, melainkan perkara mengelola dissensus. Dan perlu disadari bahwa politik (kampus) bukanlah perkara mencapai harmoni, melainkan perkara mengelola konflik.
Jude (jude fowler)
Ini adalah tentang Jude dengan hidup yang mesti dia jalani. Tentang apa makna kehidupan dengan orang di sekitarnya. Tentang apa yang dia yakini dan telah ia tinggalkan. Tentang kokohnya prinsip yang tidak selamanya akan sekokoh semula ketika segalanya mesti dibenturkan percikan-percikan tak terduga. Ini adalah tentang impian yang tetap terus dikejar dan menjalani kehidupan dalam bingkai manusia dan alam. Ada faktor x yang tidak selamanya mampu menjamin kelancaran sebuah harapan mencapai titik yang tiada tara.
Cinta adalah sebuah dasar perasaan yang bersemayam dalam diri manusia. Begitu juga Jude, menyelami perasaannya dalam penghayatan dalam menjalankan kisah cerita yang lain dari standar normal yang berlaku di tengah masyarakatnya. Rintangan adalah sebuah keabsahan tidak dapat ditolak dan dihindari. Karena ketidaknormalan adalah sesuatu yang mesti diabaikan. Karena dia juga merupakan satu ketakutan yang mesti di buang, tidak saja pada kenyataan keseharian tapi juga dalam ingatan.
Arabella sosok masa lampau bagi seorang Jude, sisa ikatan yang mencoba dia lupakan demi ikatan yang dirindukannya dari seorang sepupunya. Ikatan yang mesti berakhir demi sebuah mimpi masing-masing. Ditengahnya meski mereka sama-sama mengakui bahwa impian mereka tidak sejernih aliran air pegunungan. Dan tidak juga sesegar udara pagi yang mengembang sebelum terbitnya mentari. Ikatan yang menyisakan seonggok daging yang akhirnya menjadi boomerang. Boomerang bagaikan ledakan bom nuklir yang dapat meluluhlantakkan segalanya, harapan, cinta, impian dan kehidupan yang menggapai kecerahan baru.
Sue adalah tambatan terakhir dalam pelabuhan cinta dan hidup Jude. Sue jugalah yang mengaburkan segala impiannya, meskipun dalam sesaat. Sue jugalah yang mengajarkan perubahan mendasar dalam kehidupan Jude. Dan Sue jugalah yang memberikan sebuncah harapan terang dalam ke-detik-an hari esok dalam ketegaran dan arti pengorbanan dan perjuangan anak manusia yang seutuhnya.
Dari Sue, bahwa aturan agama adalah sebuah ilusi yang mengaburkan komunitas mereka. Karena Sue adalah orang yang tangguh, pintar, dan mampu menyembunyikan perasaannya sebagai perempuan. Dia mengemas perasaannya dengan perasaan manusia yang bijaksana. Yang tidak akan goyah dalam sekeras apapun badai yang mesti ditempuh. Sekali lagi, Sue jugalah yang beberapa kali merapuhkan jiwa Jude dan mengangkatnya kembali pada tingkatan yang sangat tinggi.
Jude, akhirnya mesti lenyap dari segalanya. Karena terang api pada diri Sue luluh lantah oleh boomerang Jude dan Arabella (Juey yang berumur 8th, membunuh dua adik tirinya, hanya karena jude junior harus rela menanggung ulah kedua orangtuanya). Kesimpulan membeku pada diri Sue yang telah menjadi kerupuk, bahwa kutukan dari percintaan terlarang mereka mencapai puncaknya.
Ocean's Thirteen

OCEAN’s 13
Apa yang ada dipikiran anda jika melakukan kejahatan seperti mencuri dengan tujuan memberikan kebahagian bagi orang lain? Bagi sebagian anda mungkin akan merasa miris atau mengganggap itu adalah hal yang sangat bodoh. Pada pemikiran pertama mungkin, sangat ironis karena tidak sesuai dengan norma. Kedua,kenapa hasil curian tidak dinikmati untuk kebutuhan pribadi. Pesan inilah yang ingin disampaikan dalam film ini.
Film yang disutdarai oleh Steven Sodeberg (yang hampir saja mendapatkan Oscar dari beberapa kali dinominasikan) dan dibintangi oleh beberapa bintang Hollywood kelas A; George Clooney, Brad Pitt, Matt Damon, Al-Pacino, Don Chedle dan Andy Garcia mencoba untuk memvisualkan pencuri dengan teknik mencuri yang sangat modern. Dapat dilihat bahwa apa yang dilakukan dalam mencuri juga membutuhkan investor dan modal selain strategi dan rencana yang harus matang.
Mungkin beda dengan pencuri yang digambarkan dalam cerpen Gus TF Sakai, tentang pencuri kampung yang masih mengandalkan penghitungan mistis. Tapi pada suatu hari dalam keadaan kepepet dia harus menyambangi rumah sederhana untuk menjalankan misi mencurinya. Setelah si pencuri kalah berpikir dengan para pemilik rumah kaya yang sistem pengamanannya lebih canggih. Sistem pengamanan yang tentunya berbasis teknologi, selain pagar yang tinggi dan adanya anjing pelacak. Mungkin karena telah kehabisan akal untuk dapat menyikat pemilik rumah mewah dan tentunya banyak barang berharga berserakan di sekitar rumahnya. Seharusnya bagi si pencuri, selain memiliki kesiapan mental secara mistik dia juga mempunyai pilihan untuk mengambil barang yang mana yang lebih berharga. Tapi apa hendak dikata, jaman telah berubah pencuri kampong tidak mampu mengejar ketertinggalan jaman tersebut. Maka disatronilah rumah sederhana yang tidak memiliki apapun dirumahnya. Jangankan benda berharga beras pun si tuan rumah tidak punya.
Suatu hal yang berkebalikan jauh antara cerita yang ditampilkan antara film ocean’s 13 dan cerita cerpen. Bertema sama tentang pencurian, apa yang sesuai dengan kedekatan realitas kita bahwa pencuri di Negara kita masih gaptek hanya mengandalkan kekuatan mistik dan pembacaan alam (nujum, kesialan), dalam film ini, pencurian dengan hasil besar perlu penguasaan teknologi dan kematangan perencanaan bin strategi.
inti movi 2
Tujuan hidup dan tentang mengetahui tujuan takdir jiwa anda. Teori pemetaan inti adalah contohnya betapa tiap jiwa dimulai dari kesan. Setiap jiwa memiliki jalurnya, tapi kadang jalurnya tak jelas. Semuanya dipadatkan dalam pola yang dipilih jiwa anda sebelum anda lahir
Semakin kau kenal dirimu dan apa yang kau inginkan, semakin sedikit kau biarkan sesuatu membuatmu kecewa.(4 JUNI 2006)
Derailed (6 Juni 2006)
Ada orang yang tidak bisa menghargai yang mereka miliki.
Pepatah gangster: “kau tak perlu kekerasan tapi kau harus bangun kekuatan”
Inti Movi
Kehidupan ini hampir saja tidak pernah terjadi (25th Hour,Edward Norton)
- kita tidak bias melihat dan merasakan waktu, tetapi kita hanya dapat melihatnya samara-samar. Seperti kita menaiki kereta supersonic dan dunia terlewati.
- Cinta adalah suatu lompatan,
- Orang yang berani adalah orang yang memiliki pandangan paling jelas dari masa lalu. Begitu juga kejayaan, bahaya dan berani menghadapinya
- Sesuatu yang menyenangkan untuk mendapatkan yang kau inginkan. Itu sangat menyenangkan. Kecuali jika yang kau kira kau inginkan bukan yang kau inginkan karena yang sungguh kau inginkan kau tidak bias membayangkan atau kau pikir itu tak mungkin. Tapi bagaimana jika seorang dating yang tahu apa yang kau inginkan tanpa menanyakan, mereka tahu, seakan mereka bisa mendengar detak jantungny atau pikiranmu. Bagaimana jika mereka yakin pada diri mereka dan mereka tak perlu berusaha keras dan mereka mencintaimu dan kau ragu. (Kate & Leopord. Meg Ryan and Hugh Jakmen).
The New World (Collin Farrel, tentang penjelajahan orang Inggris di daerah Virginia, Amerika)
- dialog antara penjaga putri Indian (Nameless, the Naturals)“Orang Natural seperti mu, dapat mengubah masalah menjadi baik. Semua kepedihan ini akan memberimu kekuaan dan menaikkan tingkatmu lebih tinggi lagi. Pikirkanlah sebuah pohon bagaimana ia tumbuh di tengah-tengah luka, jika sebuah cabang putus, pohon itu tidak berhenti tumbuh tapi terus tumbuh mencapai terang matahari. Kita harus menghadapi ketidakberuntungan dengan berani dan tidak menderita dalam ketakutan. Kita harus bertindak dan berperan lalu menyurutkan masalah kita, gadisku ”
26 April 2007 (In The Cut, Meg Ryan, Mark Buffalo)
Kutipan kata dari Dante (Inferno), “Sepanjang jalan hidup kita aku sadar diriku ada di hutan gelap. Karena aku telah mengembara mengikuti jalan lurus”
Sekarang
Memikirkan kembali Hasratku
Aku seperti buta tak takut pada gelap
HOUSE OF SAND AND FOG (2003)

Tragis, gambaran satu dinamika kehidupan yang sangat menggugah. Cerita yang sebenarnya sangat sederhana, dan dikemas secar apik oleh sang sutradara. Tidak salah film ini mendapat nominasi dalam perebutan piala Oscar beberapa tahun silam. Adegan yang diawali yang sebenarnya kesimpulan dari akhir cerita. Seorang perempuan yang melewati hari terberatnya dalam hidup pada waktu itu, dan melihat keajaiban yang lain. Keajaiban dalam satu pertanyaan, ‘apakah ini rumah anda?’ tanya seorang opsir kepada wanita tersebut.
Gambar beralih pada adegan seorang ibu dan kedua anaknya berlari menyisiri pantai di lautan kaspia. Kemudian terlihat pohon di tebang, dan tampilah seorang perwira gagah lengkap dengan pakaian kebanggaannya.
Hal yang menarik dari cerita ini adalah bagaimana kompleksitas objek cerita dapat dirangkai dengan sangat apik. Tentang satu imigran dari Iran Massoud Amir Behrani (Ben Kingsley) mantan colonel di angkatan bersenjata Iran. Dan mereka harus memutuskan hal yang sangat urgen demi kelanjutan cerita keluarganya. yang berupaya menyatu dengan budaya baru Amerika. Harus bertemu dalam satu rangkaian benang merah dari kompleksitas kehidupan seorang perempuan Kathy Nicolo (Jennifer Connelly) yang terlanjur merasa sendiri.
Directed by Vadim Perelman Produced by Vadim Perelman
Michael London Written by Screenplay by Vadim Perelman
Shawn Lawrence Otto
Based on the novel by Andre Dubus III Starring Jennifer Connelly
Ben Kingsley
Shohreh Aghdashloo
Ron Eldard
Frances Fisher
Kim Dickens Music by James Horner
Elton Ahi
(Songs) Cinematography Roger Deakins Editing by Lisa Zeno Churgin Distributed by DreamWorks Distribution LLC (USA)
Miramax Films (UK) Release date(s) December 26, 2003 Running time 126 min. Country USA Language English Budget $16.5 million Gross revenue $16,942,795 [1]
‘Ada dan waktu’, ada moment-moment dimana manusia menyatukan “ada”nya dengan waktu. Momen-momen itu adalah saat manusia merasakan peristiwa-peristiwa luar biasa yang memaksanya merenungkan arti hidup. Salah satunya, ketika manusia mampu merasakan betapa berarti seseorang bagi kehidupannya. Waktu menurut Heidegger , dalam situasi ini bukan dalam pengertian arloji, jam, matahari atau bentuk penunjuk waktu lain. Waktu di sini adalah waktu eksistensial atau yang membuat manusia merasakan “ada”nya dalam waktu lain.
Hannah Arendt, murid Heidegger, pernah mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang selalu bisa terlahir kembali. Artinya manusia bisa merekonstruksi kembali hidupnya bahkan dalam kehancuran sekalipun. Tentunya maksudnya adalah ketika manusia memang mau terlahir kembali. Di sini, ada proses perenungan, keputusan dan konsekuensi sekaligus resiko.
(Resensi buku ‘For One More Day, Mitch Albom’ oleh Audifax. Jawa Pos, Minggu 20 April 2008)
Dystopian World

V For Vendetta,
adalah salah satu film Hollywood terbaru yang diangkat dari komik karya Alan Moor asal Inggris, yang naskahnya diadaptasi oleh The Wachowski Brother yang terkenal lewat trilogy Matrix. Komik Alan (V For Vandetta) ini terinspirasi oleh salah satu anggota Gunpowder Plot pada tahun 1605. Di mana sekelompok Katolik mencoba untuk meledakkan House Of Parliament (Inggris) dan membunuh Raja James I, untuk memprotes pemerintah Protestan. Bom diletakkan di bawah tanah parlemen sebanyak 2,5 ton. Rencana ini gagal, setelah pengawal raja mendapati tumpukan bahan peledak tersebut. Guy dieksekusi dengan digantung. Kegagalan persekongkolan kelompok ini memaklumatkan raja untuk memperingatinya dengan nama Bonfire Night (hingga sekarang) dimana kembang api dinyalakan dan boneka Fawkes dibakar.
Setelah diangkat menjadi film, pesan yang ingin disampaikan (sesuai dengan komik aslinya, meskipun ada sedikit dramatisasi) dari film ini adalah gambaran sebuah Negara di masa depan yang jauh dari kebahagian dan kesempurnaan, yakni dunia distopia yang mana menakutkan dan suram.
Ketakutan menghadapi realitas, kehilangan realitas dan pengabaiannya. Dan selalu menjadi pertanyaan adalah sampai kapan kita akan bertahan. Terkadang untuk bebas dari ketidaknyamanan adalah hal yang tersulit yang mesti kita hadapi, butuh perjuangan yang luar biasa. Ketidaknyaman dan kegelisahan ini menjadi momok yang luar biasa yang selalu menghantui orang-orang (pemuda) yang akhirnya menjadi “luar biasa” pada semua bangsa. Apakah ini sebuah kewajaran yang alami di usia-usia labil? Seperti halnya Muhammad yang terlalu resah dan selalu resah tentang siapa dirinya dan apa yang mesti dilakukan bagi peradapan dimana dia hidup dan akan dia tinggalkan. Meskipun sisi ego-pragmatis yang tidak terpisahkan tidak luput dari keresahannya. Ego-pragmatis tentang penemuan identitas sebenar dari berke-Tuhan-annya.
Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti acara khataman di basecamp komisariat Ushuluddin. Targetan apa yang sebenarnya yang ingin dicapai dari adanya Khataman (dan beberapa acara iringan lainnya) yang diadakan oleh komisariaat. Apa setiap aksi untuk reaksi selalu dibangun di atas kemunafikan. Sampai kapan? Kalau Launching (konon istilah inilah yang dipakai) TPA –taman pendidikan alternative- sebagai usaha para sahabat dalam koridor Pergerakan untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat sekitar lewar media pendidikan. Kenapa rentetan acara tersebut mesti diawali khataman Al-Qur’an? Penghinaankah bagi Tuhan? Okelah, seandainya khataman adalah awal yang diupayakan sebagai itikad baik bagi sahabat-sahabat PMII untuk mendapatkan reaksi yang baik bagi masyarakat sekitar dengan membangun citra alim. Sekali lagi, apakah ini tidak terlalu rapuh, ketika komitmen setengah hati ini disepakati di atas kemunafikan.
Setidaknya membicarakan taman pendidikan, ada standarisasi ideal yang sudah dipersiapkan atau setidaknya telah dicapai. Ada materi yang jelas, ada kesiapan SDM pengajar yang siap berkomitmen dll. Karena pendidikan adalah kerja amanah yang tanggung jawabnya secara langsung pada masyarakat (kalau tanggung jawab yang sebenarnya langsung kepada Tuhan, terlalu berat). Bukankah terkesan ‘kucuk-kucuk’ langsung jadi. Apa kita mesti ikut-ikutan para koki dewan (istilah Gus Mus) yang terlalu gegabah untuk menetapkan, merevisi dan mere-revisi setiap undang-undang (rancangan).
Inikah latah dari tidak adanya visi dan misi para elit manusia bangsa ini, sehingga perlu dicontoh dalam konteks kecil gerakan Mahasiswa. Terlalu bosan (mungkin??!!!) untuk mengatakan ini sebagai gambaran kecil dari keadaan bangsa ini. Aduh, sangat disayangkan tentunya, seandainya orang-orang ini (kita, saya dan ‘elu’ semua) yang akan memimpin bangsa ini, nantinya. Ketika sebuah acara dikemas secara asal-asalan, ketika gagah-gagahan menjadi sesuatu yang esensi dalam setiap kegiatan kita. Jika ini yang terjadi, tentunya akan menambah panjangnya kebobrokan peradaban yang dihasilkan oleh anak bangsa. Atau ini hanyalah sebuah skenario konspirasi kecil ala mahasiswa IAIN yang sengaja diciptakan sebagai salah satu “kesemarakan pembelajaran” politik sahabat-sahabat di dunia yang tak terwakili (IAIN). Atau ada kemungkinan yang lain yang dapat diruntut secara berurut (mungkin ada yang ingin membantu saya?).
Dari sini, kebenaran yang seperti apa yang kita coba cari, punyai (dari proses self-becoming dan self-development) dan akan kita berikan kepada lingkungan sosial. Jika cara dialektika yang asal-asalan dengan masyarakat sekitar hanyalah resiko yang dicoba untuk dijalani. Bukankah dialektika menyatakan kesan-kesan penginderaan bukanlah obyek yang utama dari pengetahuan, karena penginderaan mensyaratkan adanya subjek yang memperoleh kesadaran diri melalui perjuangan untuk memperoleh pengakuan dari pihak lain. Ketika kesadaran ini pada akhirnya diperoleh, satu titik tercapai dari diri (self) dipandang sebagai emanasi dari dunia spirit, dari mana kebenaran bisa dicapai secara menyeluruh (whole).
Kebenaran adalah “Whole” (menyeluruh, utuh), Hegel melawankan doktrin tentang the whole dengan apa yang parsial atau bagian-bagian. Negara adalah spirit the whole, kelompok-kelompok masyarakat adalah parsial-parsial. Ide-ide atau gagasan-gagasan adalah parsial -jika ingin terus menerus eksis dan tetap diakui- harus menyesuaikan diri dengan spirit the whole, jika disederhanakan, the whole adalah mesin raksasa dan parsial-parsial yang mencoba menentang perjalanan mesin ini akan memperoleh resiko.
Dialektika (yang coba dibangun), kebenaran (sebagai win-win solution), dan resiko (yang tak diperhitungkan) dapat mewujudkan spirit the whole dalam sebuah Negara. Gambaran peradapan yang seperti apa yang akan kita usung untuk bangsa ini dalam 20 tahun atau 30 tahun ke depan? Semua orang akan sepakat “Utopian World”, ketika kedamaian, ketentraman, kemakmuran, kesejahteraan dan kelestarian alam yang terjamin, bukan lagi menjadi cita-cita yang perlu untuk diperjuangkan. Atau dunia Dystopia (seperti film V for Vandett) menjadi pilihan tema besar yang ingin dicapai bangsa ini dalam sebuah peradapan. Dimana kesuraman komplit yang ada sekarang, tren sosial masyarakat yang tak terkendali dan efeknya. Lantas, sudahkah kita sebagai pemuda bangsa ini mempunyai visi kebangsaan “Utopian World” yang berlandaskan kekokohan moral ? (kosOng, 6 Mei 2006)

Bermain di sistem yang sangat kacau
Runaway Jury, sesuatu yang tersistem di dunia modern dengan aturan tertulis yang ketat saja masih ada celah yang dapat dimasuki dan bermainlah di sana. Ada kesan yang tidak sengaja menjadi tingkah luar biasa dari masyarakat modern. Ketidak mampuannya untuk lepas dari sistem yang tersistem tersebut. Aturan main yang terdikte dan sangat detail sama sekali dapat membongkar kelemahan tersebut. Kita hanya butuh keberanian untuk melakukannya. Rencana, taktik dan strategi yang matang hingga ukuran detik dari sebuah hal pekerjaan. Informasi data, dan segalanya dapat dengan mudah menuju kemenangan. Dalam setiap momen yang terjadi di dunia ini, pasti ada yang menjadi pemenang dan pecundang...
dari film ini setidaknya kita dapat mengambil hikmah, bahwa demokrasi sebagai falsafah hidup juga menjadi sebuah sistem pemerintahan. tentu mempunyai kekurangan. celah inilah yang ingin diangkat dalam film ini.
Directed by Gary Fleder
Produced by Gary Fleder
Christopher Mankiewicz
Arnon Milchan
Written by Novel:
John Grisham
Screenplay:
Brian Koppelman
David Levien
Rick Cleveland
Matthew Chapman
Starring John Cusack
Gene Hackman
Dustin Hoffman
Rachel Weisz
Bruce Davison
Bruce McGill
Jeremy Piven
Nick Searcy
Music by Christopher Young
Cinematography Robert Elswit
Editing by William Steinkamp
Jeff Williams
Studio Regency Enterprises
Distributed by 20th Century Fox
Release date(s) October 17, 2003
Running time 127 minutes
Country United States
Language English
Budget $60 million[1]
Gross revenue $80,154,140[2]
(sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Runaway_Jury)
Badan Pengawas Isu dan Intrik Pemilu Raya Ushuluddin 2006
Di suatu negeri ‘entah berantakan’ lahirlah seorang anak manusia yang segala sistem dan setiap bagian sistem yang bergerak dalam tubuhnya tidaklah sempurna. Maksud dari setiap yang bergerak dalam tubuhnya adalah sistem bernapas yang terasma, sistem pencernaan yang sudah berisi penuh dengan bakteri yang sangat merugikan, dari sistem peredaran darah yang menggantung dalam tiap nadinya telah terkontaminasi dengan kuman handuksida (konon kuman ini ditemukan oleh seorang pelacur di handuknya, yang biasa dia gunakan untuk membersihkan tiap tetes sperma yang memenuhi ruang rahimnya), dan ini diperparah dengan fungsi indera tak sempurna yang dipunyainya, meskipun hanya jelmaan sperma yang tak sempurna. Palangnya, dari ketidakteraturan milikinya menimpa bagian tubuh vitalnya jua! Dari segala keburukan yang dimilikinya, yang tersisa darinya hanyalah kesadaran. Berpuisilah dia:
Bosan aku dengan jelek, pergilah !
Datanglah pelita kecil, meskipun hanya terselip dalam pori egoku
Aku tidak ingin terlahir untuk menciptakan ketidakteraturan
Dari rekaan fiksi-imajinatif yang dipaksakan di atas, bahwa tubuh adalah sumber kompleksitas dan konflik. Jauh hari telah dikumandangkan oleh para filosof , bahwa tubuh yang sementara ‘inkarne’. Jelasnya, adalah manusia ditakdirkan abadi sedangkan tubuh tidak. Setidaknya, inilah pemicu awal dari sengketa dalam diri kita. Sengketa antara tubuh dan jiwa (roh) selalu akan tarik menarik. Karena tubuh adalah kerangkeng bagi jiwa yang bebas, tubuh mempunyai keterbatasan sedangkan jiwa dengan dunia ide yang dimiliki akan selalu bebas terbang ke sana kemari. Apa yang ‘dihadirkan’ secara fisik oleh tubuh selalu akan mendapatkan protes oleh jiwa. Seperti gambaran di atas, bahwa manusia tak berdaya untuk menolak ‘takdir’ yang dihadirkan ‘tubuh’.
Menurut Plato: “kita seolah-olah pernah hidup di dunia lain”. Bagi Plato, ketika tubuh tidak dapat menghadirkan sesuatu yang idealis maka yang tersisa hanyalah romantisme akan idealitas. Ketika secara fisik kita dilahirkan dalam keadaan ‘tukulis’, kita berangan-angan untuk dapat dilahirkan melalui rahim seorang Dian Sastro Wardoyo. Pada puncaknya akhirnya, manusia berada pada titik yang disebut reuni. Yang kemudian memaksa kita berpikir tentang Tuhan dll.
Jiwa adalah tak dapat dilihat, berbentuk dan berisi. Bagi Plotinus: “kita tidak boleh tersesat di dunia fisik”. Karena fisik tidak dapat menjadi ukuran, yang ada adalah komunikasi antar roh. Nyatanya realitas kedagingan (tubuh) menjebak. Dunia fisik mempunyai keterbatasan untuk mengungkapkan, hanya sedikit yang dapat terwakilkan oleh semisal senyum dan tangis kemenangan seorang atlet. Kita tidak dapat mengukur seberapa besar kesenangan yang dimilikinya ketika seorang atlet memenangkan pertandingan. Apakah sekedar seulas senyum atau setitik air mata haru? Dari inilah yang kemudian Plotinus mengembangkan tesa tentang mistik.
Heiddeiger dalam Being and Time, mengingatkan bahwa kehadiran kita adalah problematis. Ketika seorang bayi dilahirkan, menjadi problem bagi kedirian bayi (tentu bukan saat itu!). Menurut lirik lagu dewa 19 ‘Kirana’ “ayah bunda tercinta satu yang tersisa mengapa kau tiupkan nafasku ke dunia, telah kusesali mungkin kutangisi ...”. problematika ini akan berimbas pada ke orang tuanya, lingkungannya dsb. Masih berkenaan dengan tubuh, setelah Foucoult melakukan perpindahan analisis historis dari arkeologi ke geneologi. Hanya untuk membongkar dan memperlihatkan keterlibatan langsung tubuh manusia sebagai komponen essensial bagi pertumbuhan kekuasaan. Terutama kekuasaan modern. Baginya, tubuh secara integral menjadi lokus dan medium penyebaran kekuasaan. Nah.............!!!!!!!!?????? Jangan lupa! Yahya Zaini (anggota DPR) juga lagi bermasalah hanya karena tubuhnya.
By: Cup@n’k
AQIDAH FILSAFAT NASIBMU KINI
Disini, saya akan mencoba untuk mengajak pembaca untuk memahami Aqidah Filsafat sebagai salah satu jurusan di Fakultas Ushuluddin. Dimana, dinamika akedemis akan berlangsung. Ada beberapa elemen penting yang seolah-olah menjadi tonggak berjalannya dinamika tersebut. Mahasiswa, dosen, kurikulum (metode pembelajaran), HMJ, bagian akedemik dan Organ Ekstra (PMII, HMI, IMM, KAMMI dan LMND).
Saya mencoba mengurai beberapa yang saya anggap menarik. Pertama, Mahasiswa adalah yang menurut Wilhem Dilthey merupakan inti dari naumena yang disebut dengan Geist atau spirit (makasih! Pak Loekisno atas transformasi istilah ini). Mahasiswa menjadi hal yang penting di jurusan ini khususnya di Ushuluddin. Tidak salah, demi pemenuhan kouta banyak mahasiswa menjadi ‘korban’ yang terdampar di pulau Biru Ushuluddin. Hanya 1,00 % (jangan salah, ini Cuma satu persen koma nol nol) yang bertekad tulus untuk berada di Aqidah Filsafat. 99,00% mahasiswa lainnya adalah hasil dari sebuah ‘skenario Takdir’ via birokrat kampus. Bagi mereka, kuliah akhirnya seperti membeli kucing dalam karung. Maksudnya, awalnya mereka niat kuliah di IAIN dengan jurusan pilihannya masing-masing sesuai dengan keinginan dan cita-cita awal mereka (meskipun yang favorit masih Fak. Dakwah dan Tarbiyah). Toh nyatanya, mereka bagaikan masuk ke gerbang negeri asing. Oh ya, berkenaan dengan pernyataan di atas mahasiswa adalah spirit. Mahasiswa hanya menjadi spirit ekonomi (komiditi) bagi birokrat kampus. Bagi sebagian (terutama dosen yang menunggu masa pensiun), mahasiswa menjadi objek untuk membuang waktu sebelum ajal menjemput mereka. Tidak ada hal yang menarik yang disampaikan sewaktu kuliah.
Dosen, merupakan elemen yang penting juga di jurusan ini. Mungkin disini, saya tidak akan berteori bagaimana dosen seharusnya, sebaiknya, semestinya, atau selayaknya. Tapi saya akan memberikan beberapa laporan (macak resmi rek!) tentang beberapa dosen menurut beberapa tim dari HMJ AF yang kami bentuk. Ada seorang dosen yang sangat normatif tapi tidak rasional bagi kebanyakan teman-teman mahasiswa, dosen ini seharusnya menjadi penjaga mesjid saja. Ada lagi dosen tuwir yang cocok menjadi guru SD (Sekolah Dasar) kelas 4, ‘mari anak-anak, tulis apa yang bapak guru baca!’. Ada dosen yang sok aneh, tapi jayus. Ada dosen yang malasnya minta ampun, tapi macak berwibawa. Ya, cuma ada beberapa orang yang menurut ‘kami’ masuk kategori. Wah, kayak laporan aja!
Elemen yang lain adalah kurikulum yang perlu didiskusikan ulang. Terutama berkaitan dengan orientasi jurusan Aqidah Filsafat. Seolah-olah, ada upaya tarik menarik antara pemenuhan materi untuk Aqidah dan Filsafat. Dalam hal, titik tekan dari kurikulum Aqidah Filsafat menjadi rancu. Wah... pusing kalau diterusin dipikirkan masalah ini.
Hal terselubung yang menakutkan di jurusan ini adalah tarik menarik antar organ ekstra. Ini terkadang mempengaruhi bagaimana bersikap dengan teman. Au ahhh gelapp!!!!!
kemana hujan beraroma mawar yang tidak bisa bergandengan denganmu dalam menghadirkan keanekaragaman aroma yang menawan.
Dapatkah kiranya kita memanggil bunga beraroma lainnya untuk dapat menciptakan taman surga abadi. Abadi yang terbatas, ruangkah atau waktukah?
Baiklah mekarkan kelopakmu, taburkan diberbagai lapis udara rahasia alammu, kepada penghuni alam lainnya.
Tidak ada yang istimewa, kuasa kontrolku terhadap pikiran (240407,1:43) sepertinya terganggu. Emosi tentunya. Komitmen yang berupaya aku wujudkan pada tingkah laku dan perbuatan nyata, lepas. Lepas pada misteri dalam wujud realitas yang kompleks. Apa yang ada adalah tetap mampu memberikan sensasi pada relung keinginan dan pencapaian keabadian, keabadian perspektif manusia. Dalam relativisme kelayakan yang berbeda. Bukankah sesuatu dalam opus, bergantung dari jumlah kelayakan untuk dikenang.
Aku tersesat, pada rimba yang rindang, dilindungi dan memberikan jaminan yang luarbiasa pada kebutuhan badaniah, dan konon pada sesuatu yang sangat misteri. Keabadian ragawi dan rohani/jiwa, surga. Tempat indah tiada tara. Tiada kata selain rasa syukur. Pastinya, rasa syukur tidak sesederhana yang tersusun dengan beberapa suku kata saja. Dia lebih mendalam jika melibatkan ‘tubuh’ dalam implikasi nyata. Tujuan yang nyata, tidak menjamin keinginan yang lain sirna. Karena perjuangan adalah satu keniscayaan dalam hidup. Dalam berbagai bentuk tentunya, dengan kadar yang ironis untuk dirasionalkan.
Mengutip apa yang dikatakan oleh Al-Ghazali, ‘jika Allah SWT yang dituju dalam kepastian, dan jalan syaithan adalah yang terdekat, ikutilah’ (dikutip ulang oleh sang guru Ushuluddin). Ternyata pencapaian tujuan adalah erat kaitannya dengan cara. Cara dan jalan yang ditemput tentunya tidak menutup kemungkinan terhadap resiko yang diambil. Disini, perlu diperhatikan adalah baik dan buruk dari resiko yang datang, tidak sesederhana dalam penilaian etika. Konsekuensi baik adalah konsekuensi ke-matang-an langkah dan cara yang telah direncanakan. Sedangkan hal buruk yang didapat, tentunya ada makna yang belum terungkap.
Kepemimpinan, Keberanian, dan Perubahan

VOLVER
Film berbahasa Spanyol ini berupaya menghadirkan tentang realitas masyarakat miskin di Spanyol tepatnya di Kota Madrid. Film tentang perempuan Spanyol yang harus menghadapi kenyataan hidup yang keras, dan ketegaran mereka untuk menghadirkan kekuatan untuk mengatasinya.
Kekuatan perempuan tidak saja divisualkan secara harfiah, karena perempuan pada batas tertentu mempunyai kekuatan yang melebihi dari laki-laki. Seolah-olah mereka tidak membutuhkan laki-laki, karena laki-laki hanya menjadi sumber chaos dari dinamika yang ada dalam kehidupan. Laki-laki digambarkan sebagai pemicu marah. Dan marah adalah modal awal mereka untuk menghadirkan kekuatan. Meskipun, di satu sisi mereka menyadari secara naluri kodrati mereka adalah perempuan. Perempuan yang seringkali hanya sebagai alat pemuas nafsu dari laki-laki.
Tapi, perempuan sangat paham dengan kelemahan lelaki dan lebih-lebih lagi mereka sangat paham dengan makna tubuh. Makna yang seringkali dibungkus dengan daya pikat seks yang sangat ampuh bagi laki-laki. Di sinilah letak kompleksitas yang ada dari pertarungan gender. Apakah posisi lelaki hanya sebagai sumber dari tindak pelecehan, karena tidak dapat menahan nafsu birahinya. Atau perempuan yang sangat mengerti tentang kelebihannya, yang seringkali tidak disadari mereka dari apa yang mereka punya menjadi pemicunya. Entahlah?
Untuk film ini, presentasi yang cocok sebagai tokoh utama sebagai pemeran karakternya tidak lain adalah si seksi Penelope Cruz (dalam peran ini, dia mendapatkan nominasi pemeran utama terbaik dalam ajang Academy Award ‘Oscar’ 2007, meskipun gagal). Karakter yang berusaha dihadirkan dapat ditampilkan secara alami oleh Penelope, perempuan cantik seksi yang harus menjalani hidupnya yang tragis. Perempuan yang berusaha membesarkan anak haram dari ayah yang telah memperkosanya. Masa depannya benar-benar hancur, karena dia harus mengorbankan cita-cita masa kecilnya untuk menjadi seorang bintang tv/film.
Sekali lagi, Volver adalah dunia perempuan. Perempuan yang putus asa dan harus menjual diri untuk tetap survive. Perempuan yang harus memendam misteri dari kepergian ibunya yang konon mati di tengah kebakaran besar di desanya bersama kekasih gelapnya. Perempuan yang juga hingga tua harus menunggu ajal dalam balutan ganasnya penyakit kanker yang diderita. Perempuan yang harus melakukan pembunuhan terhadap ayah tirinya yang mencoba untuk memperkosanya. Perempuan yang trauma terhadap laki-laki karena tanpa alasan meninggalkannya. Perempuan yang harus bersembunyi seperti binatang buron, karena marah dari seorang suami yang berselingkuh dengan tetangga dan harus meninggalkan keluarga yang dicintai. Perempuan dan perempuan.
Inilah dunia perempuan yang tidak jauh dari sekitar kita. Tidak jarang mereka harus berjuang dalam keperihan hidup yang menjadi rahasia mereka masing-masing. Rahasia yang menjadi motivasi untuk tetap meyakini bahwa hidup terlalu singkat untuk diakhiri. Karena hidup itu indah.
Directed by Pedro Almodóvar
Produced by Esther GarcÃa (producer)
AgustÃn Almodóvar (executive)
Written by Pedro Almodóvar
Starring Penélope Cruz
Carmen Maura
Lola Dueñas
Blanca Portillo
Yohana Cobo
Chus Lampreave
Music by Alberto Iglesias
Cinematography Jose Luis Alcaine
Editing by José Salcedo
Distributed by Sony Pictures Classics
Release date(s) March 17, 2006
Running time 121 minutes
Country Spain
Language Spanish
Budget €9,400,000
Gross revenue $84,021,052
(sumber http://en.wikipedia.org/wiki/Volver)
Saya merasa miris membaca milis IKBAL belakangan ini, intinya hanyalah romantisme. Ber-romantis ria pada sesuatu yang sangat cengeng. Semisal kematian, cinta dsb.(gak usahlah masalah cinta ditulis di milis ini, banyak hal yang perlu kita pikirkan selain permasalahan hormon. Ya... cinta adalah masalah hormon. Atau ada pendapat lain tentang cinta yang konon katanya adalah sebuah anugerah...tai kucing men!) Pola pikir kita masih terperangkap pada hal normatif. Merupakan hal yang sangat memenuhi etika kita sih sebagai orang timur untuk selalu berbasa basi pada hal yang seharusnya patut untuk kita saksikan. Mati dan kematian atau lahir dan kelahiran. Hal yang sangat biolgis, alamiah dan tidak mengejutkan mengenai kematian tersebut. (semisal banyaknya ucapan bela sungkawa mengenai kematian sahabati kita).
Okelah! Kematian adalah sesuatu keadaan yang sangat menyedihkan, bukankah rasa sedih hanyalah persepsi kita saja atau hanya mind games. Sebagaimana yang dilakukan organ vital kita terhadap hasrat dan keinginan seksual. Kematian terasa bagi orang diluar yang bersangkutan, ia hanya pada perasaan kehilangan terhadap sesuatu/seseorang. Itu hanya yang sifatnya momentum. Setelah itu pastinya kita harus melanjutkan hidup bukan.
Teman-teman bukankah kematian adalah waktu. Sebagaimana kita dilahirkan. Waktu adalah batas(Ooopsss! Bukan dari perspektif absolutnya Newton atau relatifitasnya Einstein tentunya), ia juga hanya satu titik. Titik yang menciptakan batas, batasnya adalah sejauh mana kita memberi makna terhadapnya. Bagaimanapun juga kehidupan, kematian, batas (yang lalu, sekarang, dan akan datang; sejarah) dan waktu itu sendiri hanyalah hal yang sangat misterius bagi manusia dan bagi alam yang kita tempati. Inilah batas kesempatan manusia terhadap dirinya (jiwa), alam, Tuhan, dan orang sekitarnya.
Saya sepakat apa yang dikatakan teman dari alamat milis avidenia, biarkan almarhumah terbebas dari cengkraman tubuhnya yang tidak mampu membebaskan roh kita. Mungkin saya bisa memberikan penjelasan dari pernyataan tersebut. seringkali kita termenung, menyesal dengan telah apa yang kita lakukan karena kita tidak mampu berbuat maksimal, kita mempunyai harapan dan mimpi, merasakan dejavu (berasal dari bahasa Perancis: telah terjadi), menghayal, berimajinasi, berpikir dan lain sebagainya. Itu adalah pola kerja roh/jiwa/energi kita yang penuh misteri yang terjebak dalam tubuh (materi).
Seringkali juga tubuh mengecewakan jiwa. Karena tubuh mempunyai batasan dan keterbatasan. Setelah manusia bebas dari tubuh atau materinya (baca: mati), maka roh dapat bebas. Jadi kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditangisi. Kematian adalah batas yang diciptakan oleh alam dan keterbatasan kita sendiri. Keterbatasan diri kita (tubuh) dalam berdinamika dengan alam, karena kausalitas dari grativitasi.(tentunya atas rekomendasi YANG DI ATAS, kenapa kita menjadi tua yang menyebabkan fungsi sistem kekebalan dan sistem yang lainnya menjadi rapuh, adalah karena tubuh kita ditarik atau selalu berinteraksi dengan grativitasi bumi.. hmmm satu kerja alam yang fantastis).
Apa kaitannya tahun baru Hijriah dengan permasalahan kematian, kehidupan dsb. Pergantian tahun bukan hanya permasalahan peralihan huruf dan angka, pergantian tahun bukan sekedar bagaimana memberikan ucapan atau hanya sekedar pelabuhan refleksi atau bukan hanya menjadi pencarian resolusi, tentu saja bukan itu. Bukan hanya, bagaimana itu satu detik, apa itu satu menit, mengapa satu jam. Waktu bukan saja bagaimana bekal pengetahuan tentang waktu yang menjadikan manusia dapat mematok berbagai fenomena alam, membuat rujukan-rujukan faktual.(Misalnya saja dalam satu detik, Bumi—tanpa kita rasa—melesat sejauh 30 km dalam revolusinya mengelilingi Matahari. Iya, banyak orang yang mengabaikan satu detik, padahal banyak hal terjadi dalam satu detik. Joe Boot di Ravi Zacharias International Ministries, misalnya, mencatat bahwa setiap detik 4,5 mobil dibuat di dunia, ada 2.000 meter persegi hutan yang lenyap, ada tiga bayi yang dilahirkan, ada 1,5 orang yang meninggal. Dalam satu detik juga ada 2,4 juta sel darah merah yang diproduksi di sumsum tulang. Sungguh banyak hal yang terjadi dalam satu detik (www.rzim.org)). Waktu adalah misteri. Sebagaimana kehidupan dan kematian. Semua selalu hadir di sekitar kita, hanya bagaimana memberi makna atau menjadikannya bermakna.
23 Januari 2007
Sumbangsih pemikiran mereka bagi peradaban dan beberapa sejarah peradapan manusia sebelumnya juga luar biasa.meskipun di lain sisi mereka mempunyai dinamika dialektika yang tidak sejalan. Dari terusirnya mereka dari tanah sendiri sampai jaman modern. Mereka menguasai beberapa aspek penting umat manusia, baik sebagai pelopor atau pengembang. Dari ekonomi sampai teknologi kemiliteran.
Jadi, dari hal yang sangat spritual sampai pada perkembangan teknologi yang sangat luar biasa bagi kemudahan masyarakat modern tidak terlepas dari rangkaian genesitas orang-orang Yahudi. Ini jugalah yang dijanjikan dalam Al-Quran, keistimewaan kebangsaan bagi orang Yahudi.
Di hal yang berbeda Yahudi adalah sebuah ancaman dari status qua umat Islam. Kompleksitas yang tersaji inilah yang memberikan keistimewaan, untuk sejarah manusia modern mereka mendapat perlakuan yang tidak adil dari para pengikut dan pencetus fasis di Eropa, mereka harus bereksodus dari tempat ke tempat yang lain.Tekanan ini, memberikan hal yang sangat positif bagi atau secara psikologi sosial bangsa Yahudi tetap survive. Inilah yang menjadi pertanyaan pembuka saya kepada mantan calon Pastor Marinus Kleden dari Flores, jawabannya sangat singkat. Karena mereka mempunyai tradisi membaca Taurat yang luar biasa. Kalau ini benar adanya, bandingkan dengan umat Islam????
Ini sebenarnya dapat diterapkan oleh umat Islam yang secara teknikal mempunyai tradisi membaca Al-Quran, nampakya di sini ada yang salah, mereka membaca tapi tidak memahami atau mereka tidak mempunyai tradisi membaca dan pemahaman terhadap Al-quran dengan baik.
Yang menjadi pertanyaan adalah dapatkan bangsa lain dapat menandingi prestasi yang dilakukan oleh bangsa Yahudi. Islam atau dan bangsa Indonesia sendiri?
!!!
tidak berarti akan lepas tenang
Jernih udara menghawa
tidak berarti akan lepas lunglai
Arsip.. : )
Dalam rangka persiapan Pan. SC OSCAR 2006, bersama:
1. Raidong Habibi Rambe
2. Farid Fanani
3. Izudin Al-Anshori
4. Samin
5. Fauzan Abror
6. Ibnu Al-Farabi
Dalam pencapaian target dari sebuah pelatihan seperti OSCAR, tentunya bukan targetan semu yang ingin dicapai. Ada hal yang besar yang ingin diraih dari acara seperti ini. Hal utama yang perlu ditata kembali adalah bagaimana memandang mahasiswa baru sebagai seorang mahasiswa. Dengan mengerti dengan sangat konsep manusia yang sebenarnya. Sekarang apa yang dibutuhkan mahasiswa angkatan 2006 ini. Langkah awal yang perlu diperhatikan adalah Menemukan logika dasar Mahasiswa baru, ini mencakup mengetahui secara detail latar belakang mahasiswa tersebut. Baru menemukan (mentabularasa), mempelajari Studi Krisis, ada beberapa hal berikutnya:
1. Menstream berpikir apa yang menguasai mereka
2. Dibangun oleh system apa
Kondisi bangsa yang mengalami multi krisis saat ini, tentunya memerlukan formulasi konsep yang efektif. Ada tiga elemen penting, untuk membangun kembali dan menghindari dari multi krisis tersebut:
- Kognisi
- Mental
- Spritual
Pertanyaan selanjutnya,
1. Dibangun seperti apa?
2. Konsep seperti apa yang akan kita berikan?
Beberapa pemikiran, kita Kematian kita diskusikan:
- Semakin kita berpikir tentang kematian, maka kematian tersebut akan semakin jauh
- Mati tidak selalu berawal dari hidup
Peradaban dibangun oleh system kebudayaan, ditopang oleh konsep berpikir
Amerika mempunya grand design dalam membangun peradabannya yang disebut dengan 7 mandala. Yang penguasaan ekonominya disebut dengan Perang dingin.
Yang tersistem pada NODIKA (Nuklir, biologi dan kimia): secara tidak langsung mengendalikan semua dinamika pada masyarakat dan ini sudah selesai. Pada waktu itu, perang sesungguhnya adalah krisis kawasan
• konsep kemanusian baru adalah kebangunan hati nurani
• kuasa ilmu harus dihadapi dengan kuasa ilmu
• peradaban dunia saling menggerogoti, dikuasai – menguasai – dikuasa dst.
• Merehabilitasi mental manusia membutuhkan tahunan waktu, sedangkan merubah kognisi hanya cukup I jam
• Siklus realitas, ide yang dikenali adalah realitas dulu
• Manusia apa yang kita bentuk untuk kebangunan
• Dari sekian krisis yang ada, akhirnya akan terjadi arus balik kebudayaan manusia
• Yehuva JAva
Rabu, 07 April 2010
MY FIRST COCTAIL ON FRANCE’ SHIP... hehe norak bget!!
Di luar dari alasan apapun yang ada, saya sangat menikmati meskipun awalnya tidak. Kita berangkat dari kosku sekitar jam 06. sore lebih, nyampe di tempat (Mutiara Utara, Perak) jam 07 kuranglah. Setelah menitipkan KTP, ternyata kita tidak langsung naik harus menunggu giliran, tentunya tidak bisa melangkahi para perwira tinggi AL, yang kebetulan berdatangan. Kita ketemu dengan bebrapa wartawan, ada 3 orang juga dari IAIN (entah alumni atau masih mahasiswa seperti kita, i dont care!), mereka atas nama Pers. Beberapa waktu kemudian, giliran kita untuk naik.
Semua di luar dugaan, ya memang sangat santai suasananya, sampai-sampai kita bingung. Tidak ada penyambutan khusus, acara mengalir begitu saja, yang ada waittres militer perempuan menghampiri kita menawarkan minuman, kita sedikit ngomong-ngomong dengan beberapa orang yang ada 2 orang militer AL RI, mereka nanya kita kok bisa nyampe disini, sedikit dijawab ala kadarnya. Datang seorang perwira Perancis, setelah kenalan ternyata dia seorang dokter di kapal ini, mungkin agak sedikit jaim dia meninggalkan kelompok kita. Dengan minuman yang tidak begitu keras, kepala ku sedikit muter juga. Aku ama bim2 berubah posisi ke belakang untuk merokok, di samping kita ada beberapa perwira tinggi ‘entah apa pangkatnya, karena bagiku gak penting’, salah satu dari mereka mengeluarkan ‘Joke’ yang gak lucu, karena joke nya berbau sentimen angkatan (AL-AD, menyiggung jenderal besar Sudirman), dari pembicaraan mereka sebenarnya aku menikmatinya, ternyata bi2m ngajak pindah. Belakangan aku baru ingat, sehari sebelumnya dia cerita bahwa bapaknya seorang mantan Brimob. Ketika itu bim2 berusaha ngajak jalan2 ke tengah untuk nyari teman peraktek Perancis, tetapi suasana yang terlihat, para undangan dan tamu rata2 tidak menyatu dalam satu kelompok (terkesan sama2 Jaim, atau takut sama2 gak ngertinya waktu komunikasi) aku menolak.
Setelah itu aku terus berjalan, meskipun sedikit kurang pede karena aku anggap aku saltum pada acara itu, kita sekarang berada dibagian kanan kapal, ternyata kita melihat Miss. Endang, kita sapa, dia datang menghampiri kita, ngajak kita untuk tetap berusaha jalin komunikasi. Beberapa saat kemudian datang seorang pelayan membawa minuman, kali ini aku ingin mencoba yang lainnya, yang putih, tidak tahu apa namanya. Eh, ternyata ini reaksinya lebih keras dari yang pertama aku coba, di samping kita ada salah satu pengajar yang lagi berbicara dengan salah satu perwira bernama Mark, entah karena sedikit mabuk aku menawarkan diri untuk latihan chatting, ya aku bisa, meskipun dibantu sama madame (entah siapa namanya). Bim2, untuk kesekian kali aku suruh untuk bertanya, tetapi dia nyerah! Beberapa saat kemudian percakapan diakhiri dengan ngomong bahasa Inggris.
Kemudian Endang datang, ngajak tour kapal, tanpa babibu aku langsung mengiyakan, bertepatan dengan sesi kesekian minuman yang di keluarkan yaitu CAMPAIGNE, bim2 mencoba satu gelas, aku nyerah dulu takut waktu tur malah mabuk, sekitar setelah setengah jam berlalu tour selesai, dan kita kembali ke tempat acara, ternyata sebagian undangan udah pulang, waktu tur banyak hal tentang peran kapal La Marne (nama sungai di Perancis, untuk mengenang Perang Dunia I) bagi kelancaran operasi militer Perancis di lautan Perancis. Aku masih penasaran untuk mencoba rasa Campaigne, untung masih ada, aku sama brewok nyoba 1 gelas, wow baru setengah gelas aku udah puyeng, lumayanlah rasa nya. Oh ya aku terkesan dengan salah satu guru di CCCL yang sangat perhatian ke kita-kita untuk memanfaatkan moment itu untuk tetap praktek., gak tau siapa namanya. Habis campaigne, kita pulang, yang tersisa dari ku adalah kepala sedikit mabuk.
Poin penting yang kukira yang berkesan adalah bahwa mereka sangat peduli akan kebersihan (salut!)dan kinerja mereka dalam melakukan tugas sangat propesional.
(Sabtu Buta, 20 Mei 2006,03.58 WIB)
Cahaya temaram yang memancar dari sumber pencahayaan malam
Meskipun bukan purnama utuh yang mengutuh
Tapi cahayanya adalah bersitan ketenangan yang menundukkan
Karena purnama yang memancar dari wajahmu adalah satu-satunya
Harapan yang tersisa, karena konon inilah yang dapat aku berdiri tegak
Di atas kerasnya hidup dan misteriNya di atas kerasnya tanah dan misterinya
Purnama syawal, momen yang sedikit dapat kurasakan dari KebesanNya
Karena cahaya purnama mengukir kedatangan sang Komando Perang
kekasihNya, tidakkah aku dapat sedikit saja larut
cahaya purnama bukanlah satu-satunya karya sang Maestro
Cuma, satu-satunya yang dekat dan mudah untuk dipahami
Yang dapat menumpahkan segala kepenatan misteri, meskipun sesaat!
Konon, dalam gambaran yang sangat misterius jugalah tentang purnama
Dalam alam yang tak dapat kurasakan, hanya getaran sebelum rintihan yang dahsyat dari ibu. Mengkristal dalam ingatan dan ditutur dalam kenangan
Jika KekasihNya dapat menggengam dengan salah satu tangannya
Pintaku hanya, aku dapat bersujud di sana
Meminta untuk dicintai
Mengharap dalam lindungan
Dan menyapa salam dalam dekapan
Sekali lagi, meskipun aku dalam keadaan sekarat
Kebimbangan emosi dan ragawi
Bukan hidup mati, apalagi surga neraka
Bagiku, purnama adalah kamu, Dia yang mencinta, cahaya KekasihNya
Entahlah, sampai kapan aku menemukan ketenangan dalam misteri cahaya purnama itu
Jatuh bangun aku mencari keutuhan kodrati
Di awal harapan, ternyata purnama sendiri yang menghempaskanku pada titik nol, tapi aku akan terus menggali asa, mungkin hanya kamu seorang Niel... My Beatrice!!
SMS from My Friends!!
18/06/08 19:00
‘Kenyataan hidup adalah kehidupan itu sendiri, yang peramalannya bukan dari rahim, dan tidak berakhir dalam kuburan. Karena Tahun-tahun yang telah berlalu hanyalah sebuah momen dalam kehidupan abadi; dan dunia hanyalah mimpi di hadapan hantu pengintai yang kita sebut sebagai KEMATIAN’
12/06/08 08:13
‘ujian bukan untuk dihindari, tapi untuk dijalani. Selalu istiqomah dengan cinta adlah do’a untuk selalu menjadi apa saja. Menjadi kakak yang selalu menjaga adiknya, menjadi ayah yang selalu mengayomi anak-anaknya, menjadi sahabat yang selalu siap mendengar keluh kesahnya, dan yang pasti siap menjadi seorang kekasih yang dengan ikhlas mencintai keberadaannya…”Tuhan Tidak akan Pernah Memperkosa Hambanya”.’.
12/06/08 08:12
‘Kita tidak pernah tau darimana kita datang, tapi kita datang. Kita lihat ada jejak, kitapun berjalan mengikutinya. Maka, Keimanan adalah rahasia di balik kerelaan, ketenagaan dan keyakinan bahwa KEHIDUPAN, KEMATIAN adalah HAKNYA. Jangan Bersedih selama kita beriman Kepada Allah’
09/06/08 10:09
‘Jika optimisme tak lagi mengunjungi linangan air mata, maka elegi kesedihan mana yang pantas untuk dikunjunginya. Biarlah mataku kubuat menangis, sepanjang air mataku masih bisa menetes. Karena ku tak ingin kau duduk dengan alas Putus Asa’
29/05/08 12:29
‘bila ku titipkan… bila kutitipkan dukaku pada langit, pastilah langit memanggil mendung. Bila kutitipkan resahku pada angin, pasti angin akan menyeru badai. Bila kutitipkan geramku pada laut, pastilah laut menggiring gelombang. Bila kutitipkan dendamku pada gunung, pastilah gunung mengeluarkan api. Tapi…. Akan ku simpan sendiri mendung dukaku dalam langit dadaku. Ku simpan sendiri badai resahku dalam angin desahku. Aku simpan sendiri gelombang gelapku dalam laut pahamku. Ku simpan sendiri api dendamku dalam gunung resamku. Ku simpan sendiri ….. (Gus Mus_1415 H.)’
23/05/08 12:53
‘Idealisme adalah tanah pekuburan dan tugu-tugu kepahlawanan. Sementara realitas adalah monumen pelipur sakit hati senegeri karena menjadi anak tiri pengembaraan subjek-subjek res cogitan , dan rasa takut terbongkar dari akar yang telah memberi satu tempat di pusat wacana’
23/05/08 12:25
Kita sudah lama hidup dalam tradisi egologi cartesian “je pens donc je suis, cogito ergo sum” saya berpikir maka saya ada. Bukankah itu berarti bahwa kita hidup dalam bentuk arogansi intelektual modern? Yang orientasinya hanya “pour nous rendre comme maitres at possesseur de la nature” agar kita bisa menjadi tuan sekaligus pemilik alam semesta.
23/05/08 12:14
Seperti halnya kebaikan selalu membangun dan mengadakan yang buruk. Karena melalui itu ia mengidentifikasikan dan lantas menjual diri. Maka dari mana lahirnya kejahatan jika bukan dari kebaikan? Maka relasinya adalah, bukan kebaikan yang datang untuk meniadakan kejahatan, melainkan kejahatan sengaja diciptakan agar produk kebaikan bisa laku sebagai pemenang.
From Mardiansyah Palembang (Avicenna 26)
06/06/08 01:38
‘Walaupun satu keluarga, kami tak saling mengenal. Himpunlah daun-daun yang berhamburan ini. Hidupkan lagi ajaran saling mencintai. Ajari lagi kami berkhidmat seperti dulu (Iqbal)’
02/06/08 02:50
‘Aku tidak tahu bagaimana dunia memandangku; tetapi bagiku aku hanyalah seperti anak kecil yang bermain di tepi pantai, dan aku sibuk dari waktu ke waktu mencari batu-batuan yang lebih halus atau kulit kerang yang lebih indah. Sedangkan, samudera besar kebenaran itu tetap tak terungkap di hadapanku (Newton)’
Syamsul Arif ’04
29/05/08 00:54
‘Dalam mulutmu tak hanya angin. Seribu ular bersarang di “sana” menyiapkan sesuatu. Rohku tidur berkasur duri. Geram ini sebenarnya kau yang menggerakkan, hati jadi genderang.’
Mustain Musa 26
23/05/08 13:58
Kematian bukanlah tragedi kecuali kita curi dari Tuhan hak untuk menentukannya, kata cak Nun; kematian bukan untuk ditangisi tapi apa yang menyebabkan kematian itu yang harus diteliti….
Zamzami 27
12/05/08 10:28
Di dunia ini kita diciptakan bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai. Tapi kita harus belajar untuk mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna.
Ulil Abror AlMahmud ‘04
11/02/08 01:50
Tujuan hidupku bukanlah untuk memikul segala keluhan sesal melainkan untuk terus tumbuh (Sindhunata)
11/02/08 00:43
Rivalitas yang meletus menjadi kekerasan memerlukan kambing hitam untuk memulihkan harmoni sosial. (Teori kekerasannya Rene Girard)
Cukup Shinta n Cleo..
Sebelum kau tertunduk dalam kekuasaan Rahwana
Tidakkah kau berkaca, kau tidak perlu berpaling muka untuk mengambil inti
Ya.. inti budi nurani
Dia berserakan, menggelantungan di setiap pori-pori atom
Coba kau lihat, eeit …. Tunggu kau menghirupnya
Tahan! Tahan!
Berkacalah dalam kegelapan
Cuma berkaca, tidak lebih! Tidak cukup berkaca, tapi tembuslah ia
Tidak cukup menembusnya, leburlah dirimu dengan kegelapan tersebut
Temukan dara-daraku di reruntuhan emperior kala
Romawi, Mesir, Mesopetamia, Andalusia, Baghdad
Temukan mereka,
Tidak sesulit mencari jarum di jerami
Karena mereka memakai selempang, meski tak pandai berlenggok
Tidak sekedar berselempang, yang tampak tentunya guratan di wajah mereka
Bukan tompel atau tattoo
Cuma tersisa guratan, guratan takdir dari narasi alam ini
Narasi yang sama, narasi alam dan narasi hukumnya
Cukup shinta dan Cleopatra!?!
Belum! Bagaimana kau tinggalkan Balqis sendirian, tunduk bersimpuh setinggi dengkul Sulaiman, sialnya! Balqis malah lebih tenang, setelah kepalanya disembulkan ke dalam jubah sulaiman
Dan Sulaiman, mendapatkan keuntungan ganda, Sulaimanpun tenang!
Karena cinta juga awal mulanya kejahatan merayap
Jangan lupa, di dalam cinta ada sebersit kejahatan
Siap membuncah!
4 september 2006
Yang berubah adalah bentuk
Yang tidak tetap adalah ukuran
Yang gelisah adalah isi
Tetaplah bernapas
Tetaplah bergizi
Tetaplah berdoa
Tidakkah hanya untuk diingat
Tidak peduli itu putih atau hitam! Disini tidak ada yang penting
Bukan juga yang semestinya
Apalagi seharusnya
Puih! Cuma kata, sama kata sama makna sama tindakan sama pola pikir tidak, tidak pada kata sama: Cuma satu ! ya sama
26 april 2006
Mereka tidak diam!
Bersikeras, dalam sisa nafas kering ku labuh alter egoku..
Aku ajak ia melihat warna dalam irisan pelangi ..
Aku ajak ia menari dalam retakan salju...
Aku ajak ia berdendang mengikuti gemericik hentakan pasir...
Akhirnya ..
aku dipaksa tahu, Pelangi, salju dan pasir tidak sekedar berbisik sendu
Mereka tidak diam,tidak pula bernyanyi …
06 Juli 2009 jam 21:59
Pilihan
Kemaren 10 februari/ Sabtu siang hari aku berangkat dari kosku ke bandara untuk mengejar jadwal keberangkatan ke Palangkaraya melalui maskapai penerbangan Batavia air. Awalnya aku ada deal sama Zakaria untuk berangkat bareng ke bandara Juanda Surabaya. Ternyata 1 jam sebelum berakhirnya deadline check in masih tidak ada kabar dari yang bersangkutan. Trus aku putuskan untuk berangkat sendiri ke tempat tujuan dengan mengendarai taksi. Akhirnya fee yang harus dibayar sebesar Rp. 50.200,- sesuai angka yang ada di mesin argo meter.
Sesampai di bandara tidak seseram yang kukira sebelumnya tentang permasalahan teknis di sana. Kita sebagaimana aturan masyarakat modern yang selalu mengikuti rambu-rambu yang telah ada. Jadi kita hanya mengikuti segala prosedural yang ada saja. Penerbangan sesuai dengan jadwal yang tertera yang ada di karcis, 13.10 wib. Tepat satu jam berikutnya saya sudah sampai di bandara Palangkaraya Cilik Riwut. Setelah menunggu sekitar beberapa menit untuk pengambilan barang, saya dicegat tukang ojek yang menawi untuk mengantarkan ke travel tujuan Sampit. Sesampai di sana dan setelah membayar uang sebesar 25 ribu rupiah kepada tukang ojek. Saya langsung memesan tiket jurusan Sampit dengan membayar uang sebesar 60 rb. Dan dijanjiin berangkat jam empat sore. Setelah beberapa saat menunggu di tempat tersebut saya memutuskan untuk makan, ketika baru memesannya saya didesak sopir untuk cepat menyelesaikan makan dan melanjutkan perjalanan ke sampit.
Selama 4 jam perjalanan ke sampit, saya selalu mengutuk pemerintah dan pihak kontraktor dalam proyek perbaikan jalan. Sepanjang jalan Palangkaraya-Sampit tidak ada jalan yang baik. Tepat setengah sembilan malam saya sampai di rumah dan bertemu dengan saudara-saudaraku.
Sekarang 20 Februari 2007, entah sudah berapa hari aku berada di rumah ini. Hari ini, di rumah berlangsung acara Tasmiyah ponakanku ‘Zaenab Az-zahroh’ dan Aqiqoh dua adik terakhir Laki-laki ku (Nizar dan Wahab). Dimulai jam delapan pagi dan berakhir sebelum azan magrib. Malamnya aku bergadang dengan Ahmad Rayyan, banyak hal yang kita bicarakan tentang pengalaman masing-masing.
Hari ini, pertanyaannya adalah bagaimana menyikapi keadaan yang tidak terkendali secara emosional?jawaban sementara adalah bagaimana kita sedapat mungkin bersikap dewasa dan legowo terhadap situasi tersebut. Apa yang telah terjadi? Tentu bukan perang dunia dengan segala taktik dan perlengkapan senjata yang luar biasa. Ya.. hanya permasalahan penghormatan yang semestinya terhadap sesuatu yang diharapkan. Meredam adalah upaya yang sangat dapat mungkin kita pahami sebagai sesuatu yang lebih dapat diterima secara akal. Meskipun di hati kecil berkata dengan penolakan yang luar biasa terhadap situasi tersebut. Sekali lagi sesuatu adalah sesuatu yang lain. Kita selalu bergerak dalam tujuan sesuatu adalah dengan apa yang ada di kepala kita masing-masing. Ke depannya, isi kepalaku bersikeras untuk menentukan pilihan yang lain. Pilihan berdasarkan emosi dan ego atau pilihan yang lebih agung dan mulia.
warkop ahong
Kesatuan yang tercipta dalam satu harmoni moment
Kadang lahir dengan bentuk yang tiada asing
Bentuk yang terumus sebagai hukum kausalitas
Terkadang juga dia lahir dalam kesempurnaan dari apa yang kita sebut sebagai sebuah keajaiban
Atau ia datang dengan bentuk yang sangat asing
Penuh misteri
Yang butuh jawaban
Sayang untuk dilepas atau cepat-cepat mengenyahkannya
Waktu, tak peduli harus menunggu
Waktu mesti tetap terus berjalan
Menunggu tua, menuju kepastian
Kepastian misteri bagi manusia
Waktu adalah sebuah kenangan dalam ingatan segala bentuk
Waktu adalah sebuah harapan pencapaian
Harapan kesudahan
Waktu adalah ketukan detik yang tak terdengar
Tapi nyata berubah dengan segala bentuk
Satu harapan tulus dari kedirianku dan keaadaan-Mu
Hilangkan keraguan!
Datangkan keteguhan yang tiada tara, antara harapan-harapanku yang lainnya dan ketakutanku akan ketidakpastian.
Meskipun, itu sebuah kenisbian bukan ke-absurditas-an
Bagaikan sebuah nyamuk datang menghampiri di hadapan tanpa dinanya
Ditepuk untuk dibunuh, karena alasan traumatis dari berita dan orang di sekitar kita
Karena malaria dan demam berdarah mesti memaksa kita menguras 4 juta rupiah lebih karenanya. Bukankah lebih baik digunakan pada hal yang kita inginkan yang tertunda? Ditepuk untuk dibunuh, karena alasan dendam membara: “jengkel”,
Atau
Biarkan saja dia berlalu, karena keikhlasan 'zakaria' kita sebagai sesama makhluk, menggaruk karena gatal bukanlah apa-apa, dibandingkan dengan apa yang akan kita dapatkan di akhirat sana. Atau sebagai latihan sufiwi menuju kema’rifan tertinggi.
Bukankah, keberuntungan dan kesialan seperti itu, terkadang tanpa kita ketahui sebelumnya. Ataupun, kita tahu tapi kita tidak mau tahu.
wekeke..
(2 April 2006)
Teesting
2 Juni 2006
Pagi, seperti biasanya. Ketika matahari berada di tengah ufuk cakrawala. Jum’at, seperti biasanya seperti menjadi bagian pengingkaran, untuk beberapa kali ini. Kafir Liberal, karya Emha Ainun Nadjib aku khatamkan ketika orang-orang mengerjakan sholat Jum’at. Ada pemahaman yang lebih lunak tentang pluralisme. Kambing yang berada di kandang sapi tidak harus menjadi sapi begitu sebaliknya. Justis kepada orang yang tidak sepaham dengan apa yang kita yakini, adalah pemerkosaan hak Tuhan. Dan orang ateis komunis bukanlah dipandang secara teologis, mereka tidak bisa dikatakan kafir karena mereka tidak melakukan pengingkaran terhadap tuhan. Karena mereka tidak mengenal tuhan. Hati-hati!
Sehabis makan aku berniat mengajak Samin, untuk menjenguk Izuddin, yang berada di rumah SI. Di kost Samin, ada Imron. Aku menyaksikan konser seorang Anggun C. Sasmi yang telah pindah kewarganegaraan Perancis. Di situ, ada banyak kekaguman yang luar biasa dari para penggemarnya.
Habis, Isya. Kita rombongan menyaksikan konser gratis di taman Surya Surabaya. Dewa 19 dan Ari Lasso. Niat ke Izuddin diurungkan. Ada sensasi baru, yang selama ini tidak dapat kurasakan secara langsung, kali ini dapat ku endapkan dalam memoryku. Mungkin, nantinya dapat menjadi bahan cerita dan masukan data sejarah pribadiku. Mungkin juga, banyak kesan lainnya bagi yang lain. Sperti samin dan ulil, dayu yang kehilangan HP sewaktu konser.
