Kamis, 18 September 2014
Selasa, 07 Mei 2013
Hai Kau Lautan
"Aku terlahir dari rahim purnama jatuh di lautan. Dan berenang ke pantaimu tanpa mata."
Kenapa kau tak bisa menjadi milikku seutuhnya, sebagaimana pernah kau berikan padanya. Banyak kemungkinan untuk itu. Hatimu telah kau bekukan atau kau sekarang pada titik persimpangan yang membingungkan. Kemungkinan yang pasti aku akan mengutukmu jika kau masih mencintainya. yah, atas nama perasaanku yang tulus ini. Aku akan habiskan sisa hidupku, aku hidupkan do'a tiap helai napasku untuk mu. yaa.. untuk mengutukmu. Kelak kau akan tersiksa pada sisa hidupmu, merasai tiap detik dan detail lembar rasa yang pernah kurasakan padamu.
Dan tahukah kau, dengan sikap ketus dan angkuhmu. Aku bisa bertahan, bertahan memaklumi apa yang telah kau lalui. Memahami apa adanya dirimu. Karena itu tak pernah mengusikku sedikitpun untuk bergeser dari sisimu. ku rasakan, ada damai di sana. Tahukah kau, fondasi apa yang bisa membuatku bertahan, adalah perasaanku yang begitu besar padamu. Kalau bukan itu, aku sudah lama akan beranjak. Menjauh ..... dan berjalan dengan sisa angkuh yang kupunya.
Satu hal yang tak berani aku tanyakan padamu secara langsung. Yaitu, apa kau masih mencintainya? jika ku tanyakan hal ini padamu, pasti akan mengusikmu untuk membongkar kenangan manis bersamanya, meskipun yang kau katakan sumpah serapah tentangnya. Dan meskipun, tak ku tanyakan padamu. Kau sering menyelipkan namanya tiap percakapan kita. Inilah yang membuat aku berkeyakinan, bahwa kau masih mencintainya. Sebegitu hebatkah dia? sampai kau sebegitunya. Dan aku harus sebegininya???
Atas nama perasaanku yang tulus ini.. aku akan mengutukmu, di sisa hidupmu. Kau akan terus menderita di sisa hidupmu. Menderita dan selalu akan dikecewakan oleh cinta, jika kau masih menerimanya di hatimu. Aku lebih rela jika kau, bersama yang lain.
Yah, dengan perasaan tulusku padamu. Aku cuma bisa mengutukmu. Aku tak punya kuasa atas dirimu. Atas hati dan pikiranmu. Karena aku mencintaimu. Jika kau tanyakan sampai kapan aku akan mencintaimu? Batas perasaan ini yang lebih realistis dan rasional, aku akan katakan padamu "'Entahlah'. Yang pasti saat ini, aku masih mempunyainya, dan semakin kuat.
Kenapa kau harus butuh waktu sesaat tiap aku katakan 'aku sayang kamu'. Dan itu selalu membuatku malu. Aku seperti pengemis cinta. Dan itu bagiku tak mengapa. Karena aku benar benar sayang kamu. Dan terkadang, itu membuatku tambah penasaran. Apa hebatnya dia, sehingga kau tak bisa melupakannya? Kenangan manis seperti apa yang telah dia tinggalkan, sehingga membuatmu, terlalu luka. Kau masih berusaha menutup pintu. Sangat berhati-hati. akhhhh,,, jika aku tau sebesar apa kadar cintamu padanya. Aku akan memberikan yang setimpal padamu. Sehingga perasaanku padamu setimpal pada kadar yang sama. Atau kau masih bereuphoria tentang segala petualanganmu. Tentang siapa kau?
Ku akui, kau pantas dipuja dan digilai. Ada nilai kepantasan padamu. Dan itulah kenapa aku tergoda untuk mendekatimu, trus terjebak harus menggilaimu. Terjebak pada perasaan ini. Perasaan yang aku benci semenjak dulu. Dan kau harus tau, sekiranya bukan perasaan ini. Aku sudah lama beranjak, menjauh ... Dan sampai saat ini aku tak tau kenapa aku betah memelihara perasaan ini padamu. Mungkin pertanyaannya bukan 'kenapa', tapi 'ada apa'. Yah,, ada damai di sana yang kurasakan.
Damai itulah yang membawaku selalu ingin datang ke kotamu. Menjumpaimu dan ingin selalu dekat denganmu. Damai itulah yang tak pernah aku rasakan. Damai itulah yang selalu kurindukan, dan memancingku untuk selalu merindukanmu.
Sadarkah kau, tiap kali aku datang ke kotamu. Di pulau mu yang di kelilingi pantai nan indah. Aku selalu datang, ketika bulan beranjak purnama. Mungkin kau tak tahu, apalagi mau tahu. Aku menyukai memandang purnama. selalu menyukainya. Hal ini pernah kutanyakan pada ibuku, kenapa aku menyukai melihat bulan terlebih purnama. Lalu beliau mengabarkan, sewaktu mengandungku ibu bermimpi kejatuhan bulan dan menimpa perut ibuku. Itulah kenapa aku menyukai melihat bulan terlebih ketika purnama. Dan itu selalu menjadi harapan besarku bisa melihat bulan purnama di salah satu pantai pulaumu, ketika aku berkunjung menjumpaimu. Tapi keinginan itu tak pernah kuutarakan. Aku terlalu takut, kau akan menampiknya. Karena bukankah kau menghindari suasana romantis, demi menghindari kenangan manis bersamanya. Dan aku tak mau terkesan menjebakmu pada suasana begitu. Dan aku tahu, kau tak mau terjebak pada hal yang sama. Bukankah selama ini kau mencoba meredam perasaanku yang teramat besar ? Dan aku tetap menjadi manusia bodoh di hadapanku sendiri. Dan itulah kenapa aku merasa terlalu malu untuk menjumpaimu, lagi... dan lagi.
@Pulau Biru
Kamis, 11 April 2013
DADU
Akhh.. kau inspirasi ku. Kehadiranmu menggerakkanku untuk menulis. Menulis tiap detail rasa ini. Tiap nikmatnya bahagia. Tiap sakitnya merinduimu disiksa oleh jarak dan hasrat.
Begitulah kita. Bagaikan jauh hari telah direncanakan tuhan. Tentang dua insan, berjauhan jarak dan akhirnya bertemu di satu titik. Kita bagaikan direduksi tuhan menjadi dua buah dadu. Dengan cara yang misterius kita bertemu. Saat ini, mungkin cara misterius tak lagi menjadi kabur bagaimana tuhan mempertemukan kita. Yahh, begitulah pada waktu yang tepat bagi tuhan kita dipertemukan. Yang sebelumnya, kita masing masing bertaruh dan terombang ambing pada kemungkinan nisbi hidup. Dadu.
Tuhan melembar dua buah dadu, dan pada akhirnya menggulirkannya pada satu titik. Kita bertemu, mungkin tidak semegah dan sedramatis cerita pertemuan Adam dan Hawa. Kita punya cerita sendiri. Yang kita tulis sendiri, lantas kita baca sendiri.
Kita bertemu, pada hasrat yang sama. Pada rasa yang tulus. Kehangatan dan kenyamanan. Dan itu pada ku masih bergelora bising. Entahlah padamu. Dan bagiku yang jelas, daduku terus bergulir. Dan aku selalu berjudi dengan perasaanku kepadamu. Berdamai dengan segala kemungkinan waktu.
Maka itu, aku selalu tertarik untuk menulis. Mengabadikan setiap fragmen rasa ini. Agar kelak dalam perjudian rasa ini. Bisa menjadi ruang untuk merenyahkan tawa, atau sekedar memanen airmata.
@Pulau Biru
Begitulah kita. Bagaikan jauh hari telah direncanakan tuhan. Tentang dua insan, berjauhan jarak dan akhirnya bertemu di satu titik. Kita bagaikan direduksi tuhan menjadi dua buah dadu. Dengan cara yang misterius kita bertemu. Saat ini, mungkin cara misterius tak lagi menjadi kabur bagaimana tuhan mempertemukan kita. Yahh, begitulah pada waktu yang tepat bagi tuhan kita dipertemukan. Yang sebelumnya, kita masing masing bertaruh dan terombang ambing pada kemungkinan nisbi hidup. Dadu.
Tuhan melembar dua buah dadu, dan pada akhirnya menggulirkannya pada satu titik. Kita bertemu, mungkin tidak semegah dan sedramatis cerita pertemuan Adam dan Hawa. Kita punya cerita sendiri. Yang kita tulis sendiri, lantas kita baca sendiri.
Kita bertemu, pada hasrat yang sama. Pada rasa yang tulus. Kehangatan dan kenyamanan. Dan itu pada ku masih bergelora bising. Entahlah padamu. Dan bagiku yang jelas, daduku terus bergulir. Dan aku selalu berjudi dengan perasaanku kepadamu. Berdamai dengan segala kemungkinan waktu.
Maka itu, aku selalu tertarik untuk menulis. Mengabadikan setiap fragmen rasa ini. Agar kelak dalam perjudian rasa ini. Bisa menjadi ruang untuk merenyahkan tawa, atau sekedar memanen airmata.
@Pulau Biru
Bukan Sekedar Kata
Perasaan ini sempat reda, membaca balasan bbm kalimat terakhirmu. Katamu aku banyak mengeluh. Aku marah membacanya. Karena aku bukan pengeluh. Aku cuma mengeluh padamu. Akh, mungkin aku salah orang. Aku saja yang mudah merasa Ge-Er. Tapi aku bukan lah orang yang mudah begitu, terlebih pada sifatnya picisan.
Malamnya, aku baca status facebookmu tentang Tuhan, kau dan dia. Apapun maksudmu dengan tulisanmu itu. Anehnya, reda ini cuma jeda yang sesaat. Perasaan ini kembali kuat,menggoyahkan jiwaku.kamu terlalu lekat di jiwaku. Sosokmu kembali menyergapku. Menguasai pikiran dan memompa jantungku dengan namamu. Ianya kembali lagi, tambah kuat. Akh, mungkin ini berlebihan.
Tapi tak mengapalah. Aku cemburu, entah apa yang aku cemburui. Kamu bukan siapa2 ku, kamu cuma asing yang menemaniku bermain ayunan. Mendorongku dengan perlahan awalnya, berulang ulang, dan aku kwatir kau pergi. Aku takut kau tinggalkan sendiri. Pastinya aku akan sepi bermain sendiri.
Aku terlalu berharap kau selalu menemaniku bermain ayunan. Aku terlalu percaya padamu. Jujur, aku sebenarnya ingin membakar perasaan ini. Hingga menjadi abu dan tak ada rupa yang membentuk di rongga hati dan pikiran ini. Membakarnya dengan bensin kwalitas bagus. Lalu menikamnya, agar tak bersisa bentuk rasa baru. Dendam dan benci.
Sebelum itu terlalu jauh. Tapi, apa kuasaku dalam kondisi seperti ini. Diri ini telah diambil alih oleh wujud lain. Bagimu, itu sekedar kata, dan ini juga tak lain sekedar kata. Akh, mungkin beginilah Tuhan ingin memperbaiki ku dengan selalu ingin menyayangimu
Malamnya, aku baca status facebookmu tentang Tuhan, kau dan dia. Apapun maksudmu dengan tulisanmu itu. Anehnya, reda ini cuma jeda yang sesaat. Perasaan ini kembali kuat,menggoyahkan jiwaku.kamu terlalu lekat di jiwaku. Sosokmu kembali menyergapku. Menguasai pikiran dan memompa jantungku dengan namamu. Ianya kembali lagi, tambah kuat. Akh, mungkin ini berlebihan.
Tapi tak mengapalah. Aku cemburu, entah apa yang aku cemburui. Kamu bukan siapa2 ku, kamu cuma asing yang menemaniku bermain ayunan. Mendorongku dengan perlahan awalnya, berulang ulang, dan aku kwatir kau pergi. Aku takut kau tinggalkan sendiri. Pastinya aku akan sepi bermain sendiri.
Aku terlalu berharap kau selalu menemaniku bermain ayunan. Aku terlalu percaya padamu. Jujur, aku sebenarnya ingin membakar perasaan ini. Hingga menjadi abu dan tak ada rupa yang membentuk di rongga hati dan pikiran ini. Membakarnya dengan bensin kwalitas bagus. Lalu menikamnya, agar tak bersisa bentuk rasa baru. Dendam dan benci.
Sebelum itu terlalu jauh. Tapi, apa kuasaku dalam kondisi seperti ini. Diri ini telah diambil alih oleh wujud lain. Bagimu, itu sekedar kata, dan ini juga tak lain sekedar kata. Akh, mungkin beginilah Tuhan ingin memperbaiki ku dengan selalu ingin menyayangimu
Selasa, 09 April 2013
Waktu itu abstrak,
Tau tau kita udah bisa jalan
Tau tau kita sudah tinggi secara fisik
Tau tau kita sudah merasai apa itu mimpi basah
Tau tau kita sudah merasa pantas punya pacar
Tau tau kita sudah merasa pantas menikah
dst dst
Waktu itu abstrak..
Tau tau kita sudah ubanan dan keriput
Tau tau, tanggungjawab tambah
Tau tau .. kita berkalang tanah
Akhhh... trus apa yang kita tinggalkan setelah 'waktu' itu berhenti
Tau tau kita udah bisa jalan
Tau tau kita sudah tinggi secara fisik
Tau tau kita sudah merasai apa itu mimpi basah
Tau tau kita sudah merasa pantas punya pacar
Tau tau kita sudah merasa pantas menikah
dst dst
Waktu itu abstrak..
Tau tau kita sudah ubanan dan keriput
Tau tau, tanggungjawab tambah
Tau tau .. kita berkalang tanah
Akhhh... trus apa yang kita tinggalkan setelah 'waktu' itu berhenti
Senin, 08 April 2013
Perasaan Ini
Perasaan ini adalah anugerah ,,
Dia datang tak dinanya, dia tak bisa dipaksa, dia juga tak bisa dimanipulasi
Dia bisa tumbuh perlahan, atau tumbuh dengan cepat
Dia ghaib seperti makhluk ghaib lainnya
Nah, apapun definisinya tentang itu
Hal yang misteri dan mengintervensikan Tuhan di dalamnya
Bukanlah hal yang perlu diperdebatkan.
Apapun tingkatan dan menjebaknya pada makna dan penamaan
Perasaan ini, tetap anugerah.
Dia tak butuh bantuan rasio dalam bertindak
Dia butuh penenang rasa, apapun bentuknya
Dia mencipta dinamika rasa, bentuknya bermacam
Kata, tindakan, atau sekedar puncak emosi lainnya
Perasaan ini adalah anugerah,,
Jangan tanyakan seberapa lama dia mampu bersemayam dalam hati dan pikiran
Karena dia misteri
Kita sekedar berikhtiar dalam memelihara, memperjuangkan dan mempertahankan semangatnya tetap ada.
Pada situasi ini, dia tak butuh spesifikasi subjek dan objek
Perasaan Tulus ini, adalah suci
Dia bisa saja datang dari 4 penjuru mata angin
Dia bisa saja mendarat pada dimensi apa saja
Dan dia butuh bantuan kekuatan kosmik untuk tetap ada
Maka itu aku berdoa:
'Ya Tuhan, sayangilah DIA, sebagaimana aku menyayanginya' -XOXO - BA
Dia datang tak dinanya, dia tak bisa dipaksa, dia juga tak bisa dimanipulasi
Dia bisa tumbuh perlahan, atau tumbuh dengan cepat
Dia ghaib seperti makhluk ghaib lainnya
Nah, apapun definisinya tentang itu
Hal yang misteri dan mengintervensikan Tuhan di dalamnya
Bukanlah hal yang perlu diperdebatkan.
Apapun tingkatan dan menjebaknya pada makna dan penamaan
Perasaan ini, tetap anugerah.
Dia tak butuh bantuan rasio dalam bertindak
Dia butuh penenang rasa, apapun bentuknya
Dia mencipta dinamika rasa, bentuknya bermacam
Kata, tindakan, atau sekedar puncak emosi lainnya
Perasaan ini adalah anugerah,,
Jangan tanyakan seberapa lama dia mampu bersemayam dalam hati dan pikiran
Karena dia misteri
Kita sekedar berikhtiar dalam memelihara, memperjuangkan dan mempertahankan semangatnya tetap ada.
Pada situasi ini, dia tak butuh spesifikasi subjek dan objek
Perasaan Tulus ini, adalah suci
Dia bisa saja datang dari 4 penjuru mata angin
Dia bisa saja mendarat pada dimensi apa saja
Dan dia butuh bantuan kekuatan kosmik untuk tetap ada
Maka itu aku berdoa:
'Ya Tuhan, sayangilah DIA, sebagaimana aku menyayanginya' -XOXO - BA
Sabtu, 06 April 2013
Halah,,, Mulai dehh!
Mengingat dalam artian rindu adalah hal yang jarang ku alami. Dan itu dapat kurasakan ketika bertemu denganmu..
Awalnya, pada pertemuan pertama denganmu. Merupakan hal yang biasa. Pertemuan sebagaimana yang pernah ku lakukan dengan para asing lainnya. Semua hanya upaya memecah rasa penasaran. Tanpa emosi, tanpa getaran tanpa janji tulus untuk bertemu lagi. Sekedar menambah cerita, cerita hidup. Tentang petualangan.
Tapi denganmu, semua berubah. Ada getar, tumbuh emosi. Tubuh dan jiwamu memaksa masuk dalam ingatan. Ada harapan untuk menjalin janji pada pertemuan lanjutan. Ada kehangatan, ada kenyamanan, ada kerinduan. Ada ketakpedulian pada kekurangan. Ada desakan untuk menyayangimu. Dan semuanya tanpa perencanaan. Tanpa rekayasa.
Entahlah, tak tahu kapan itu bermula. Apa yang menjadi penyebab. Jangan jangan karena sugesti yang ku sebar awalnya. Sugesti yang mempercayaimu dengan kepingan cerita hidupku, yang dengan tanpa babibu ku lempar padamu. Sugesti dari kepingan ceritamu, yang aku terjebak di dalamnya. Entahlah pula, yang mana lebih dominan menjadi penyebab rasa ini.
Dan aku memaksamu dengan luka yang masih belum sembuh. Memberi posisi koordinatku, agar tak lepas dari radarmu. Karena entah dari mana, rinduku terlalu besar. Sesak di dada dalam mengingatmu tak bisa dibohongi. Memaksamu menyambutku di kotamu untuk bertemu janji untuk yang ke dua kali. Tanpa sepengetahuanmu, aku menyimpan kekwatiran yang sangat besar untuk pertemuan ke dua ini. Setelah pertemuan ini berakhir, bagaimana aku bisa menghadapi rindu padamu. Bukan karena jarak, tapi karena besarnya kepedulianmu.
Dan di sinilah aku, berjuang memahami diriku yang tak bisa kompromi dalam merindui mu. Yang terlalu banyak menuntut mu. Memahami diriku sendiri bagaimana sosokmu hadir bagaikan virus yang menjalar di setiap nadi dan rongga pori tubuhku. Semakin aku paksa untuk menghindar mengingatmu, semakin nyata kau hadir dalam pikiran.
Terkadang aku bertanya pada diriku sendiri. Kenapa harus sekarang? Kenapa harus kamu? Jenis virus yang bagaimanakah yang telah kau suntikkan padaku, yang bisa merobohkan pertahanan prinsipku. Dan jenis antivirus yang bagaimanakah yang bisa memusnahkanmu dalam pikiranku?
Yang menjadi pertanyaan berbahaya bagi kita berdua adalah, bagaimana kalau aku benar benar jatuh cinta padamu dan berharap banyak pada hatimu. Bukan sekedar seiris hatimu saja, tapi seutuhnya. Tapi yang pasti untuk saat ini, aku merindui jiwa dan tubuhmu,,, Baaahhhhh! ;)
Awalnya, pada pertemuan pertama denganmu. Merupakan hal yang biasa. Pertemuan sebagaimana yang pernah ku lakukan dengan para asing lainnya. Semua hanya upaya memecah rasa penasaran. Tanpa emosi, tanpa getaran tanpa janji tulus untuk bertemu lagi. Sekedar menambah cerita, cerita hidup. Tentang petualangan.
Tapi denganmu, semua berubah. Ada getar, tumbuh emosi. Tubuh dan jiwamu memaksa masuk dalam ingatan. Ada harapan untuk menjalin janji pada pertemuan lanjutan. Ada kehangatan, ada kenyamanan, ada kerinduan. Ada ketakpedulian pada kekurangan. Ada desakan untuk menyayangimu. Dan semuanya tanpa perencanaan. Tanpa rekayasa.
Entahlah, tak tahu kapan itu bermula. Apa yang menjadi penyebab. Jangan jangan karena sugesti yang ku sebar awalnya. Sugesti yang mempercayaimu dengan kepingan cerita hidupku, yang dengan tanpa babibu ku lempar padamu. Sugesti dari kepingan ceritamu, yang aku terjebak di dalamnya. Entahlah pula, yang mana lebih dominan menjadi penyebab rasa ini.
Dan aku memaksamu dengan luka yang masih belum sembuh. Memberi posisi koordinatku, agar tak lepas dari radarmu. Karena entah dari mana, rinduku terlalu besar. Sesak di dada dalam mengingatmu tak bisa dibohongi. Memaksamu menyambutku di kotamu untuk bertemu janji untuk yang ke dua kali. Tanpa sepengetahuanmu, aku menyimpan kekwatiran yang sangat besar untuk pertemuan ke dua ini. Setelah pertemuan ini berakhir, bagaimana aku bisa menghadapi rindu padamu. Bukan karena jarak, tapi karena besarnya kepedulianmu.
Dan di sinilah aku, berjuang memahami diriku yang tak bisa kompromi dalam merindui mu. Yang terlalu banyak menuntut mu. Memahami diriku sendiri bagaimana sosokmu hadir bagaikan virus yang menjalar di setiap nadi dan rongga pori tubuhku. Semakin aku paksa untuk menghindar mengingatmu, semakin nyata kau hadir dalam pikiran.
Terkadang aku bertanya pada diriku sendiri. Kenapa harus sekarang? Kenapa harus kamu? Jenis virus yang bagaimanakah yang telah kau suntikkan padaku, yang bisa merobohkan pertahanan prinsipku. Dan jenis antivirus yang bagaimanakah yang bisa memusnahkanmu dalam pikiranku?
Yang menjadi pertanyaan berbahaya bagi kita berdua adalah, bagaimana kalau aku benar benar jatuh cinta padamu dan berharap banyak pada hatimu. Bukan sekedar seiris hatimu saja, tapi seutuhnya. Tapi yang pasti untuk saat ini, aku merindui jiwa dan tubuhmu,,, Baaahhhhh! ;)
Langganan:
Postingan (Atom)
