Rabu, 07 April 2010

Syawal digengaman purnama 1427,

Cahaya temaram yang memancar dari sumber pencahayaan malam
Meskipun bukan purnama utuh yang mengutuh
Tapi cahayanya adalah bersitan ketenangan yang menundukkan
Karena purnama yang memancar dari wajahmu adalah satu-satunya
Harapan yang tersisa, karena konon inilah yang dapat aku berdiri tegak
Di atas kerasnya hidup dan misteriNya di atas kerasnya tanah dan misterinya

Purnama syawal, momen yang sedikit dapat kurasakan dari KebesanNya
Karena cahaya purnama mengukir kedatangan sang Komando Perang
kekasihNya, tidakkah aku dapat sedikit saja larut

cahaya purnama bukanlah satu-satunya karya sang Maestro
Cuma, satu-satunya yang dekat dan mudah untuk dipahami
Yang dapat menumpahkan segala kepenatan misteri, meskipun sesaat!

Konon, dalam gambaran yang sangat misterius jugalah tentang purnama
Dalam alam yang tak dapat kurasakan, hanya getaran sebelum rintihan yang dahsyat dari ibu. Mengkristal dalam ingatan dan ditutur dalam kenangan

Jika KekasihNya dapat menggengam dengan salah satu tangannya
Pintaku hanya, aku dapat bersujud di sana
Meminta untuk dicintai
Mengharap dalam lindungan
Dan menyapa salam dalam dekapan
Sekali lagi, meskipun aku dalam keadaan sekarat
Kebimbangan emosi dan ragawi
Bukan hidup mati, apalagi surga neraka

Bagiku, purnama adalah kamu, Dia yang mencinta, cahaya KekasihNya


Entahlah, sampai kapan aku menemukan ketenangan dalam misteri cahaya purnama itu


Jatuh bangun aku mencari keutuhan kodrati



Di awal harapan, ternyata purnama sendiri yang menghempaskanku pada titik nol, tapi aku akan terus menggali asa, mungkin hanya kamu seorang Niel... My Beatrice!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar