2 Juni 2006
Pagi, seperti biasanya. Ketika matahari berada di tengah ufuk cakrawala. Jum’at, seperti biasanya seperti menjadi bagian pengingkaran, untuk beberapa kali ini. Kafir Liberal, karya Emha Ainun Nadjib aku khatamkan ketika orang-orang mengerjakan sholat Jum’at. Ada pemahaman yang lebih lunak tentang pluralisme. Kambing yang berada di kandang sapi tidak harus menjadi sapi begitu sebaliknya. Justis kepada orang yang tidak sepaham dengan apa yang kita yakini, adalah pemerkosaan hak Tuhan. Dan orang ateis komunis bukanlah dipandang secara teologis, mereka tidak bisa dikatakan kafir karena mereka tidak melakukan pengingkaran terhadap tuhan. Karena mereka tidak mengenal tuhan. Hati-hati!
Sehabis makan aku berniat mengajak Samin, untuk menjenguk Izuddin, yang berada di rumah SI. Di kost Samin, ada Imron. Aku menyaksikan konser seorang Anggun C. Sasmi yang telah pindah kewarganegaraan Perancis. Di situ, ada banyak kekaguman yang luar biasa dari para penggemarnya.
Habis, Isya. Kita rombongan menyaksikan konser gratis di taman Surya Surabaya. Dewa 19 dan Ari Lasso. Niat ke Izuddin diurungkan. Ada sensasi baru, yang selama ini tidak dapat kurasakan secara langsung, kali ini dapat ku endapkan dalam memoryku. Mungkin, nantinya dapat menjadi bahan cerita dan masukan data sejarah pribadiku. Mungkin juga, banyak kesan lainnya bagi yang lain. Sperti samin dan ulil, dayu yang kehilangan HP sewaktu konser.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar