"Aku terlahir dari rahim purnama jatuh di lautan. Dan berenang ke pantaimu tanpa mata."
Kenapa kau tak bisa menjadi milikku seutuhnya, sebagaimana pernah kau berikan padanya. Banyak kemungkinan untuk itu. Hatimu telah kau bekukan atau kau sekarang pada titik persimpangan yang membingungkan. Kemungkinan yang pasti aku akan mengutukmu jika kau masih mencintainya. yah, atas nama perasaanku yang tulus ini. Aku akan habiskan sisa hidupku, aku hidupkan do'a tiap helai napasku untuk mu. yaa.. untuk mengutukmu. Kelak kau akan tersiksa pada sisa hidupmu, merasai tiap detik dan detail lembar rasa yang pernah kurasakan padamu.
Dan tahukah kau, dengan sikap ketus dan angkuhmu. Aku bisa bertahan, bertahan memaklumi apa yang telah kau lalui. Memahami apa adanya dirimu. Karena itu tak pernah mengusikku sedikitpun untuk bergeser dari sisimu. ku rasakan, ada damai di sana. Tahukah kau, fondasi apa yang bisa membuatku bertahan, adalah perasaanku yang begitu besar padamu. Kalau bukan itu, aku sudah lama akan beranjak. Menjauh ..... dan berjalan dengan sisa angkuh yang kupunya.
Satu hal yang tak berani aku tanyakan padamu secara langsung. Yaitu, apa kau masih mencintainya? jika ku tanyakan hal ini padamu, pasti akan mengusikmu untuk membongkar kenangan manis bersamanya, meskipun yang kau katakan sumpah serapah tentangnya. Dan meskipun, tak ku tanyakan padamu. Kau sering menyelipkan namanya tiap percakapan kita. Inilah yang membuat aku berkeyakinan, bahwa kau masih mencintainya. Sebegitu hebatkah dia? sampai kau sebegitunya. Dan aku harus sebegininya???
Atas nama perasaanku yang tulus ini.. aku akan mengutukmu, di sisa hidupmu. Kau akan terus menderita di sisa hidupmu. Menderita dan selalu akan dikecewakan oleh cinta, jika kau masih menerimanya di hatimu. Aku lebih rela jika kau, bersama yang lain.
Yah, dengan perasaan tulusku padamu. Aku cuma bisa mengutukmu. Aku tak punya kuasa atas dirimu. Atas hati dan pikiranmu. Karena aku mencintaimu. Jika kau tanyakan sampai kapan aku akan mencintaimu? Batas perasaan ini yang lebih realistis dan rasional, aku akan katakan padamu "'Entahlah'. Yang pasti saat ini, aku masih mempunyainya, dan semakin kuat.
Kenapa kau harus butuh waktu sesaat tiap aku katakan 'aku sayang kamu'. Dan itu selalu membuatku malu. Aku seperti pengemis cinta. Dan itu bagiku tak mengapa. Karena aku benar benar sayang kamu. Dan terkadang, itu membuatku tambah penasaran. Apa hebatnya dia, sehingga kau tak bisa melupakannya? Kenangan manis seperti apa yang telah dia tinggalkan, sehingga membuatmu, terlalu luka. Kau masih berusaha menutup pintu. Sangat berhati-hati. akhhhh,,, jika aku tau sebesar apa kadar cintamu padanya. Aku akan memberikan yang setimpal padamu. Sehingga perasaanku padamu setimpal pada kadar yang sama. Atau kau masih bereuphoria tentang segala petualanganmu. Tentang siapa kau?
Ku akui, kau pantas dipuja dan digilai. Ada nilai kepantasan padamu. Dan itulah kenapa aku tergoda untuk mendekatimu, trus terjebak harus menggilaimu. Terjebak pada perasaan ini. Perasaan yang aku benci semenjak dulu. Dan kau harus tau, sekiranya bukan perasaan ini. Aku sudah lama beranjak, menjauh ... Dan sampai saat ini aku tak tau kenapa aku betah memelihara perasaan ini padamu. Mungkin pertanyaannya bukan 'kenapa', tapi 'ada apa'. Yah,, ada damai di sana yang kurasakan.
Damai itulah yang membawaku selalu ingin datang ke kotamu. Menjumpaimu dan ingin selalu dekat denganmu. Damai itulah yang tak pernah aku rasakan. Damai itulah yang selalu kurindukan, dan memancingku untuk selalu merindukanmu.
Sadarkah kau, tiap kali aku datang ke kotamu. Di pulau mu yang di kelilingi pantai nan indah. Aku selalu datang, ketika bulan beranjak purnama. Mungkin kau tak tahu, apalagi mau tahu. Aku menyukai memandang purnama. selalu menyukainya. Hal ini pernah kutanyakan pada ibuku, kenapa aku menyukai melihat bulan terlebih purnama. Lalu beliau mengabarkan, sewaktu mengandungku ibu bermimpi kejatuhan bulan dan menimpa perut ibuku. Itulah kenapa aku menyukai melihat bulan terlebih ketika purnama. Dan itu selalu menjadi harapan besarku bisa melihat bulan purnama di salah satu pantai pulaumu, ketika aku berkunjung menjumpaimu. Tapi keinginan itu tak pernah kuutarakan. Aku terlalu takut, kau akan menampiknya. Karena bukankah kau menghindari suasana romantis, demi menghindari kenangan manis bersamanya. Dan aku tak mau terkesan menjebakmu pada suasana begitu. Dan aku tahu, kau tak mau terjebak pada hal yang sama. Bukankah selama ini kau mencoba meredam perasaanku yang teramat besar ? Dan aku tetap menjadi manusia bodoh di hadapanku sendiri. Dan itulah kenapa aku merasa terlalu malu untuk menjumpaimu, lagi... dan lagi.
@Pulau Biru
