Senin, 26 April 2010

Ohh......Yunani.....!!!!!!

Ada pandangan yang sedikit menyimpang, ketika kita berbicara tentang inti pemikiran yang diwariskan oleh para filosof Yunani. Kehebatan mereka bukan pada mengawali sebuah peradaban yang beradab (berbudaya) dan memberikan pencerahan yang utuh terhadap penggunaan akal sebagai mesin penggerak peradaban manusia. Karena sebelum masyhurnya Yunani sebagai peletak awal dasar berlogika dan menguak secara jelas segala nilai kebaikan yang ada pada manusia dan alam. Di sekitar “mereka” telah berkembang dan maju dari kemajuan peradaban seperti: di Mesir, India dan Persia. Kemajuan peradaban di sekitar Yunani dapat kita telisik dari kemajuan teknologi yang telah dicapai seperti: ilmu matematika, ilmu perbintangan, arsitektur dan lain sebagainya. Sayang diganyang, kemajuan mereka hanya sebatas ilmu Eksakta (teknologi).

‘Arche’ sebagai materi pertama, adalah adikarya penemuan orang Yunani bagi peradaban seluruh bangsa yang tetap lestari dan perubahannya hingga jaman sekarang. Disini, orang Yunanilah yang mampu memikirkan dan memadukan apa itu sebuah benda (materi). Pada benda ini kemudian dimasukkan unsur-unsur metafisika, psikologisnya, dicarikan epistemologinya, dimantapkan ontologisnya dan diwariskan menjadi tradisi intelektual yang elegan.

Pra Sokrates; segala benda ditemukan karakteristiknya baik jenis dan sifatnya. Tradisi ini terus berkembang pada masa Sokrates dengan peletakan metode yang tepat dan membincangkan sesuatu dengan kebenaran setiap orang. Pada masa Plato sedikit demi sedikit dimatangkan dengan pembahasan pada menggabungkan karakteristik benda yang telah lebih dulu digagas pada Pra Sokrates dengan kemampuan instrumen matematika sebagai sebuah metode dengan cara berdialektika yang tepat.
Hadirnya Plato dengan segala buah pemikiran dan karya yang dia wariskan, dalam perjalanannya menyisakan dinamika sejarah tanpa henti. Ini tentunya ketika pemikiran bukanlah sebuah sistematika yang baku, tidak menjadi kata benda ‘objek’. Karena pemikiran (karya) adalah sebagai produk yang secara terus menerus berproses. Ketika proses terjadi dengan dinamika yang bersifat futuristik (organik) dia akan mengalami reorganisasi terus menerus. Dinamika tentunya akan mengemas produk pemikiran menjadi lebih otonom, siapa saja boleh memberikan interpretasi yang bertanggung jawab. Akhirnya, filsafat dan pemikiran adalah perjuangan tanpa henti.

Dus, pemikiran adalah sebuah produk yang selalu berproses, tentunya dia akan terus berkembang. Perkembangan ini tidak pada hal yang positif tetapi lebih pada hal negatif yang kita sebut sebagai kritik (tidak pada penyangkalan). Pada posisi yang tentatif inilah dinamika pemikiran tidak akan pernah selesai, selalu akan menimbulkan bias. Hal ini tentunya positif karena ada proses dinamika.

Nah, sekarang kita kembali ke Plato. Plato abadi (adanya dinamika tadi) karena Aristoteles berupaya membangun dialektika. Murid Plato ini berupaya mengisi celah (mengkritik) yang ditinggalkan gurunya tersebut dengan memadukan antara idealisme dan realisme. Karena dia memandang Plato terlalu lemah dengan ide-ide bayangannya (konsep), Aristoteles lebih cenderung menggunakan ide-ide konkret (vision of cosmos). Disini logikanya Aristoteles tampak lebih baru; dia memakai dualisme Plato yang dibalikkan. Materii dan rohani, yang penting materi baru substansi yang dicoba untuk diverifikasi (bukan berarti dia ilmuwan).

Sedikit kesimpulan, dari Thales hingga Aristoteles mewariskan semangat pencerahan (rasionalisasi yang tinggi) pada tahap awal yaitu akal (hitung-menghitung dan logika) dan budi (budidaya). Kedua, sudah mulai dikenal pemisahan (epistemologi) ilmu dan terakhir material, yang ditawarkan menjadi isu-isu abadi (misalnya: keindahan, kebaikan, kebenaran, kebajikan dll.). Sekian!!!!!!!!!



Salam Berpikir
Cuplis Iwei
Pengurus HMJ AF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar