
V For Vendetta,
adalah salah satu film Hollywood terbaru yang diangkat dari komik karya Alan Moor asal Inggris, yang naskahnya diadaptasi oleh The Wachowski Brother yang terkenal lewat trilogy Matrix. Komik Alan (V For Vandetta) ini terinspirasi oleh salah satu anggota Gunpowder Plot pada tahun 1605. Di mana sekelompok Katolik mencoba untuk meledakkan House Of Parliament (Inggris) dan membunuh Raja James I, untuk memprotes pemerintah Protestan. Bom diletakkan di bawah tanah parlemen sebanyak 2,5 ton. Rencana ini gagal, setelah pengawal raja mendapati tumpukan bahan peledak tersebut. Guy dieksekusi dengan digantung. Kegagalan persekongkolan kelompok ini memaklumatkan raja untuk memperingatinya dengan nama Bonfire Night (hingga sekarang) dimana kembang api dinyalakan dan boneka Fawkes dibakar.
Setelah diangkat menjadi film, pesan yang ingin disampaikan (sesuai dengan komik aslinya, meskipun ada sedikit dramatisasi) dari film ini adalah gambaran sebuah Negara di masa depan yang jauh dari kebahagian dan kesempurnaan, yakni dunia distopia yang mana menakutkan dan suram.
Ketakutan menghadapi realitas, kehilangan realitas dan pengabaiannya. Dan selalu menjadi pertanyaan adalah sampai kapan kita akan bertahan. Terkadang untuk bebas dari ketidaknyamanan adalah hal yang tersulit yang mesti kita hadapi, butuh perjuangan yang luar biasa. Ketidaknyaman dan kegelisahan ini menjadi momok yang luar biasa yang selalu menghantui orang-orang (pemuda) yang akhirnya menjadi “luar biasa” pada semua bangsa. Apakah ini sebuah kewajaran yang alami di usia-usia labil? Seperti halnya Muhammad yang terlalu resah dan selalu resah tentang siapa dirinya dan apa yang mesti dilakukan bagi peradapan dimana dia hidup dan akan dia tinggalkan. Meskipun sisi ego-pragmatis yang tidak terpisahkan tidak luput dari keresahannya. Ego-pragmatis tentang penemuan identitas sebenar dari berke-Tuhan-annya.
Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti acara khataman di basecamp komisariat Ushuluddin. Targetan apa yang sebenarnya yang ingin dicapai dari adanya Khataman (dan beberapa acara iringan lainnya) yang diadakan oleh komisariaat. Apa setiap aksi untuk reaksi selalu dibangun di atas kemunafikan. Sampai kapan? Kalau Launching (konon istilah inilah yang dipakai) TPA –taman pendidikan alternative- sebagai usaha para sahabat dalam koridor Pergerakan untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat sekitar lewar media pendidikan. Kenapa rentetan acara tersebut mesti diawali khataman Al-Qur’an? Penghinaankah bagi Tuhan? Okelah, seandainya khataman adalah awal yang diupayakan sebagai itikad baik bagi sahabat-sahabat PMII untuk mendapatkan reaksi yang baik bagi masyarakat sekitar dengan membangun citra alim. Sekali lagi, apakah ini tidak terlalu rapuh, ketika komitmen setengah hati ini disepakati di atas kemunafikan.
Setidaknya membicarakan taman pendidikan, ada standarisasi ideal yang sudah dipersiapkan atau setidaknya telah dicapai. Ada materi yang jelas, ada kesiapan SDM pengajar yang siap berkomitmen dll. Karena pendidikan adalah kerja amanah yang tanggung jawabnya secara langsung pada masyarakat (kalau tanggung jawab yang sebenarnya langsung kepada Tuhan, terlalu berat). Bukankah terkesan ‘kucuk-kucuk’ langsung jadi. Apa kita mesti ikut-ikutan para koki dewan (istilah Gus Mus) yang terlalu gegabah untuk menetapkan, merevisi dan mere-revisi setiap undang-undang (rancangan).
Inikah latah dari tidak adanya visi dan misi para elit manusia bangsa ini, sehingga perlu dicontoh dalam konteks kecil gerakan Mahasiswa. Terlalu bosan (mungkin??!!!) untuk mengatakan ini sebagai gambaran kecil dari keadaan bangsa ini. Aduh, sangat disayangkan tentunya, seandainya orang-orang ini (kita, saya dan ‘elu’ semua) yang akan memimpin bangsa ini, nantinya. Ketika sebuah acara dikemas secara asal-asalan, ketika gagah-gagahan menjadi sesuatu yang esensi dalam setiap kegiatan kita. Jika ini yang terjadi, tentunya akan menambah panjangnya kebobrokan peradaban yang dihasilkan oleh anak bangsa. Atau ini hanyalah sebuah skenario konspirasi kecil ala mahasiswa IAIN yang sengaja diciptakan sebagai salah satu “kesemarakan pembelajaran” politik sahabat-sahabat di dunia yang tak terwakili (IAIN). Atau ada kemungkinan yang lain yang dapat diruntut secara berurut (mungkin ada yang ingin membantu saya?).
Dari sini, kebenaran yang seperti apa yang kita coba cari, punyai (dari proses self-becoming dan self-development) dan akan kita berikan kepada lingkungan sosial. Jika cara dialektika yang asal-asalan dengan masyarakat sekitar hanyalah resiko yang dicoba untuk dijalani. Bukankah dialektika menyatakan kesan-kesan penginderaan bukanlah obyek yang utama dari pengetahuan, karena penginderaan mensyaratkan adanya subjek yang memperoleh kesadaran diri melalui perjuangan untuk memperoleh pengakuan dari pihak lain. Ketika kesadaran ini pada akhirnya diperoleh, satu titik tercapai dari diri (self) dipandang sebagai emanasi dari dunia spirit, dari mana kebenaran bisa dicapai secara menyeluruh (whole).
Kebenaran adalah “Whole” (menyeluruh, utuh), Hegel melawankan doktrin tentang the whole dengan apa yang parsial atau bagian-bagian. Negara adalah spirit the whole, kelompok-kelompok masyarakat adalah parsial-parsial. Ide-ide atau gagasan-gagasan adalah parsial -jika ingin terus menerus eksis dan tetap diakui- harus menyesuaikan diri dengan spirit the whole, jika disederhanakan, the whole adalah mesin raksasa dan parsial-parsial yang mencoba menentang perjalanan mesin ini akan memperoleh resiko.
Dialektika (yang coba dibangun), kebenaran (sebagai win-win solution), dan resiko (yang tak diperhitungkan) dapat mewujudkan spirit the whole dalam sebuah Negara. Gambaran peradapan yang seperti apa yang akan kita usung untuk bangsa ini dalam 20 tahun atau 30 tahun ke depan? Semua orang akan sepakat “Utopian World”, ketika kedamaian, ketentraman, kemakmuran, kesejahteraan dan kelestarian alam yang terjamin, bukan lagi menjadi cita-cita yang perlu untuk diperjuangkan. Atau dunia Dystopia (seperti film V for Vandett) menjadi pilihan tema besar yang ingin dicapai bangsa ini dalam sebuah peradapan. Dimana kesuraman komplit yang ada sekarang, tren sosial masyarakat yang tak terkendali dan efeknya. Lantas, sudahkah kita sebagai pemuda bangsa ini mempunyai visi kebangsaan “Utopian World” yang berlandaskan kekokohan moral ? (kosOng, 6 Mei 2006)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar