1428 H, Kematian, kehidupan, dan ……
Saya merasa miris membaca milis IKBAL belakangan ini, intinya hanyalah romantisme. Ber-romantis ria pada sesuatu yang sangat cengeng. Semisal kematian, cinta dsb.(gak usahlah masalah cinta ditulis di milis ini, banyak hal yang perlu kita pikirkan selain permasalahan hormon. Ya... cinta adalah masalah hormon. Atau ada pendapat lain tentang cinta yang konon katanya adalah sebuah anugerah...tai kucing men!) Pola pikir kita masih terperangkap pada hal normatif. Merupakan hal yang sangat memenuhi etika kita sih sebagai orang timur untuk selalu berbasa basi pada hal yang seharusnya patut untuk kita saksikan. Mati dan kematian atau lahir dan kelahiran. Hal yang sangat biolgis, alamiah dan tidak mengejutkan mengenai kematian tersebut. (semisal banyaknya ucapan bela sungkawa mengenai kematian sahabati kita).
Okelah! Kematian adalah sesuatu keadaan yang sangat menyedihkan, bukankah rasa sedih hanyalah persepsi kita saja atau hanya mind games. Sebagaimana yang dilakukan organ vital kita terhadap hasrat dan keinginan seksual. Kematian terasa bagi orang diluar yang bersangkutan, ia hanya pada perasaan kehilangan terhadap sesuatu/seseorang. Itu hanya yang sifatnya momentum. Setelah itu pastinya kita harus melanjutkan hidup bukan.
Teman-teman bukankah kematian adalah waktu. Sebagaimana kita dilahirkan. Waktu adalah batas(Ooopsss! Bukan dari perspektif absolutnya Newton atau relatifitasnya Einstein tentunya), ia juga hanya satu titik. Titik yang menciptakan batas, batasnya adalah sejauh mana kita memberi makna terhadapnya. Bagaimanapun juga kehidupan, kematian, batas (yang lalu, sekarang, dan akan datang; sejarah) dan waktu itu sendiri hanyalah hal yang sangat misterius bagi manusia dan bagi alam yang kita tempati. Inilah batas kesempatan manusia terhadap dirinya (jiwa), alam, Tuhan, dan orang sekitarnya.
Saya sepakat apa yang dikatakan teman dari alamat milis avidenia, biarkan almarhumah terbebas dari cengkraman tubuhnya yang tidak mampu membebaskan roh kita. Mungkin saya bisa memberikan penjelasan dari pernyataan tersebut. seringkali kita termenung, menyesal dengan telah apa yang kita lakukan karena kita tidak mampu berbuat maksimal, kita mempunyai harapan dan mimpi, merasakan dejavu (berasal dari bahasa Perancis: telah terjadi), menghayal, berimajinasi, berpikir dan lain sebagainya. Itu adalah pola kerja roh/jiwa/energi kita yang penuh misteri yang terjebak dalam tubuh (materi).
Seringkali juga tubuh mengecewakan jiwa. Karena tubuh mempunyai batasan dan keterbatasan. Setelah manusia bebas dari tubuh atau materinya (baca: mati), maka roh dapat bebas. Jadi kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditangisi. Kematian adalah batas yang diciptakan oleh alam dan keterbatasan kita sendiri. Keterbatasan diri kita (tubuh) dalam berdinamika dengan alam, karena kausalitas dari grativitasi.(tentunya atas rekomendasi YANG DI ATAS, kenapa kita menjadi tua yang menyebabkan fungsi sistem kekebalan dan sistem yang lainnya menjadi rapuh, adalah karena tubuh kita ditarik atau selalu berinteraksi dengan grativitasi bumi.. hmmm satu kerja alam yang fantastis).
Apa kaitannya tahun baru Hijriah dengan permasalahan kematian, kehidupan dsb. Pergantian tahun bukan hanya permasalahan peralihan huruf dan angka, pergantian tahun bukan sekedar bagaimana memberikan ucapan atau hanya sekedar pelabuhan refleksi atau bukan hanya menjadi pencarian resolusi, tentu saja bukan itu. Bukan hanya, bagaimana itu satu detik, apa itu satu menit, mengapa satu jam. Waktu bukan saja bagaimana bekal pengetahuan tentang waktu yang menjadikan manusia dapat mematok berbagai fenomena alam, membuat rujukan-rujukan faktual.(Misalnya saja dalam satu detik, Bumi—tanpa kita rasa—melesat sejauh 30 km dalam revolusinya mengelilingi Matahari. Iya, banyak orang yang mengabaikan satu detik, padahal banyak hal terjadi dalam satu detik. Joe Boot di Ravi Zacharias International Ministries, misalnya, mencatat bahwa setiap detik 4,5 mobil dibuat di dunia, ada 2.000 meter persegi hutan yang lenyap, ada tiga bayi yang dilahirkan, ada 1,5 orang yang meninggal. Dalam satu detik juga ada 2,4 juta sel darah merah yang diproduksi di sumsum tulang. Sungguh banyak hal yang terjadi dalam satu detik (www.rzim.org)). Waktu adalah misteri. Sebagaimana kehidupan dan kematian. Semua selalu hadir di sekitar kita, hanya bagaimana memberi makna atau menjadikannya bermakna.
23 Januari 2007
Kamis, 08 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar