Kau begitu saja mengepakkan sayapmu mengabaikan keringat dan sisa air liur yang tak sempat menguap utuh, kali ini kau berniat menuju utara lebih jauh dari sebelumnya. Kali ini kau berangkat dengan kawanan burung dari beragam jenis, yang baru saja selesai menghadiri jamuan Sulaiman di pelataran istananya.
Entah apa yang membuatmu tergesa-gesa sebegitunya. Kau melesat begitu saja dari tempat tidurmu. Menyisakan bayang, bersuara dan berteriak. Gema suara itu masih bersila di telingaku... Setia berteriak dalam mimpiku, karena cuma aku yang mendengar. Terpaku di Selatan.
Sabtu, 04 Juni 2011
Jumat, 03 Juni 2011
TelkomVision dan Indovison; are suckkk!!
Promosi yang menggiurkan dan gegap gempita, tentu satu strategi marketing. Terutama jika itu berkenaan dengan produk baru. Cara marketing tentu berbagai macam rupa dan janji yang diberikan. Sering kita jumpai, promosi yang dilakukan dengan cara undian berhadiah, iklan yang mengancam keinginan kita untuk selalu dan selalu tergiur dan tunduk sebagai budak iklan/promosi.
Tapi untuk undian berhadiah, aku dengan sadar saat ini mengatakan itu hanya omong kosong besar (atau mungkin aku tidak pernah menang undian kali yaa.. :)). tentu ini berdasar pengalaman pribadiku, pengalaman waktu kecil. Karena keterbatasan ekonomi orang tua, anak-anaknya mesti ngerti untuk mengerem keinginan yang di luar kemampuan. Maka, cara instan untuk mendapatkan keinginan materi (berupa barang seperti sepeda, radio; barang2 promosi jaman dulu waktu aku kecil, hadiah termewah ya.. sepeda.). Atau berkirim surat kepada artis favorit di ibukota (waktu itu aku tinggal jauh di pelosok Kalimantan, bayangin ajalah jaman ORBA, mana ada pemerataan pembangunan) untuk sekedar meminta barang impian. Aku juga pernah berkirim surat ke Pak Harto, untuk membelikan ku sepeda federal stang rata (model terdahsyat dari sepeda dengan stang rata). Semenjak dikirim sampai sekarang aku tak tau nasib suratku... hemmm
Jaman sekarang dengan akses informasi yang lebih terjangkau dan mudah. Perkembangan gadget yang terus baru, keinginan alam bawah sadar kita secara tak disadari terpompa untuk memiliki. Itulah, karena alasan berbeda pendukung tim favorit sepakbola, aku memutuskan untuk membeli tv sendiri. Dengan anggaran yang ku siapkan dan setelah mengumpulkan informasi, maka aku putuskanlah untuk membeli keluaran teknologi terbaru dari televisi; tv smart LED.
Untuk memenuhi keinginan barang yang kuimpikan, dan harga yang lebih murah. Cara lain ialah harus menempuh perjalanan ke Banjarmasin dari tempatku memakan waktu sekitar 6-7 jam. Sesampai di Banjarmasin, aku observasi tempat (toko), dari persedian terlengkap dan harga promosi jika ada.
Maka sampailah aku di toko (11/5/2011) yang ku asumsikan toko elektronik terlengkap di Banjarmasin (Pondok Elektronik). Setelah sebentar keliling area, ketemu beberapa merk terkenal. Dan singgahlah aku di stan Samsung. Setelah nanya2, ternyata samsung lagi promosi produk smart tv bekerjasama dengan telkomvision. Yaitu, 'free 3 months pay tv All Channel + 1 Mbps Internet Service unlimited'. Keyakinanku tidak berubah karena alasan langganan tv kabel itu didukung dengan daerahku tercover promosi itu. Maka ku putuskan untuk membeli seri 4 4000 LED TV'32. Seharga Rp. 3.868.000,-. Besoknya (12/5/2011)ku pulanglah ke daerahku, berangan angan akan menikmati tv baru dengan tv berlangganan.
Sekitar tanggal 13 Mei 2011, aku melakukan registrasi ke No.HP yang disebutkan di brosur promosi. Mengisi lengkap apa yang ditanyakan, menyiapkan berkas administrasi yang dianjurkan. Besoknya 14/5/11 aku dihubungi oleh perempuan konon dari pihak telkomvision. Aku disuruh menunggu teknisi yang akan datang ke rumah. Dengan sabar aku tunggu, lewat 3 hari batas kesabaranku sedikit terganggu, maka kuputuskan untuk menghubungi pihak telkomvision Sampit. Jawaban mereka tidak tahu kalau ada promosi, dan aku dianjurkan untuk komplain ke pihak toko dimana aku membeli tv. Aku upayakan lagi untuk mendaftar ulang, menghubungi no. layanan telkomvision yang ku dapatkan dari laman resmi telkomvision. Besoknya, aku dihubungi perempuan lagi. Meminta maaf, dan harus sabar 2x24 jam menunggu. Masih sama tak ada jawaban dan tak dikunjungi oleh teknisi telkomvision.
Maka, aku dan diriku memutuskan tidak berharap lagi pada promosi gadungan samsung dan telkomvision itu. Dan kuputuskanlah untuk berlangganan ke Indovision, menghubungi pihak indovision. Menanayakan tetekbengek langganan dan lain sebagainya. Lalu aku dihubungi oleh seorang apalah yang dari indovison, bernama Adit dengan no. telpon 08561117726. Menjelaskan biaya langganan perpaket Rp. 200.000,- dan biaya transport Rp. 225.000,- karena Sampit bukan agen resmi yang ada hanya di Palangkaraya. Tertanggal 23 Mei 2011 aku mentransfer ke no. Rek. Mandiri pihak indovision, memfax bukti transfer dan dijanjikan 4 hari berikutnya teknisi mereka akan datang.
Dan sampai saat ini, tanggal 4 Juni 2011 tak ada tanggapan dari Adit dan Indovision. Oh.. ya aku beberapa kali komplain ke Adit menanyakan prihal belum datangnya teknisi. Sempat dijanjikan untuk menunggu. 2 Hari kemudian tak ada kabar, dan beberapa kali lagi ku sms... dan belum ada tanggapan.
Untuk sementara aku berkesimpulan Negeri ini payah, payah atas ketimpangan segala aspek. Dan parahnya lagi Telkomvision dan Indovision, belum mampu memberikan pelayanan terbaik buat pelanggan. Buat Telkomvision, tak perlu lagi membuat promosi bohongan. Indovison, aku tetap menunggu kabarmu, karena uang telah ditransfer.. hemmmm..Apesss!!
Tapi untuk undian berhadiah, aku dengan sadar saat ini mengatakan itu hanya omong kosong besar (atau mungkin aku tidak pernah menang undian kali yaa.. :)). tentu ini berdasar pengalaman pribadiku, pengalaman waktu kecil. Karena keterbatasan ekonomi orang tua, anak-anaknya mesti ngerti untuk mengerem keinginan yang di luar kemampuan. Maka, cara instan untuk mendapatkan keinginan materi (berupa barang seperti sepeda, radio; barang2 promosi jaman dulu waktu aku kecil, hadiah termewah ya.. sepeda.). Atau berkirim surat kepada artis favorit di ibukota (waktu itu aku tinggal jauh di pelosok Kalimantan, bayangin ajalah jaman ORBA, mana ada pemerataan pembangunan) untuk sekedar meminta barang impian. Aku juga pernah berkirim surat ke Pak Harto, untuk membelikan ku sepeda federal stang rata (model terdahsyat dari sepeda dengan stang rata). Semenjak dikirim sampai sekarang aku tak tau nasib suratku... hemmm
Jaman sekarang dengan akses informasi yang lebih terjangkau dan mudah. Perkembangan gadget yang terus baru, keinginan alam bawah sadar kita secara tak disadari terpompa untuk memiliki. Itulah, karena alasan berbeda pendukung tim favorit sepakbola, aku memutuskan untuk membeli tv sendiri. Dengan anggaran yang ku siapkan dan setelah mengumpulkan informasi, maka aku putuskanlah untuk membeli keluaran teknologi terbaru dari televisi; tv smart LED.
Untuk memenuhi keinginan barang yang kuimpikan, dan harga yang lebih murah. Cara lain ialah harus menempuh perjalanan ke Banjarmasin dari tempatku memakan waktu sekitar 6-7 jam. Sesampai di Banjarmasin, aku observasi tempat (toko), dari persedian terlengkap dan harga promosi jika ada.
Maka sampailah aku di toko (11/5/2011) yang ku asumsikan toko elektronik terlengkap di Banjarmasin (Pondok Elektronik). Setelah sebentar keliling area, ketemu beberapa merk terkenal. Dan singgahlah aku di stan Samsung. Setelah nanya2, ternyata samsung lagi promosi produk smart tv bekerjasama dengan telkomvision. Yaitu, 'free 3 months pay tv All Channel + 1 Mbps Internet Service unlimited'. Keyakinanku tidak berubah karena alasan langganan tv kabel itu didukung dengan daerahku tercover promosi itu. Maka ku putuskan untuk membeli seri 4 4000 LED TV'32. Seharga Rp. 3.868.000,-. Besoknya (12/5/2011)ku pulanglah ke daerahku, berangan angan akan menikmati tv baru dengan tv berlangganan.
Sekitar tanggal 13 Mei 2011, aku melakukan registrasi ke No.HP yang disebutkan di brosur promosi. Mengisi lengkap apa yang ditanyakan, menyiapkan berkas administrasi yang dianjurkan. Besoknya 14/5/11 aku dihubungi oleh perempuan konon dari pihak telkomvision. Aku disuruh menunggu teknisi yang akan datang ke rumah. Dengan sabar aku tunggu, lewat 3 hari batas kesabaranku sedikit terganggu, maka kuputuskan untuk menghubungi pihak telkomvision Sampit. Jawaban mereka tidak tahu kalau ada promosi, dan aku dianjurkan untuk komplain ke pihak toko dimana aku membeli tv. Aku upayakan lagi untuk mendaftar ulang, menghubungi no. layanan telkomvision yang ku dapatkan dari laman resmi telkomvision. Besoknya, aku dihubungi perempuan lagi. Meminta maaf, dan harus sabar 2x24 jam menunggu. Masih sama tak ada jawaban dan tak dikunjungi oleh teknisi telkomvision.
Maka, aku dan diriku memutuskan tidak berharap lagi pada promosi gadungan samsung dan telkomvision itu. Dan kuputuskanlah untuk berlangganan ke Indovision, menghubungi pihak indovision. Menanayakan tetekbengek langganan dan lain sebagainya. Lalu aku dihubungi oleh seorang apalah yang dari indovison, bernama Adit dengan no. telpon 08561117726. Menjelaskan biaya langganan perpaket Rp. 200.000,- dan biaya transport Rp. 225.000,- karena Sampit bukan agen resmi yang ada hanya di Palangkaraya. Tertanggal 23 Mei 2011 aku mentransfer ke no. Rek. Mandiri pihak indovision, memfax bukti transfer dan dijanjikan 4 hari berikutnya teknisi mereka akan datang.
Dan sampai saat ini, tanggal 4 Juni 2011 tak ada tanggapan dari Adit dan Indovision. Oh.. ya aku beberapa kali komplain ke Adit menanyakan prihal belum datangnya teknisi. Sempat dijanjikan untuk menunggu. 2 Hari kemudian tak ada kabar, dan beberapa kali lagi ku sms... dan belum ada tanggapan.
Untuk sementara aku berkesimpulan Negeri ini payah, payah atas ketimpangan segala aspek. Dan parahnya lagi Telkomvision dan Indovision, belum mampu memberikan pelayanan terbaik buat pelanggan. Buat Telkomvision, tak perlu lagi membuat promosi bohongan. Indovison, aku tetap menunggu kabarmu, karena uang telah ditransfer.. hemmmm..Apesss!!
Sabtu, 08 Januari 2011
Dua bulan yg lalu....
Kau mungkin tidak tahu, aku juga
Entah apa yang mendekatkan kita, pertanyaan sederhana yang saat ini mungkin adalah satu pertanyaan misteri. Nyatanya kita telah masuk dalam ruang dan waktu diikat oleh emosi, dihiasi dengan kata-kata yang mengajarkan. Dimabuk oleh keintiman yang absah yang tidak sekedar basah, penuh makna, bebas pamrih.
Suatu waktu kau katakan padaku, 'aku tidak menyalahkan mu, tapi aku menyalahkan pertemuan itu'. Bagiku, itulah salah satu misteri. Aku balik bertanya dalam hati, hukum kausalitas seperti apa sekarang yang sedang hadir. Entahlah, dari sekian banyak 'penampakan' kau jelas 'memilih' ku. Aku, adalah posisi yang labih penuh petualangan, waktu itu. Aku adalah gelembung hasrat yang selalu mencari, meski sempat berpikir untuk berhenti di terminal yang rapi.
Lantas, ketika kau memilihku bagimu awalnya adalah sekedar ketertarikan sederhana. Bagiku, kau adalah hutan perawan yang siap aku jajaki. Aku mencoba menghadirkan energi lembut biar kau sambut. 'Aku terima kau sebagai sebuah keberanian', ketika itu sebelum kita mengakhiri makan malam dan perbincangan panjang yang diselingi atraksi mengagumkan. Sebelum kau katakan itu, kau menjelaskan tentang langit yang mesti di atas berwarna biru dan bumi di bawah langit penuh penghuni. Ketahuilah, sejak itu aku benar-benar paham dan siap untuk berlari tanpa air mata. Karena aku sudah bilang padamu, aku adalah petualang di hutan perawan.
Setelah kau deklarasikan bahwa kau juga petualang bermodal berani, sebelumnya aku juga meyakinkanmu sekali lagi. Dan kau katakan dengan lantang, 'aku ingin mencoba ke hutan'.
Tentu kau masih ingat, malam pertama kita di hutan. Karena aku masih. Hormon ku membara untuk menjelaskan padamu aturan di hutan. Tentu kau juga tahu, bagaimana akan memperlakukan aku ketika menjelaskan tentang hutan. Terus terang aku sempat bingung dan kaku bagaimana memperlakukan petualang pertama kali menjelajah hutan perawan. Tapi, kita tahu waktu membiarkan kita hanyut dengan damai di dalam hutan.
Malam itu entah malam jum'at apa, mungkin kau masih ingat!! Aku tak ingat detail itu, waktu itu. Saat ini, aku memeras otakku untuk mengingat malam jumat apa. Yang jelas itu dua bulan yang lalu. Ketika di sisa penat, kau terbang dengan senang. Bagiku mungkin dengan senang. Tapi aku gembira, paginya kau kirim merpati dengan secarik kertas; 'Dahsyaaat' itu kabarmu. Aku pun ternsenyum senang, begitulah kenikmatan hutan sayang...
Entah apa yang mendekatkan kita, pertanyaan sederhana yang saat ini mungkin adalah satu pertanyaan misteri. Nyatanya kita telah masuk dalam ruang dan waktu diikat oleh emosi, dihiasi dengan kata-kata yang mengajarkan. Dimabuk oleh keintiman yang absah yang tidak sekedar basah, penuh makna, bebas pamrih.
Suatu waktu kau katakan padaku, 'aku tidak menyalahkan mu, tapi aku menyalahkan pertemuan itu'. Bagiku, itulah salah satu misteri. Aku balik bertanya dalam hati, hukum kausalitas seperti apa sekarang yang sedang hadir. Entahlah, dari sekian banyak 'penampakan' kau jelas 'memilih' ku. Aku, adalah posisi yang labih penuh petualangan, waktu itu. Aku adalah gelembung hasrat yang selalu mencari, meski sempat berpikir untuk berhenti di terminal yang rapi.
Lantas, ketika kau memilihku bagimu awalnya adalah sekedar ketertarikan sederhana. Bagiku, kau adalah hutan perawan yang siap aku jajaki. Aku mencoba menghadirkan energi lembut biar kau sambut. 'Aku terima kau sebagai sebuah keberanian', ketika itu sebelum kita mengakhiri makan malam dan perbincangan panjang yang diselingi atraksi mengagumkan. Sebelum kau katakan itu, kau menjelaskan tentang langit yang mesti di atas berwarna biru dan bumi di bawah langit penuh penghuni. Ketahuilah, sejak itu aku benar-benar paham dan siap untuk berlari tanpa air mata. Karena aku sudah bilang padamu, aku adalah petualang di hutan perawan.
Setelah kau deklarasikan bahwa kau juga petualang bermodal berani, sebelumnya aku juga meyakinkanmu sekali lagi. Dan kau katakan dengan lantang, 'aku ingin mencoba ke hutan'.
Tentu kau masih ingat, malam pertama kita di hutan. Karena aku masih. Hormon ku membara untuk menjelaskan padamu aturan di hutan. Tentu kau juga tahu, bagaimana akan memperlakukan aku ketika menjelaskan tentang hutan. Terus terang aku sempat bingung dan kaku bagaimana memperlakukan petualang pertama kali menjelajah hutan perawan. Tapi, kita tahu waktu membiarkan kita hanyut dengan damai di dalam hutan.
Malam itu entah malam jum'at apa, mungkin kau masih ingat!! Aku tak ingat detail itu, waktu itu. Saat ini, aku memeras otakku untuk mengingat malam jumat apa. Yang jelas itu dua bulan yang lalu. Ketika di sisa penat, kau terbang dengan senang. Bagiku mungkin dengan senang. Tapi aku gembira, paginya kau kirim merpati dengan secarik kertas; 'Dahsyaaat' itu kabarmu. Aku pun ternsenyum senang, begitulah kenikmatan hutan sayang...
Gelap; Rindu Kita
Tahukah kau, terakhir yang aku ingat tentang dirimu ketika kau setengah membangunkanku dengan derit bunyi pintu menutup sejenak sorot sinar lampu lorong hotel menerpa sebentar pandanganku. Silau sejenak, dan wangi parfum tubuhmu pun pergi menyisakan keheningan.
Yang aku ingat dari kebiasanmu waktu sebelumnya, sebelum kau pergi meninggalkan rindu untuk satu minggu kemudian. Bisikan hangat dan kecupan lembut di kelopak mataku, dua hal yang mampu membimbingku menapaki waktu satu minggu kemudian. Dua hal, yang selalu bersemayam dan mampu membayangi setiap langkahku untuk tetap tahu, malam dan siang penanda waktu juga langit dan bumi tempat ruang menggantung. 'Sampai ketemu minggu depan, semoga aku kuat membawa rinduku untukmu untuk satu minggu ke depan'.
Setiap minggu pagi sebelum aku bangun untuk mandi setelah kau pergi. Aku mengingat lendir yang menguap beriring udara pagi datang, dia membekas bersenandung dalam orkestra keintiman kita. Bekas jejaknya tidak saja kita tinggalkan menyebar di seprai ranjang, atau tercecer di salah satu sudut tubuh. Karena bekas itulah yang bisa bercerita tentang sisa malam tadi. Akupun menikmati moment itu, untuk sekedar menampung energiku, energi rinduku untukmu. 'Akupun akan merindukanmu'
Begitulah, cerita yang kita bentuk beberapa tahun lamanya. Cerita yang kita simpan dalam keawasan bertemu, keawasan memadu kasih, kehangatan rindu yang gelap. Kerinduan yang memupuk dan selalu meledak di akhir pekan. Cerita yang membentuk kata rahasia, rahasia kita dari pasangan kita masing masing.
Dan semenjak terakhir kali kita, terakhir kali kau pergi tanpa berbisik. Hanya silau sorot lampu lorong hotel dan wangi parfum tubuhmu pengganti bisikan. Kau menghilang, dan bagiku butuh waktu untuk mengenyahkan rinduku untukmu .. Lina ku!
Yang aku ingat dari kebiasanmu waktu sebelumnya, sebelum kau pergi meninggalkan rindu untuk satu minggu kemudian. Bisikan hangat dan kecupan lembut di kelopak mataku, dua hal yang mampu membimbingku menapaki waktu satu minggu kemudian. Dua hal, yang selalu bersemayam dan mampu membayangi setiap langkahku untuk tetap tahu, malam dan siang penanda waktu juga langit dan bumi tempat ruang menggantung. 'Sampai ketemu minggu depan, semoga aku kuat membawa rinduku untukmu untuk satu minggu ke depan'.
Setiap minggu pagi sebelum aku bangun untuk mandi setelah kau pergi. Aku mengingat lendir yang menguap beriring udara pagi datang, dia membekas bersenandung dalam orkestra keintiman kita. Bekas jejaknya tidak saja kita tinggalkan menyebar di seprai ranjang, atau tercecer di salah satu sudut tubuh. Karena bekas itulah yang bisa bercerita tentang sisa malam tadi. Akupun menikmati moment itu, untuk sekedar menampung energiku, energi rinduku untukmu. 'Akupun akan merindukanmu'
Begitulah, cerita yang kita bentuk beberapa tahun lamanya. Cerita yang kita simpan dalam keawasan bertemu, keawasan memadu kasih, kehangatan rindu yang gelap. Kerinduan yang memupuk dan selalu meledak di akhir pekan. Cerita yang membentuk kata rahasia, rahasia kita dari pasangan kita masing masing.
Dan semenjak terakhir kali kita, terakhir kali kau pergi tanpa berbisik. Hanya silau sorot lampu lorong hotel dan wangi parfum tubuhmu pengganti bisikan. Kau menghilang, dan bagiku butuh waktu untuk mengenyahkan rinduku untukmu .. Lina ku!
Langganan:
Postingan (Atom)
