11 februari 2007 ( menjelang satu bulan dalam perjalanan usia perak)
Kemaren 10 februari/ Sabtu siang hari aku berangkat dari kosku ke bandara untuk mengejar jadwal keberangkatan ke Palangkaraya melalui maskapai penerbangan Batavia air. Awalnya aku ada deal sama Zakaria untuk berangkat bareng ke bandara Juanda Surabaya. Ternyata 1 jam sebelum berakhirnya deadline check in masih tidak ada kabar dari yang bersangkutan. Trus aku putuskan untuk berangkat sendiri ke tempat tujuan dengan mengendarai taksi. Akhirnya fee yang harus dibayar sebesar Rp. 50.200,- sesuai angka yang ada di mesin argo meter.
Sesampai di bandara tidak seseram yang kukira sebelumnya tentang permasalahan teknis di sana. Kita sebagaimana aturan masyarakat modern yang selalu mengikuti rambu-rambu yang telah ada. Jadi kita hanya mengikuti segala prosedural yang ada saja. Penerbangan sesuai dengan jadwal yang tertera yang ada di karcis, 13.10 wib. Tepat satu jam berikutnya saya sudah sampai di bandara Palangkaraya Cilik Riwut. Setelah menunggu sekitar beberapa menit untuk pengambilan barang, saya dicegat tukang ojek yang menawi untuk mengantarkan ke travel tujuan Sampit. Sesampai di sana dan setelah membayar uang sebesar 25 ribu rupiah kepada tukang ojek. Saya langsung memesan tiket jurusan Sampit dengan membayar uang sebesar 60 rb. Dan dijanjiin berangkat jam empat sore. Setelah beberapa saat menunggu di tempat tersebut saya memutuskan untuk makan, ketika baru memesannya saya didesak sopir untuk cepat menyelesaikan makan dan melanjutkan perjalanan ke sampit.
Selama 4 jam perjalanan ke sampit, saya selalu mengutuk pemerintah dan pihak kontraktor dalam proyek perbaikan jalan. Sepanjang jalan Palangkaraya-Sampit tidak ada jalan yang baik. Tepat setengah sembilan malam saya sampai di rumah dan bertemu dengan saudara-saudaraku.
Sekarang 20 Februari 2007, entah sudah berapa hari aku berada di rumah ini. Hari ini, di rumah berlangsung acara Tasmiyah ponakanku ‘Zaenab Az-zahroh’ dan Aqiqoh dua adik terakhir Laki-laki ku (Nizar dan Wahab). Dimulai jam delapan pagi dan berakhir sebelum azan magrib. Malamnya aku bergadang dengan Ahmad Rayyan, banyak hal yang kita bicarakan tentang pengalaman masing-masing.
Hari ini, pertanyaannya adalah bagaimana menyikapi keadaan yang tidak terkendali secara emosional?jawaban sementara adalah bagaimana kita sedapat mungkin bersikap dewasa dan legowo terhadap situasi tersebut. Apa yang telah terjadi? Tentu bukan perang dunia dengan segala taktik dan perlengkapan senjata yang luar biasa. Ya.. hanya permasalahan penghormatan yang semestinya terhadap sesuatu yang diharapkan. Meredam adalah upaya yang sangat dapat mungkin kita pahami sebagai sesuatu yang lebih dapat diterima secara akal. Meskipun di hati kecil berkata dengan penolakan yang luar biasa terhadap situasi tersebut. Sekali lagi sesuatu adalah sesuatu yang lain. Kita selalu bergerak dalam tujuan sesuatu adalah dengan apa yang ada di kepala kita masing-masing. Ke depannya, isi kepalaku bersikeras untuk menentukan pilihan yang lain. Pilihan berdasarkan emosi dan ego atau pilihan yang lebih agung dan mulia.
Rabu, 07 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar