Sabtu, 08 Januari 2011

Dua bulan yg lalu....

Kau mungkin tidak tahu, aku juga



Entah apa yang mendekatkan kita, pertanyaan sederhana yang saat ini mungkin adalah satu pertanyaan misteri. Nyatanya kita telah masuk dalam ruang dan waktu diikat oleh emosi, dihiasi dengan kata-kata yang mengajarkan. Dimabuk oleh keintiman yang absah yang tidak sekedar basah, penuh makna, bebas pamrih.



Suatu waktu kau katakan padaku, 'aku tidak menyalahkan mu, tapi aku menyalahkan pertemuan itu'. Bagiku, itulah salah satu misteri. Aku balik bertanya dalam hati, hukum kausalitas seperti apa sekarang yang sedang hadir. Entahlah, dari sekian banyak 'penampakan' kau jelas 'memilih' ku. Aku, adalah posisi yang labih penuh petualangan, waktu itu. Aku adalah gelembung hasrat yang selalu mencari, meski sempat berpikir untuk berhenti di terminal yang rapi.



Lantas, ketika kau memilihku bagimu awalnya adalah sekedar ketertarikan sederhana. Bagiku, kau adalah hutan perawan yang siap aku jajaki. Aku mencoba menghadirkan energi lembut biar kau sambut. 'Aku terima kau sebagai sebuah keberanian', ketika itu sebelum kita mengakhiri makan malam dan perbincangan panjang yang diselingi atraksi mengagumkan. Sebelum kau katakan itu, kau menjelaskan tentang langit yang mesti di atas berwarna biru dan bumi di bawah langit penuh penghuni. Ketahuilah, sejak itu aku benar-benar paham dan siap untuk berlari tanpa air mata. Karena aku sudah bilang padamu, aku adalah petualang di hutan perawan.



Setelah kau deklarasikan bahwa kau juga petualang bermodal berani, sebelumnya aku juga meyakinkanmu sekali lagi. Dan kau katakan dengan lantang, 'aku ingin mencoba ke hutan'.



Tentu kau masih ingat, malam pertama kita di hutan. Karena aku masih. Hormon ku membara untuk menjelaskan padamu aturan di hutan. Tentu kau juga tahu, bagaimana akan memperlakukan aku ketika menjelaskan tentang hutan. Terus terang aku sempat bingung dan kaku bagaimana memperlakukan petualang pertama kali menjelajah hutan perawan. Tapi, kita tahu waktu membiarkan kita hanyut dengan damai di dalam hutan.



Malam itu entah malam jum'at apa, mungkin kau masih ingat!! Aku tak ingat detail itu, waktu itu. Saat ini, aku memeras otakku untuk mengingat malam jumat apa. Yang jelas itu dua bulan yang lalu. Ketika di sisa penat, kau terbang dengan senang. Bagiku mungkin dengan senang. Tapi aku gembira, paginya kau kirim merpati dengan secarik kertas; 'Dahsyaaat' itu kabarmu. Aku pun ternsenyum senang, begitulah kenikmatan hutan sayang...

Gelap; Rindu Kita

Tahukah kau, terakhir yang aku ingat tentang dirimu ketika kau setengah membangunkanku dengan derit bunyi pintu menutup sejenak sorot sinar lampu lorong hotel menerpa sebentar pandanganku. Silau sejenak, dan wangi parfum tubuhmu pun pergi menyisakan keheningan.

Yang aku ingat dari kebiasanmu waktu sebelumnya, sebelum kau pergi meninggalkan rindu untuk satu minggu kemudian. Bisikan hangat dan kecupan lembut di kelopak mataku, dua hal yang mampu membimbingku menapaki waktu satu minggu kemudian. Dua hal, yang selalu bersemayam dan mampu membayangi setiap langkahku untuk tetap tahu, malam dan siang penanda waktu juga langit dan bumi tempat ruang menggantung. 'Sampai ketemu minggu depan, semoga aku kuat membawa rinduku untukmu untuk satu minggu ke depan'.

Setiap minggu pagi sebelum aku bangun untuk mandi setelah kau pergi. Aku mengingat lendir yang menguap beriring udara pagi datang, dia membekas bersenandung dalam orkestra keintiman kita. Bekas jejaknya tidak saja kita tinggalkan menyebar di seprai ranjang, atau tercecer di salah satu sudut tubuh. Karena bekas itulah yang bisa bercerita tentang sisa malam tadi. Akupun menikmati moment itu, untuk sekedar menampung energiku, energi rinduku untukmu. 'Akupun akan merindukanmu'

Begitulah, cerita yang kita bentuk beberapa tahun lamanya. Cerita yang kita simpan dalam keawasan bertemu, keawasan memadu kasih, kehangatan rindu yang gelap. Kerinduan yang memupuk dan selalu meledak di akhir pekan. Cerita yang membentuk kata rahasia, rahasia kita dari pasangan kita masing masing.

Dan semenjak terakhir kali kita, terakhir kali kau pergi tanpa berbisik. Hanya silau sorot lampu lorong hotel dan wangi parfum tubuhmu pengganti bisikan. Kau menghilang, dan bagiku butuh waktu untuk mengenyahkan rinduku untukmu .. Lina ku!