Senin, 26 April 2010

Cerita Tentag Warung Kopi

Warung kopi, di tempat saya dekat kampus adalah dimana pusaran informasi dan ide (diskusi) dapat berdialektika satu dengan yang lainnya. Tidak cukup di situ, terkadang warung kopi adalah tempat melepas penat. Karena canda dan tawa adalah menu yang lain yang dapat anda temukan. Terasa komplit bukan, dari obrolan yang serius tentang isu dan wacana, sampai pada pembicaraan tetek bengek yang tidak penting. Bentuknya juga beda-beda, dari sarkastis, intrik personal, celetukan, dari selera humor yang memuakkan sampai yang membikin perut sakit.

Warung kopi dan budaya lisan, sepertinya sangat erat dengan keseharian kita sebagai bangsa Indonesia. Anda akan menemukan warung kopi di manapun di negeri ini. Meski menu yang dijual tidak tertumpu hanya pada minuman kopi. Ada banyak jenis minuman rakyat dapat anda temukan di warung kopi. Berbicara mengenai harga, anda jangan khawatir dengannya, pasti akan menjangkaunya. Karena warung kopi yang kita bicarakan, bukanlah warung kopi kelas elit semacam 'Coffee Bean', Espresso atau 'Starbucks'. Tentunya, anda tidak perlu dipusingkan dengan jenis-jenis kopi yang aneh-aneh dan terasa mengada-ada. Sebagaimana yang kita dengar atau lihat di iklan untuk toko-toko 'franchise' tersebut. Hadirnya mereka di tengah-tengah 'peradaban kita' sekedar memenuhi gengsi orang berduit.

Warung kopi sebagaimana yang saya singgung di awal tulisan, adalah media 'silaturrahim'. Arus informasi dengan level sepele berinteraksi dengan tidak kalah cepat dengan portal berita di internet. Tentunya disesuaikan dengan penghuni tetap (pelanggan)di warung tersebut. Dinamika yang menarik dibandingkan dengan 'warung kopi' kelas kantong celana penuh, di warung kopi kelas teri ini tidak ada jarak antara satu dengan lainnya. Anda dapat merespon dengan cepat (nyeletuk)obrolan orang lain tanpa merasa mengabaikan sopan santun. Karena keakraban tanpa diprogram telah terbangun sendiri.

Saya hanya membayangkan (karena tidak pernah mengalaminya langsung) apa yang terjadi di warung kopi kelas kakap. Ada jarak, antar meja pelanggan yang satu dengan yang lainnya. Mungkin karena pelanggan yang datang dari kelompok dan 'kepentingan' berbeda. Objek pembicaraan juga pastinya beda, meski anda menguping pembicaraan meja di sebelah anda. Dan anda 'gatal' untuk merespon pembicaraan, alam bawah sadar anda akan melarang anda. Karena anda akan dihakimi: 'siapa elooo???'!! berhati-hatilah hehe...

Hemmm, mungkin perbedaan suasana (di) warung kopi sebaimana saya tuturkan di atas hanya akan anda temukan di kota besar seperti di surabaya. Antara warung kopi di Mall dan warung kopi di pinggiran Surabaya.

Agar anda tahu, warung kopi langganan saya di Surabaya sini adalah warung Bonek (Ahong). Nama warung yang disematkan atas kepemilikan terhadap warung. Bagi saya, warung kopi awalnya adalah 'jeda'. Ruang yang sengaja saya sisihkan dari rutinitas kuliah dan aktifitas organisasi intra dan ekstra. Bercanda, 'ngintrik', membicarakan isu nasional (prekitiww), wacana, program organisasi, tugas kuliah dll.

Awalnya jeda lambat laun menjadi rutinitas semu yang tanpa sengaja saya bangun sendiri di bawah alam sadar. Kalo tidak ngantor (ke warung kopi), terasa ada yang kurang dari hidup. hehe...

Jarak tempuh ke warung bonek dari kost, saya harus menyisihkan waktu 5-10 menit dengan jalan kaki (+_ 300 meter). Bayangkan kalau satu hari 2 kali ke kantor, anda hitung sendiri berapa jarak yang harus saya lalui satu minggu, bulan dan tahun. Bagi teman, saya aneh orangnya. Ngekost jauh dari 'peradaban', bagi saya itu adalah tantangan.. hehe

Jarak tempuh yang sekian meter tersebut,kalau ada teman yang membarengi ke kantor. Selalu kita isi dengan pembicaraan yang tidak tentu. Komentar sesuatu dan sesiapun kita temui di jalan. Suatu waktu, saya dan teman (yang akhirnya ada dua teman yang mengikuti jejak saya (Samin dan Raidong), satu kost)ketika perjalanan ke pusat peradaban 'kantor'. Namanya Samin anak Indramayu, teman satu kosma dan sekarang satu kost. 'Min, kurang lebih empat tahun kita bolak balik ngopi. seandainya waktu yang kita habiskan 4 jam sehari dikalikan saja berapa waktu yang terbuang' aku berceloteh. Samin menyahut, "emang kenapa?". "Bayangkan min, 4 jam minimal kita di warung kopi ngomong ngalur ngidul dikalikan empat tahun, jika dihabiskan waktu tersebut dengan membaca buku mungkin udah bisa jadi professor di kampus".. Samin temanku hanya tertawa mendengar obrolan sampah saya ke kantor tersebut.

Percayalah, tidak semuanya yang sering ngopi di warung kopi mendapat efek negatif. Ada teman yang dengan sangat serius (aku ragu dengan ni teman, apa dianya lugu atau emang goblok hehe) melakukan pengakuan (sebagaimana orang yang melakukannya di bilik pengakuan dosa). Dia melakukannya sepertinya dengan sangat tulus, faktanya dia mendapatkan hal yang sangat positif ketika menjadi aktifis warung kopi. Maklumlah, dia membandingkan dengan teman-temannya yang di asrama mahasiswa (Mahasiswa Study internasional yang mendapatkan bea siswa).

Terlepas dari kontroversi (ceillee maksa kesannya) antara positif dan negatif menjadi aktifis warung kopi. Warung kopi adalah ruang bagi bermacam alasan, tempat budaya lisan sangat kental akan anda temui.... Mari bersulag, meski gelasnya isi kopi!!! hehehe...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar