
Mata ngantuk berat, biar tidak lepas akan waktu. Kutahan. Sembari menunggu waktu, aku iseng menyalakan 'kotak ajaib'. Secara kebetulan, mengudara program 'Kick Andy' edisi tentang anak berbakat dalam musik, khususnya piano. Kebetulan tak terbantahkan, aku baru selesai nonton film The Pianist (2002, Roman Polanski; director and Adrien Brody; pemeran utama).
Biar tidk terlalu memaksa mata menderita, ku putuskan ke warung kopi alternatif..
Di warung, tayangan tv siaran langsung sepakbola liga Indonesia antara Persebaya Vs Persikabo Bojonegoro.Telah menjadi rahasia umum, bahwa Persebaya terancam degradasi dari divisi utama musim 2009-2010.
Selesai memesan kopi, secepatnya mengisi bangku yang lengang. Space Antara dua pendukung Persebaya, tentu karena warung kopi berpijak di geografi Surabaya yang meskipun berkepemilikan oleh 'Arek' Gresik (yang punya jagoan sendiri di LI). Nampaknya, dua bonek di sampingku lebih 'veteran' dari pengunjung warung lainnya yang secara emosional dan spontan mendukung Surabaya alias Persebaya. Karena sebagian besar penonton yang lain mahasiswa yang pendatang. Jadi, hanya dua orang bonek inilah yang lebih 'eksis' pada moment itu.
Beginilah kondisi ku, aku di antara dua orang yang saling sahut menyahut berkomentar layaknya berbalas pantun. Veteran di sebelah kananku tampilan lebih sedikit klimis, potongan rambut ala potongan nyentrik terbaru Ahmad Dhani. Sepertinya, seorang 'makelar'. Maklum, di tengah seringnya terjadi PHK saat ini (pasca Perjanjian perdagangan bebas ACFTA resmi dimulai). Yang di sebelah kiri, lebih tampak seperti korban dari PHK. Atau seperti tidak pernah mengenal apa itu kata PHK. Tebak sendiri aja lah apa maksudnya....
Gigiku mendadak sakit, ngilu. Kepala agak bertambah berat.
- Televisi: (Terjadi pelanggaran oleh pemain)
- Kiri & Kananku: Saling berkomentar apa yang terjadi. Berasumsi, apa yang akan dilakukan oleh wasit, memberi kartu atau tidak (tampak sekali, krisis kepercayaan). Yang kiri, 'ngotot' wasit akan memberi kartu kuning. Sedangkan kanan, berpendapat sebaliknya Aku, menyeruput kopi.
- Kiriku: Mengumpat (khas arek suroboyo)... berlagak mengambil peran komentator yang ada di TV. Bla.. blaa.. blaa (Sepertinya, dia hafal beberapa nama pemain Persebaya dan lawan. Cuma beberapa, selebihnya diam).
- Kananku: Mengoceh profil pemain berumur. Sepertinya dia mengesankan diri, gibol sejati.
- Aku: Mengambil rokok sym soe ku, menyalakannya. dan... Hufff!!!
- Kananku: berkomentar sekenanya tentang wasit. 'awak e kayak personil densus 88, seneng majakin wong tok'
- Kiriku: bukan menyahut umpat dari veteran di kananku. Malah sekali lagi mengumpat, karena tendangan pemain persebaya luput sasaran.
- Aku: Hanya masang tampang 'khusuk' tepatnya seolah-olah, melototin tv.
- Kananku: Bla... Blaaa...
- Kiriku: Bla.. Blaa...
- Aku: melirik jam di tangan..
- Kiriku: Meracau tak karuan. Sampai pada poin pembicaraan, taruhan. Ternyata beliau memasang taruhan. Berpihak atas kemenangan Persebaya.
- Kananku: Menanggapi dengan sinis. Berkenaan dengan nilai taruhan. Kedengaran jelas, sok berpengalaman
- Kiriku: 'Berapologis'
- Aku: Hanya melirik koran yang ada di depanku. Malas mendongak ke TV, yang jelas sekali tidak ada yang menarik dari permainan bola Indonesia. Bukan karena tidak Nasionalis. Di otakku, bola Indonesia gampang ditebak endingnya. Rusuh suporter, pemain yang cepak lelah (permasalahan klasik fisik pemain), teknik permainan yang tidak elegan (mental dan skill), pengurus PSSI yang bermasalah, dan lain dan sebagainya.... Bola di Indonesia, masih belum naik kelas. Hasil pertandingannya pun penuh prasangka. Yang pasti dari semua alasan yang ada, klub favoritku Barito Putera sampai sekarang masih terdampar di divisi kasta sudra.
Jadi ingat obrolan di warung kopi, sewaktu lalu. Berdiskusi mengenai kenapa suporter dengan sengaja diciptakan? Kenapa klub dibiayai dengan dana APBD? Kenapa ketua PSSI yang waktu itu terpidana, bersikeras kepala mempertahankan jabatannya? Apa hubungan antar penguasa, suporter, dan keseimbangan sosial?
- Televisi: 'Preeetttttttt'... babak pertama berakhir.
- Kananku: setelah berkomentar yang terakhir kali. Beranjak pergi, mungkin melanjutkan pekerjaan yang ditunda atau tertunda.
- Kiriku: Hanya bergeser beberapa koordinat dari titik semula.
- Aku: Menyeruput kopi, menghisap batang rokok. Menyadari kalau penonton yang lain, telah bubar teratur tanpa rusuh. hehe...
Hmmm... kondisi di sekitarku mulai terasa kondusif. Aku hanya butuh sebentar senyap saja. Sesekali melirik ke tv, masih jeda menunggu siaran babak kedua. Sepertinya plot iklan untuk program olahraga, masih menjadi lumbung bagi stasiun televisi.
Akhir-akhir ini, beberapa klip Commercial Break yang hadir terkesan memaksakan diri dengan adanya moment World Cup 2010 di Afrika Juni nanti. Kebanyakan konsep iklan yang ada hanya parodi. Dari produk makanan ringan, jamu, obat, operator seluler dll.
Sekilas ku perhatikan, konsep dan telling story dari iklan terasa sangat realis. Cerita klip tidak jauh beda dengan kondisi persepakbolaan Nasional. Coba lihat, iklan yang menampilkan pemain yang melakukan selebrasi kemenangan dengan melepas kaos. ternyata di punggungnya ada bekas kerokan. Di iklan yang lain, pemain yang gagal melakukan tendangan penalti, timnya malah melakukan selebrasi. Dan banyak yang lainnya. Memang konsepnya absurd, agar mudah diingat oleh pemirsa. Pesan brand yang diiklankan akan tepat sasaran. Klip iklan yang berkelas dengan aksi, audio dan visual, cuma iklan rokok.
Yahh.. begitulah fakta yang ada di dunia televisi (iklan) kita. simulakrum murni!!!
Sore, jam setengah lima. Ada sms dari teman, ngajak cabut sebentar! Begitulah...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar