Senin, 10 Mei 2010

Buku 'All About Jews'


Judul : All About Jews
Penulis : Wang Xian Jun
Penerbit : Pustaka Solomon, Yogyakarta
Hal : 163 Halaman

Buku ini, tadi malam aku beli (11/05/2010) di salah satu toko buku di Surabaya tepatnya di Uranus. Buku ini diletakkan pada bagian buku baru. Tanpa sengaja aku melirik buku ini, karena ada tulisan 'Jews'. Di sampul depan ditemukan tulisan 'The Secret history of The Most Intelligent Nation in the World'. Desain sampul sangat menggoda, dengan tulisan judul yang ditulis besar mendominasi sampul. Backround sampul hitam dengan bingkai coklat dipermanis dengan warna emas pada judul.

Selain tulisan dan kemasan sampul yang menarik dilengkapi dengan gambar yang meski tidak berwarna dan sub judul didepan sampul dan tulisan belakang sampul yang memprovokasi. Bangsa Yahudi/Israel bagiku tetap menjadi sebuah misteri. Selain bangsa yang diklaim sebagai bangsa tercerdas di dunia, di dalam Al-Qur'an (Panduan hidup dan mati yang aku yakini) bangsa Yahudi digambarkan sebagai bangsa yang dianugeahi berkah (kelebihan) yang luar biasa, dan kisah tragisnya.

Memang tak bisa dipungkiri, keunggulan bangsa ini dalam merubah bentuk dan gerak sejarah benar terasa. Anda mungkin kenal siapa itu Albert Einstein, Karl Marx, pencipta Google, Facebook, Bill Gates, Steve Jobs, Steven Spielberg, George Lucas dan lain sebagainya. Tanpa anda sadari dan suka atau tidak, karya kreasi yang ada di sekitar kita saat ini adalah buah pemikiran dan kreativitas dari anak cucu bangsa Yahudi.

Akhirnya, aku putuskan untuk membeli buku ini. Keputusan yang didasarkan pada kedahagaan informasi tentang bangsa Israel, dan penyeimbang dari apa yang telah aku pahami dari cerita sejarah dan AlQur'an tentang bangsa ini. Kekaguman terhadap karya jenius dari beberapa tokoh di berbagai bidang yang aku kenal. Meskipun ada paradox di sini, di diriku.

Ekspektasiku terlalu besar terhadap buku ini, meski tanpa kata pengantar baik dari pnerbit maupun dari penulis. Buku yang diterbitkan dan didistribusikan sebagai cetakan I April 2010. Setidaknya ada informasi baru terlebih informasi historis, pembagian etnis, atau studi genetika.

Awalnya (Bab 1), penulis memaparkan sejarah sejarah umum apa itu bangsa Yahudi, sejarah baik secara etnografi, sejarah Negara Israel dan sebagainya. Karena fokus pengetahuanku bukan pada bidang sejarah dan etnografi ada beberapa hal menarik dan baru bagiku. Tapi seterusya, ketika membaca halaman demi halaman. Aku merasa terganggu dengan cara penyampain penulis terhadap buku ini. Dalam pikiranku hanya ada 'kok kayak gini ya??', 'Nyesal aku beli ini buku!!!', hingga akhirnya aku menulis diblog ini.

Ketidaknyaman dalam membaca, dapat anda temukan seringkali penulis menggunakan kata Yahudi, 'Yahudi dan Yahudi' atau 'Yahudi dan Yahudi'. Karena seringnya penulis menggunakan kata Yahudi yang tanpa kejelasan, aku malah bingung sendiri apa yang ingin disampaikan si penulis. Seolah-olah penulis tidak memberikan ruang imajinasi kepada pembaca, bahkan berupaya mengambil alih pikiran pembaca dengan kata Yahudi. Entah apa yang dimaksud??? (gak jelasss).

Kekurangan lainnya atau hal yang mengganggu, penulis dalam menjelaskan penyebaran populasi bangsa Yahudi ke suatu tempat. Hanya menuliskan kata Yahudi Selatan, Yahudi Barat, Timur dan Utara tanpa menstimulus pembaca dengan sejarah tempat dan posisi sekarang. Bagi pembaca pemula dengan jenis buku sejarah seperti ini, akan menimbulkan kebingungan. Parahnya, akan menstigma bacaan sejarah adalah bacaan yang sulit.

Entahlah, apakah ini kesalahan cetak, atau kelalaian editor atau memang kedangkalan penulis. Anda bisa mengecek hal. 35, ketika penulis menggambarkan hubungan antara bangsa Yahudi yang berada di bawah kekuasaan Muslim biasa disebut dengan kafir Dzimmi. Teks yang tertulis sungguh tidak dapat dipahami. Lihat juga halaman 41, lanjutan pemaparan tentang data/daftar migrasi bangsa Yahudi (hal. 39). Pada poin 11, yang bermaksud Revolusi Islam di Iran (1979) yang menyebabkan terusirnya bangsa Yahudi dari Iran. saya akan menuliskan secara lengkap poin 11:

"11. Revolusi Yahudi di Iran memaksa banyak orang Yahudi Iranian untuk melarikan diri ke Iran. Banyak pengungsi ditemukan di Yahudi (terutama Los Angeles, California) dan Yahudi. Kmunitas-komunitas kecil dari Yahudi persia. Tinggal di Kanada dan Yahudi Barat."

Seandainya ini dibaca oleh pembaca pemula yang tidak mengenal sejarah Islam dan aturan hukum yang berlaku pada masa pemerintahan Islam di daerah yang terdapat orang Yahudinya. Yang ada hanya pemahaman distorsi dan menstigma Islam yang negatif.

Terus terang buku ini mengecewakan. Kesabaranku pada buku ini hanya dapat bertahan pada bab 1.

Entahlah, kekacaun penyajian pada isi sebenarnya kesalahan siapa? Editorkah, penerbit atau penulisnya sendiri. Tapi, jika anda membaca profil penulisnya. Pada kalimat awal anda akan menemukan kalimat yang akhirnya terkesan hiperbola , ‘Wang Xiang Jun adalah manusia multi skill …..’ mungkin anda akan kaget sebagaimana halnya aku . Penulis yang mempunyai 2 gelar master dan embel-embel manusia multi skill, lalai dalam penyajian isi yang seharusnya lebih ilmiah. Entahlah.. yang pasti saranku, daripada uang anda melayang percuma dengan beli buku ini. Lebih baik dibawa buat ngopi aja di bonekxx.....

Minggu, 09 Mei 2010

Bla... bla... dan begitulah!


Mata ngantuk berat, biar tidak lepas akan waktu. Kutahan. Sembari menunggu waktu, aku iseng menyalakan 'kotak ajaib'. Secara kebetulan, mengudara program 'Kick Andy' edisi tentang anak berbakat dalam musik, khususnya piano. Kebetulan tak terbantahkan, aku baru selesai nonton film The Pianist (2002, Roman Polanski; director and Adrien Brody; pemeran utama).

Biar tidk terlalu memaksa mata menderita, ku putuskan ke warung kopi alternatif..
Di warung, tayangan tv siaran langsung sepakbola liga Indonesia antara Persebaya Vs Persikabo Bojonegoro.Telah menjadi rahasia umum, bahwa Persebaya terancam degradasi dari divisi utama musim 2009-2010.

Selesai memesan kopi, secepatnya mengisi bangku yang lengang. Space Antara dua pendukung Persebaya, tentu karena warung kopi berpijak di geografi Surabaya yang meskipun berkepemilikan oleh 'Arek' Gresik (yang punya jagoan sendiri di LI). Nampaknya, dua bonek di sampingku lebih 'veteran' dari pengunjung warung lainnya yang secara emosional dan spontan mendukung Surabaya alias Persebaya. Karena sebagian besar penonton yang lain mahasiswa yang pendatang. Jadi, hanya dua orang bonek inilah yang lebih 'eksis' pada moment itu.

Beginilah kondisi ku, aku di antara dua orang yang saling sahut menyahut berkomentar layaknya berbalas pantun. Veteran di sebelah kananku tampilan lebih sedikit klimis, potongan rambut ala potongan nyentrik terbaru Ahmad Dhani. Sepertinya, seorang 'makelar'. Maklum, di tengah seringnya terjadi PHK saat ini (pasca Perjanjian perdagangan bebas ACFTA resmi dimulai). Yang di sebelah kiri, lebih tampak seperti korban dari PHK. Atau seperti tidak pernah mengenal apa itu kata PHK. Tebak sendiri aja lah apa maksudnya....

Gigiku mendadak sakit, ngilu. Kepala agak bertambah berat.

- Televisi: (Terjadi pelanggaran oleh pemain)

- Kiri & Kananku: Saling berkomentar apa yang terjadi. Berasumsi, apa yang akan dilakukan oleh wasit, memberi kartu atau tidak (tampak sekali, krisis kepercayaan). Yang kiri, 'ngotot' wasit akan memberi kartu kuning. Sedangkan kanan, berpendapat sebaliknya Aku, menyeruput kopi.

- Kiriku: Mengumpat (khas arek suroboyo)... berlagak mengambil peran komentator yang ada di TV. Bla.. blaa.. blaa (Sepertinya, dia hafal beberapa nama pemain Persebaya dan lawan. Cuma beberapa, selebihnya diam).

- Kananku: Mengoceh profil pemain berumur. Sepertinya dia mengesankan diri, gibol sejati.

- Aku: Mengambil rokok sym soe ku, menyalakannya. dan... Hufff!!!

- Kananku: berkomentar sekenanya tentang wasit. 'awak e kayak personil densus 88, seneng majakin wong tok'
- Kiriku: bukan menyahut umpat dari veteran di kananku. Malah sekali lagi mengumpat, karena tendangan pemain persebaya luput sasaran.
- Aku: Hanya masang tampang 'khusuk' tepatnya seolah-olah, melototin tv.

- Kananku: Bla... Blaaa...
- Kiriku: Bla.. Blaa...
- Aku: melirik jam di tangan..

- Kiriku: Meracau tak karuan. Sampai pada poin pembicaraan, taruhan. Ternyata beliau memasang taruhan. Berpihak atas kemenangan Persebaya.
- Kananku: Menanggapi dengan sinis. Berkenaan dengan nilai taruhan. Kedengaran jelas, sok berpengalaman
- Kiriku: 'Berapologis'
- Aku: Hanya melirik koran yang ada di depanku. Malas mendongak ke TV, yang jelas sekali tidak ada yang menarik dari permainan bola Indonesia. Bukan karena tidak Nasionalis. Di otakku, bola Indonesia gampang ditebak endingnya. Rusuh suporter, pemain yang cepak lelah (permasalahan klasik fisik pemain), teknik permainan yang tidak elegan (mental dan skill), pengurus PSSI yang bermasalah, dan lain dan sebagainya.... Bola di Indonesia, masih belum naik kelas. Hasil pertandingannya pun penuh prasangka. Yang pasti dari semua alasan yang ada, klub favoritku Barito Putera sampai sekarang masih terdampar di divisi kasta sudra.

Jadi ingat obrolan di warung kopi, sewaktu lalu. Berdiskusi mengenai kenapa suporter dengan sengaja diciptakan? Kenapa klub dibiayai dengan dana APBD? Kenapa ketua PSSI yang waktu itu terpidana, bersikeras kepala mempertahankan jabatannya? Apa hubungan antar penguasa, suporter, dan keseimbangan sosial?

- Televisi: 'Preeetttttttt'... babak pertama berakhir.
- Kananku: setelah berkomentar yang terakhir kali. Beranjak pergi, mungkin melanjutkan pekerjaan yang ditunda atau tertunda.
- Kiriku: Hanya bergeser beberapa koordinat dari titik semula.
- Aku: Menyeruput kopi, menghisap batang rokok. Menyadari kalau penonton yang lain, telah bubar teratur tanpa rusuh. hehe...

Hmmm... kondisi di sekitarku mulai terasa kondusif. Aku hanya butuh sebentar senyap saja. Sesekali melirik ke tv, masih jeda menunggu siaran babak kedua. Sepertinya plot iklan untuk program olahraga, masih menjadi lumbung bagi stasiun televisi.

Akhir-akhir ini, beberapa klip Commercial Break yang hadir terkesan memaksakan diri dengan adanya moment World Cup 2010 di Afrika Juni nanti. Kebanyakan konsep iklan yang ada hanya parodi. Dari produk makanan ringan, jamu, obat, operator seluler dll.

Sekilas ku perhatikan, konsep dan telling story dari iklan terasa sangat realis. Cerita klip tidak jauh beda dengan kondisi persepakbolaan Nasional. Coba lihat, iklan yang menampilkan pemain yang melakukan selebrasi kemenangan dengan melepas kaos. ternyata di punggungnya ada bekas kerokan. Di iklan yang lain, pemain yang gagal melakukan tendangan penalti, timnya malah melakukan selebrasi. Dan banyak yang lainnya. Memang konsepnya absurd, agar mudah diingat oleh pemirsa. Pesan brand yang diiklankan akan tepat sasaran. Klip iklan yang berkelas dengan aksi, audio dan visual, cuma iklan rokok.

Yahh.. begitulah fakta yang ada di dunia televisi (iklan) kita. simulakrum murni!!!

Sore, jam setengah lima. Ada sms dari teman, ngajak cabut sebentar! Begitulah...