Waktu itu, aku bercerita tentang ironi melalui angin..
Padamu yang ku kenal namamu dari helai daun yang jatuh di pelataran rumahku. Setahun yang lalu. Daunmu segar meski ada samar luka di sana. Daunmulah yang membujukku untuk bercerita tentang ironi.
Daunmu yang datang dari selatan, jatuh di pelataran rumahku di utara.
Dan aku pun bercerita melalui angin,,,
Ku bayangkan kau bersila khusyu'sambil memegangi luka yang belum sembuh tanpa sepengetahuanku.
Ku bayangkan kau sibuk merapikan pasir menyiapkan pantai,sesekali mengutip cahaya remang purnama
Lalu kau melemparnya ke laut.
Aku misteri, kau asing. kau misteri dan aku asing..
Lalu apa salahnya ku lempar sauh padamu. Aku terus bercerita tentang terang yang meredup. Tentang putih yang menghitam,, tentang adanya antara putih dan hitam.
Tentang aku yang misteri dan sepi.. padamu yang asing dan luka.
Ya, aku terperangkap sepi di utara. Dan kau terluka di selatan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar